Sabtu, 25 Desember 2010

MAKALAH KEMISKINAN

KATA PENGANTAR


Segala puji hanya milik Allah. Sholawat dan salam kepada Rasulullah. Berkat limpahan rahmat-Nya penyusun mampu menyelesaikan tugas makalah ini.
Dalam makalah ini kami akan membahas masalah Kemiskinan yang didalamnya kami mencoba untuk membahas tentang teori pendukung kemiskinan pengertian kemiskinan, Penyebab kemiskinan, Karakterisrik ekonomi penduduk miskin, Tiga bentuk perangkap kemiskinan dan Kemiskinan di Dunia Ketiga serta kami lampirkan angket yang menjadi objek penelitian dalam masalah kemiskinan.
Semoga makalah ini bermanfaat untuk memberikan kontribusi kepada Mahasiswa dan Mahasiswi IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Dan tentunya makalah ini masih sangat jauh dari sempurna. Untuk itu kepada pembimbing kami minta masukannya demi perbaikan pembuatan makalah kami di masa yang akan datang.

Cirebon, Desember 2010
Penyusun,

DAFTAR ISI

Kata Pengantar
Daftar Isi
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Masalah
BAB II TEORI YANG MENDUKUNG
1. Sayogya, 1997
2. Gardu Taskin, 1998
3. Somantri Confusion, 1999
4. Siswanto, 1998
5. Soeiti, 1998
6. Simon, Schum Peter, 1990
7. Ehrlich, 1981
8. Peter, 1990
BAB III PEMBAHASAN
A. Pengerian Kemiskinan
B. Karakterisrik ekonomi penduduk miskin
C. Tiga bentuk perangkap kemiskinan
D. Kemiskinan dan Kesenjangan
E. Kemiskinan di Dunia Ketiga
BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran dan Kritik
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia merupakan Negara yang jumlah penduduknya terbanyak dan menempati posisi ke 4 didunia. Dengan adanya jumlah penduduk yang banyak akan menimbulkan beban dan masalah bagi Negara.
Contoh : kemiskinan, kriminalitas dan kelaparan, namun masalah yang paling vital adalah kemiskinan merupakan masalah yang harus diminimalisir karena kemiskinan akan menimbulkan berbagai macam persoalan akan kemiskinan merupakan akar dari semua masalah yang dihadapi Negara saat ini.
Berbagai upaya yang dilakukan pemerintah saat ini, namun pada halnya kemiskinan belun juga teratasi hingga kini.
B. Rumusan Masalah
A. Apa yang dimaksud kemiskinan
B. Jelaskan karakteristik ekonomi penduduk miskin
C. Sebutkan tiga bentuk perangkap kemiskinan.
D. Apa kaitannya kemiskinan dan kesenjangan
E. Bagaimana kemiskinan didunia ketiga.
C. Tujuan Masalah
A. Mengetahui pengertian kemiskinan
B. Menjelaskan karakteristik ekonomi penduduk miskin
C. Menyebutkan tiga bentuk perangkap kemiskinan.
D. Memaparkan kemiskinan dan kesenjangan
E. Menguraikan kemiskinan didunia ketiga.

BAB II
TEORI YANG MENDUKUNG
Teori - teori Tentang Kemiskinan
1. Menurut Sayogya, 1997 : Mengatakan bahwa alat ukur pendapatan perkapita dan alat ukur krbutuhan relative yang dianggap lebih maju masih juga memiliki kelemahan, maka dikembangkan alat ukur kemiskinan lain yang mendasarkan diri atas batas minimal jumlah kalori yang dikomsumsi per orang dan diambil persamaannya dengan beras.
2. Gardu Taskin, 1998 : Kepedulian pemerintah terhadap penanggulangan kemisinan dapat dilihat melalui program gerakan terpadu penanggulangan kemiskinan.
3. Somantri Confusion, 1999 : Pemberdayaan masyarakat digunakan secara luas oleh berbagai lapisan masyarakat. Digunakan seperti pembuat kebijakan kalangan praktisi pelaksanaan program atau protek petugas sosial dan kelompok professional.
4. Siswanto, 1998 : Kemiskinan adalah ketidakmampuan memenuhi kebutuhan pokok, sehingga ia mengalami kesusahan, kesengsaraan atau kemelaratan dalam setiap langkah hidupnya.
5. Soeiti, 1998 : Sumber daya alam adalah semua benda yang merupakan hadiah alam, baik ada dipermukaan tanah atau yang menyimpan didalamnya untuk dipergunakan dalam proses produksinya.
6. Simon, Schum Peter, 1990 ) : Pandangan optimis yang berpendapat bahwa penduduk adalah aset yang memungkinkan untuk mendorong pembangunan ekonomi dan promosi inovasi teknologi dan institusional
7. Ehrlich, 1981 : Pandangan pesismis yang berpendapat bahwa penduduk dapat mengantarkan dan mendorong terjadinya pengurasan sumberdaya, kekurangan tabungan dan kerusakan lingkungan.
8. Peter, 1990 ) : Pandangan optimis ase yang memungkinkan untuk mendorong perkembangan ekonomi dan promosi inovasi teknolog

BAB III
PEMBAHASAN
A. Pengertian Kemiskinan
Ketidak mampuan memenuhi kebutuhan pokok sehingga ia mengalami kesusahan, kesengsaraan atau kemelaratan dalam setiap langka kehidupannya
( Siswanto, 1998 )
Kemiskinan timbul dari berbagai faktor yang setiap faktornya memerlukan pananganan khusus.
1. Terbatasnya sumber daya alam pada hakikatnya adalah karunia tuhan
Sumber daya alam adalah semua benda yang merupakan hadiah alam, baik ada dipermukaan tanah atau yang menimpan didalamnya untuk dipergunakan dalam prosos produksi ( Soeiti, 1998 )
Sumber daya alam bukanlah pilihan atau buatan manusia, tetapi sudah tersedia dibumi dan manusia dapat mengambil manfaat darinya.
Kalau sumber daya alam ini buatan seseorang atau bangsa, tentu Negara yang miskin sumber daya alam akan berusaha untuk membuatnya.
Pengolahan yang kurang baik, selain tidak dapat memberikan manfaat yang optimal juga tidak dapat dilestarikan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
2. Terbatasnya Sumber Daya Manusia
Bahwa sumber manusia alam tidak dengan sendirinya menjadi sediaan yang langsung bermanfaat untuk menutupi kebutuhan hidup manusia didaerah atau Negara dengan sumber daya manusia.
Tingkat kerendahan dan tingkat kemiskinan disuatu Negara tergantung pada dua faktor utama yakni :
1. Tingkat pendapatan Nasional rata-rata
2. Lebar sempitnya Kesenjangan
Selama dasawarsa 1970-an pada saat minat dan perhatian bagi masalah kemiskinan tengah meningkat, para ahli ekonomi pembangunan mulai berusaha mengukur luasnya atau kadar perannya didalam suatu Negara dan antar Negara dengan cara menentukan atau menciptakan suatu batasan yang lazim disebut sebagai garis kemiskinan.
Konsep dimasukan untuk menentukan tingkat pendapatan minimum yang cukup untuk memenuhi kebutuhan fisik, minimum setiap orang berupa kecukupan makanan, pakaian serta perumahan sehingga dapat menjawab kelangsungan hidupnya.
Oleh karena itu, para ahli ekonomi cenderung membuat perkiraan yang serba konservatif atau sederhana tentang kemiskinan dunia dalam rangkaian menghindari perkiraan yang berlebihan.
Sehubungan dengan sedemikian terbatasnya informasi-informasi yang tersedia, maka hal yang relativ paling baik yang bisa dilakukan terhadap erbandingan data statistik antar Negara tersebut adalah mencoba mengukur persentase kemiskinan absolut terhadap total penduduk Negara yang bersangkutan.
Satu hal lagi kiranya yang masih perlu dijelaskan mengenai tidak adanya kemiskinan absolut dalam jumlah besar. Dengan demikian masalah-masalah kemiskinan dan ketimpangan distribusi pendapatan tersebut sesungguhnya tidak semata-mata disebabkan oleh proses-proses pertumbuhan ekonomi yang alamiah.
B. Karakteristik ekonomi kelompok penduduk miskin
Jika distribusi yang sangat tidak merata akan menghasilkan kemiskinan absolut yang parah, akan tetapi sebagaimana yang telah diungkapkan tingginya tingkat pendapatan perkapita tidak menjamin labih rendahnya tingkat kemiskinan absolut.
Upaya – upaya kemiskinan melalui serangkaian kebijakan dan rencana yang langsung terarah kepada kemiskinan tampaknya akan lebih efektif baik itu dalam jangka pendek maupun jangka panjang 3 efek lingkaran perangkap kemiskinan terhadap pembangunan ekonomi.
Perangkap kemiskinan adalah serangkaian kekuatan yang saling mempengaruhi secara sedemikian rupa sehingga menimbulkan kemiskinan sering didefinisikan dengan kekurangan, terutama kekurangan bahan pokok. Seperti pangan, kesehatan, sandang, papan dan sebagainya.
Keadaan disuatu Negara akan tetap miskin dan akan tetap mengalami banyak
kesukaran untuk mencapai tingkat pembangunan yang lebih tinggi.
Dalam mengemukakan teori tentang lingkaran kemiskinan, perangkap kemiskinan pada hakikatnya nurkse berpendapat bahwa kemiskinan bukan saja disebabkan oleh ketiadaan pembangunan pada masa lalu tetapi juga menghadirkan hambatan pembangunan dimasa yang akan datang.
Menurut pendapatnya perangkap kemiskinan yang terpenting adalah keadaan-keadaan yang mnyebabkan timbulnya hambatan terhadap terciptanya tingkat pembentukan modal yang tinggi.
Jad menurut nurkse terdapat dua jenis lingkaran perangkap kemiskinan yang menghalangi Negara berkembang mencapai tingkat pembangunan yang pesat, dari segi penawaran modal dan dari segi permintaan modal.
C. Tiga bentuk Perangkap Kemiskinan
Dari segi penawaran modal lingkaran kemiskinan, perangkap kemiskinan keadaan ini selanjutnya akan dapat menyebabkan suatu Negara menghadapi kekurangan barang modal dan dengan demikian tingkat produktivitas akan tetap rendah di negara – negara miskin perangsang untuk melaksanakan penanaman modal redah karena luas pasar untuk berbagai jenis barang terbatas dan hal yang belakangan disebutkan ini disebabkan oleh produktivitas yang rendah.
Di Negara miskin perangsang untuk melaksanakan penanaman modal, corak lingkaran perangkap untuk melaksanakan penanaman modal rendah karena luas pasar untuk berbagai jenis barang terbatas dan hal belakangan disebutkan ini disebabkan oleh pendapatan masyarakat yang rendah.
Dalam bagian lain analisis nurkse ia menyatakan bahwa peningkatan pembentukan modal bukan saja dibatasi oleh lingkaran perangkap kemiskinan seperti yang dijelaskan diatas, tetapi juga oleh adanya International Demonstration Effect.
Andai kata keadaan sedemikian berlaku maka International Demonstration Effect akan memperburuk lagi keadaan lingkaran perangkap kemiskinan yang dihadapi oleh suatu Negara berkembang.
Lingkaran perangkap kemiskinan ini, Merk dan Baldwn mengemukakan pula suatu lingkaran kemiskinan lain. Perangkap kemiskinan timbul dari hubungan saling mempengaruhi antara keadaan masyarakat yang masih terbelakang dan tradisional dengan kekayaan alam yang belum dikembangkan.
Di Negara berkembang kekayaan alam belumlah sepenuhnya diusahakan dan dikembangkan, karena tingkat pendidikan msyarakat masih relative rendah, tenaga ahli yang diperlakukan jumlahnya terbatas dan mobilitas seuber daya juga terbatas.
Kritik terhadap teori perangkap kemiskinan
Inti kritik Bauer mengatakan adalah tidak benar bahwa Negara berkembang terjerat dalam suatu lingkaran perangkap kemiskinan dan satagnasi. Dia selanjutnya mengatakan, andai kata teori itu benar, individu diberbagai pelosok dunia tidak akan pernah mencapai tingkat kekayaan dan kesejahteraan seperti yang telah mereka capai sekarang ini. Untuk membuktikan ia mengemukakan beberapa fakta empiris.
Pendapat yeng mengatakan bahwa International Demonstration Effect akan memperburuk keadaan lingkaran perangkap kemiskinan, karena akan lebih memperkecil tingkat tabungan dan penanaman modal yang dapat dilakukan dan pada akhirnya akan memperlambat pembangunan juga disangkal oleh Bauer.
Hubungan tersebut akan mengembangkan pandangan baru, teknik produksi baru, sikap dan cara baru dalam mengembangkan tanaman baru untuk eksport.
Pada akhirnya keadaan itu akan memperlambat laju pembangunan ekonomi yang dicapai. Dengan demikian kenaikan tingkat pendapatan akan merangsang penduduk di Negara berkembang untuk bekerja lebih giat.
Jelas dapat dilihat bahwa antara Bauer dan para pendukung International Demonstration Effect terdapat perbedaan pandangan mengenai pengaruh dari hubungan dengan dunia luar terhadap usaha Negara berkembang untuk mempercepat pembangunan ekonominya.
Menurut Bauer adanya perdagangan dengan Negara maju tersebut akan menjadi perangsang untuk mempertinggi daya usaha masyarakat dan akan menaikan tingkat kegiatan ekonomi, dengan demikian tingkat perkembangan ekonomi yang dicapai akan menjadi bertambah cepat dan bukan sebaliknya.
Implikasi proyeksi penduduk terhadap pengangguran dan kemiskinan.
Ada dua pandangan yang berbeda mengenai pengaruh penduduk pada pembangunan :
1. Pandangan pesimis yang berpendapat bahwa penduduk dapat mengantarkan dan mendorong terjadinya pengurasan sumber daya kekurangan tabungan, kerusakan lingkungan, kehancuran ekologis yang kemudian dapat memunculkan masalah-masalah sosial , seperti kamiskinan, katerbelakangan dan kepalaran ( Ehrlich, 1981 ).
2. Pandangan optimis yang berpendapat bahwa penduduk adalah aset yang memungkinkan untuk mendorong perkembangan ekonomi dan promosi inovasi teknologi dan instusional ( Simon, Schum Peter, 1990 )
Setidaknya terdapat tiga alasan mengapa pertumbuhan penduduk tinggi akan memperlambat pembangunan :
1. Akan memersulit pilihan antara meningkatkan konsumsi saat ini dan intervasi yang dibutuhkan untuk membuat konsumsi dimasa mendatang semakin tinggi.
2. Di Negara yang penduduknya bergantung pada sektor pertanian, pertumbuhan penduduk mengancam keseimbangan antara sumber daya alam yang langka dan penduduk.
3. Semakin sulit melakukan perubahan yang dibutuhkan untuk meningkatkan perubahan ekonomi dan sosial.
Kajian Okita dan Kureda ( 1981 ) yang berusaha mengupas perubahan demografis ( transisi ) dan dampak terhadap pembangunan, khususnya pertumbuhan ekomoni menunjukan bahwa perubahan struktur penduduk uis kerja di Jepang, sebagai akibat pesatnya pertumbuhan penduduk berpengaruh pada perluasan kapasitas produksi perkapita dan mempunyai kontribusi cukup penting pada pertumbuhan ekomoni. Dan dari telaahan terhadap beberapa penelitian tahun 2000 diperoleh kesimpulan :
1. Pertumbuhan penduduk mempunyai hubungan kuat negatif dan signifikan terhadap laju pertumbuhan ekomoni.
2. Penurunan pesat dari fertilitas memberikan konstibusi relevan terhadap pertumbuhan kemiskinan.
Meningkatnya laju pertumbuhan penduduk yanh disebabkan oleh menurunnya mortalitas akan memicu pertumbuhan penduduk Sedangkan yang disebabkan oleh peningkatan fertilitas akan menekan pertumbuhan ekonomi.
D. Kemiskinan dan Kesenjangan
Pemerataan dan keadilan sosial pada umumnya merupakan salah satu dari tujuan utama rezim orde baru sebagai mana dikemukakan. Misalnya dalam Trilogi Pembangunan.
Bagi beberapa pihak dan selama beberapa periode, konsep ini belum termasuk penerapannya-bervariasi.
Bagi para akademis, ahli statistic di BPS dan pemerintahan “kemiskinan didefinisikan dan analisis sebagai orang yang berada dibawah garis kemiskinan yang definisinya bervariasi, sedangkan distribusi diukur dengan menggunakan kesenjangan”.
Baru-baru ini fokusnya diarahkan pada provinsi dibagian timur yang teringgal dibandingkan di daerah lain terutama di jawa dan Sumatra.
Catatan pengurangan kemiskinan di Indonesia dianggap kisah yang berhasil dimata internasional. Kemajuan Negara di puji oleh Bank dunia dan kelihatannya merupakan anggota Negara di Asia Timur yang berprospek bagus.
Bantuan minyak pada tahun 1970-an menempatkan sumber daya yang sangat besar ditangan individu yang berkuasa didalam sistem politik sentralisasi dimana sistem konstituensi miskin di edesaan hampir sama sekali tidak memiliki suara
Memberikan ringkasan gambaran dari perubahan didalam kemiskinan dan kesenjangan. Rangkaian pemerataan yang lebih panjang tidak menunjukan perubahan yang signifikan untuk Negara secara keseluruhan selama lebih dari 28 tahun. Sampai tahun 1993 bagian dari golongan termiskin, berdasarkan Gu Intile tidak banyak berubah dan tampak sedikit menurun pada akhir 1970-an, namun naik sepanjang tahun 1980-an sampai ke angka yang lebih tinggi ketimbang angka pada tahun 1969 / 70.
Untuk semua tahun, kecuali dua tahun pertama, kesenjangan lebih rendah di daerah pedesaan. Rasio urban menunjukan sedikit perubahan sepanjang periode ini, yang berpuncak pada tahun 1987 pada saat minyak berada dilevel tinggi. Sebagai akibatnya jumlah kemiskinan menurun dengan tajam : pada tahun 1993, presentasi populasi yang hidup dalam kemiskinan di daerah urban dan pedesaan adalah sekitar sepertiga dari tahun 1976, secara khusus urbanisasi yang cepat menjelaskan mengapa angka absolut dari kau miskin urban cukup banyak pada periode ini, meskipun terjadi penurunan tajam.
Dipandang dari segi presentasi, kritik terhadap dekade pada pertama masa rezim orde baru mangakui bahwa memang ada keuntungan output signifikan, namun juga menambahkan bahwa distribusi sangat buruk, kemiskinan hampir tidak berkurang.
Selain itu ia menekankan pada persoalan yang akan kita bahas sebentar lagi yaitu meningkatkan disparitas pengeluaran perkapita seperti dicatat oleh susenas dan naiknya pengeluaran konsusmsi pribadi seperti dicatat dalam laporan nasional. Ia juga berpendapat bahwa catatan susenas banyak mengabaikan berbagai aspek.
Beberpa pihak yang pada tahun 1970-an merasa pesimis, kini melihat fajar tenaga kerja tradisional yang semakin ketat bahkan kenaikan upah Riil sebuah trend yang tidak terbayangkan satu dekade sebelumnya. Lebih jauh kesimpulannya, tampaknya menjadi kenyataan katika berupa analisis kuantitatif yang lebih canggih menunjukan arah yang sama, keberatan ini mungkin melemahkan beberapa penilaian terkuat sehubungan dengan penurunan kemiskinan, namun beragam keberatan tersebut tidak menjungkirbalikan profesi fubdamental yaitu bahwa catatan ekuitas orde baru secara komfaratif adalah bagus.
1. Hasilnya tergantung kepada satu set data dan banyak dipolitisasi jelas adanya kekurangan dalam laporan data pengeluaran dikarenakan diskrepensasi yang berfluktuasi lumayan besar antara rata-rata pengeluaran dari susenas dan konsumsi perkapita personal dari laporan nasional.
2. Beberapa peneliti pedesaan, terutama para antropolog malaporkan studi kasus tentang memburuknya keadaan. Menurut analisa ini hampir seluruhnya difokuskan pada pedesaan dijawa, terlihat semakin banyaknya orang tidak punya lahan, munculnya kecenderungan kearah kuli kontrak, penerapan teknologi yang baru mengurangi kebutuhan tenaga kerja, hilangnya lembaga pedesaan tradisional yang memberikan beberapa perlindungan kepada kelompok yang paling miskin dan untuk petani kecil, akses yang tidak setara kepada teknologi, kredit dan pelayanan pemerintah. Poin yang perlu ditekankan dalam mengevaluasi data kemiskinan dan kesenjangan ditingkat makro adalah bahwa kesenjangan hanya mengacu kepada pengeluaran dan pendapatan rumah tangga.
Garis kemiskinan yang biasa digunakan di Indonesia lebih rendah ketimbang Negara-negara lain dan definisi alternativ telah menimbulkan beragam penafsiran faktor apa yang menjelaskan catatan Indonesia yang secara komparatif baik dalam hal distribusi dan pengurangan kemiskinan sejak 1996.
1. Warisan sejarah adalah konsis awal yang mendukung, karena pengalaman Indonesia tampaknya memberikan konfirmasi empiris dan proposisi bahwa kondisi awal memainkan peran kecil dalam menentukan hasil distribusional bahwa lebih sulit melakukan retdistribusi ketika proses pertumbuhan pertumbuhan ekonomi yang pesat telah dimulai.
2. Lintasan pertumbuhan Indonesia kondusif untuk hasil yang adil, setidaknya dalam dua hal penting.
3. Sektor hasil pangan secara Inheren cenderung dialokasikan dengan distribusi pendapatan dan kekayaan yang lebih merata, karena itu singkatnya sementara catatan ini dapat lebih ditingkatkan, kebijakan publik telah memainkan peran signifikan dalam mengurangi jumlah kemiskinan pertengahan 1960-an.
E. Kemiskinan di Dunia Ketiga
Hal terpenting berikutnya yang harus dikemukakan disini adalah jika kita hanya menggunakan Kurs untuk mengkonversikan pendapatan perkapita Negara tersebut kedalam satuan Dolar tanpa memperhitungkan variasi daya beli uang dimasing-masing Negara, maka ketimpangan antara pendapatan perkapita di Negara maju dan berkembang akan nampak jauh mencolok, karena perhitungan seperti itu tidak mencerminkan kenyataan yang sebenarnya
Maka para ekonom berusaha mencari ukuran indikator baru agar mereka dapat menghitung pendapatan perkapita Riil suatu Negara dengan memperhitungkan daya beli mata uangnya.
Meskipun demikian sekalipun variasi daya beli itu telah diperhitungkan, ternyata ketimpangan pendapatan perkapita Riil antara Negara maju dan berkembang masih cukup besar pertumbuhan yang memiskinkan.
Sudah jatuh tertimpa tangga inilah yang biasa disebut sebagai kasus pertumbuhan yang memiskinkan. Namun untunglah fenomena pertumbuhan memiskinkan yang mengerikan itu jarang ditemukan di dalam kenyataan sehari-hari.
Pendapatan perkapita Riil di Negara berkembang itu akan meningkat jauh lebih pesat, seandainya saja jumlah penduduknya tidak terus berkembang sebanyak sekarang.
Kemiskinan dibeberapa Negara berkembang yang paling miskin masih banyak Negara berkembang paling miskin terutama kawasan Subsahara Afrika, tetap menghadapi kemiskinan paling buruk. Masalah hutang luar negeri, stagnasi ekonomi serta semakin melebarnya jurang ketidak adilan standar hidup.
Sistem ekonomi yang telah menyebarkan keuntungan perdagangan internasional dan spesialisasi secara merata tidak dapat dikatakan tidak berfungsi sempurna apalagi disebut talah memberikan keadilan dunia yang dipenuhi oleh jutaan orang yang kelaparan, bukan saja tidak diterima dari sisi etika namun juga akan sulit mewujudkan suatu dunia yang aman dan sentosa.

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kemiskinan adalah ketidakmampuan memenuhi kebutuhan pokok, sehingga ia mengalami kesusahan, kesengsaraan atau kemelaratan dalam setiap langkah hidupnya.
Perangkap kemiskinan adalah serangkaian kekuatan yang saling mempengaruhi secara demikian rupa sehingga menimbulkan kemiskinan
Di Negara miskin perangsang untuk melaksanakan penanaman modal rendah, karena luas pasar untuk berbagai jenis barang terbatas dan hal belakangan disebutkan ini disebabkan oleh pendapatan masyarakat yang rendah.
Dalam bagian lain dari analisis nurkse, ia menyatakan bahwa peningkatan pembentukan mdal bukan saja dibatasi oleh perangkap kemiskinan seperti di jelaskan diatas, tetapi juga oleh adanya International Demonstration Effect.
Andai kata keadaan sedemikian berlaku maka International Demonstration Effect akan memperburuk lagi keadaan lingkaran perangkap kemiskinan yang dihadapi oleh suatu Negara berkembang.
B. Saran dan Kritik
Ketidak mampuan memenuhi kebutuhan pokok sehingga ia mengalami kesusahan, kesengsaraan atau kemelaratan dalam setiap langka kehidupannya, sehingga kemiskinan merajalela baik di dunia berkembang maupun di dunia maju seperti zaman sekarang ini, dan terjadi kesenjangan antara yang miskin dan yang kaya.
Tentunya makalah ini masih sangat jauh dari sempurna. Untuk itu kepada Dosen Pengampu kami minta masukannya demi perbaikan pembuatan makalah kami di masa yang akan datang.

DAFTAR PUSTAKA
1. Siswanto. 1998. Ilmu sosia dan budaya. Bandung : Eresco
2. Todaro, Michael. 1997. Pembangunan ekonomi dunia. Karta : Erlangga
3. Sagir, Soeharsono. 2008. Ekonomi Indonesia. Bandung : Prenada Media Group
4. Sukirno, Sadono. 2006. Ekonomi Pembangunan. Jakatra : Perenada Media
5. Hiil, Hal. 1994. Ekonomi Indonesia. Jakarta : Raja Grafindo
6. Hikmat, Hari. 2006. Strategi Pemberdayaan Masyarakat Humanivora. Jakatra : PNBT
7. Hartono. 1986. Pembangunan Masyarakat Desa. Jakarta : Karunka
8. Soelaman Munandar. 1986. Ilmu Sosil Dasar. Bandung : Eresco
9. Salvatore, Dominich. 1997. Ekonomi Internasional. Jakarta : Erlangga.

LAMPIRAN
Angket ini diajukan menjadi objek penelitiannya adalah anggota keluarga
10. Pernahkan membantu fakir miskin
A. Sering B. Tidak Pernah C. Jarang
Alasan : Karena orang miskin itu harus kita tolong. Kita menolong tidak pandang dia orang kaya atau miskin
11. Bentuk apakah yang diberikan
A. Uang B. Materi C. Nasehat
Alasan : Karena uang bis membeli apa yang dia inginkan.
12. Usaha apakah untuk memberikan fakir miskin
A. Materi B. Moril C. Pendidikan
Aalasan : Karena pendidikan akan memecahkan masalah yang ada didunia
13. Apakah kemiskinan bisa dihilangkan
A. Bisa B. Tidak Bisa C. Di Minimalisir
Alasan : Karena kemiskinan sulit dihilangkan, tapi bisa di Minimalisir
14. Kateori usia apakah orang miskin
A. Semua umur B. Orang tua C. Anak-anak
Alasan : Karena orang miskin itu tidak pandang umur

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar