Selasa, 21 Desember 2010

TRADISI PERKAWINAN ADAT JAWA ( MAKALAH )

KATA PENGANTAR
Dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Saya mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT, karena saya dapat menyelesaikan Makalah ISBD ini dengan lancar, itu semua merupakan kehendak dan atas izin Allah SWT.
Motivasi dan tujuan Makalah ini akan tercapai bila saya dapat menerima tegur, sapa dan saran yang bersifat Kontruktif dari bapak pengajar.
Sebagai akhir kata, saya harapkan semoga makalah ini bermanfaat untuk semuanya. Saya mohon maaf jika isi dari makalah ini jauh dari sempurna.
Akhirnya semoga Allah SWT melimpahkan taufiq dan hidayahnya kepada kita semua, serta semoga memudahkan kita semua dari segala kesulitan-kesulitannya. Amin
DAFTAR ISI
Kata Pengantar
Daftar isi
BAB I PENDAHULUAN
BAB II PEMBAHASAN
A. ADAT ISTIADAT PERNIKAHAN
1. Prosesi Pernikahan
2. Adat Malam Pertama
B. TRADISI MASA KEHAMILAN DAN PASCA KEHAMILAN
1. Tradisi Masa Kehamilan
2. Tradisi PascaKehamilan
C. TRADISI 3 BULAN DAN 4 BULAN KEHAMILAN
1. Tradisi 3 Bulan
2. Tradisi 4 Bulan
D. TRADISI TUJUH BULANAN
1. Siraman atau mandi
2. Upacara memasukkan telor
3. Upacara Bronjolan
4. Upacara ganti busana
5. Upacara memutus lilitan janur
6. Upacara memecahkan priuk dan gayung
7. Upacara minum jamu sorogan
8. Upacara nyolong Endhog
E. TRADISI KELAHIRAN BAYI
1. Mendhem Ari-ari
2. Brokohan
3. Slametan Sepasaran
4. Slametan Selapanan
5. Peringatan tedak-siten
BAB III PENUTUP
BAB I
PENDAHULUAN
Adat adalah aturan, kebiasaan-kebiasaan yang tumbuh dan terbentuk dari suatu masyarakat atau daerah yang dianggap meliliki nilai dan dijinjung serta dipatuhi masyarakat penduduknya. Di Indonesia aturan-aturan tentang segi kehidupan manusia tersebut menjadi aturan-aturan hukum yang mengikat yang disebut hukum adat.
Adat telah melembaga dalam kehidupan bermasyarakat baik berupa tradisi adat upacara dan lain-lain yang mampu mengendalikan perilaku warga masyarakat dengan perasaan senang atau bangga.
Tradisi dan adat istiadat daerah di Indonesia sangat beraneka ragam diantaranya adat yang masih dijalankan sampai sekarang yaitu : adat pernikahan, adat kehamilan menginjak 4 bulan ( ngupati ) adat kehamilan menginjak 7 bulan ( Mitoni ) dan adat setelah melahirkan anak dan lain-lain.
BAB II
PEMBAHASAN

A. ADAT ISTIADAT PERNIKAHAN
1. Prosesi Pernikahan
Perkawinan atau sering pula disebut dengan pernikahan merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah kehidupan setiap orang. Masyarakat Jawa memaknai peristiwa perkawinannya dengan menyelenggarakan berbagai upacara yang termasuk rumit. Upacara itu dimulai dari tahap perkenalan sampai terjadinya pernikahan. Tahapan-tahapan tersebut adalah sebagai berikut.
 Nontoni
Pada tahap ini sangat dibutuhkan peranan seorang perantara. Perantara ini merupakan utusan dari keluarga calon pengantin pria untuk menemui keluarga calon pengantin wanita. Pertemuan ini dimaksudkan untuk nontoni, atau melihat calon dari dekat. Biasanya, utusan datang ke rumah keluarga calon pengantin wanita bersama calon pengantin pria. Di rumah itu, para calon mempelai bisa bertemu langsung meskipun hanya sekilas. Pertemuan sekilas ini terjadi ketika calon pengantin wanita mengeluarkan minuman dan makanan ringan sebagai jamuan. Tamu disambut oleh keluarga calon pengantin wanita yang terdiri dari orangtua calon pengantin wanita dan keluarganya, biasanya pakdhe atau paklik.
 Nakokake/Nembung/Nglamar
Sebelum melangkah ke tahap selanjutnya, perantara akan menanyakan beberapa hal pribadi seperti sudah adakah calon bagi calon mempelai wanita. Bila belum ada calon, maka utusan dari calon pengantin pria memberitahukan bahwa keluarga calon pengantin pria berkeinginan untuk berbesanan. Lalu calon pengantin wanita diajak bertemu dengan calon pengantin pria untuk ditanya kesediaannya menjadi istrinya. Bila calon pengantin wanita setuju, maka perlu dilakukan langkah-langkah selanjutnya. Langkah selanjutnya tersebut adalah ditentukannya hari H kedatangan utusan untuk melakukan kekancingan rembag (peningset).
Peningset ini merupakan suatu simbol bahwa calon pengantin wanita sudah diikat secara tidak resmi oleh calon pengantin pria. Peningset biasanya berupa kalpika (cincin), sejumlah uang, dan oleh-oleh berupa makanan khas daerah. Peningset ini bisa dibarengi dengan acara pasok tukon, yaitu pemberian barang-barang berupa pisang sanggan (pisang jenis raja setangkep), seperangkat busana bagi calon pengantin wanita, dan upakarti atau bantuan bila upacara pernikahan akan segera dilangsungkan seperti beras, gula, sayur-mayur, bumbon, dan sejumlah uang.
Ketika semua sudah berjalan dengan lancar, maka ditentukanlah tanggal dan hari pernikahan. Biasanya penentuan tanggal dan hari pernikahan disesuaikan dengan weton (hari lahir berdasarkan perhitungan Jawa) kedua calon pengantin. Hal ini dimaksudkan agar pernikahan itu kelak mendatangkan kebahagiaan dan kesejahteraan bagi seluruh anggota keluarga.
 Pasang Tarub
Bila tanggal dan hari pernikahan sudah disetujui, maka dilakukan langkah selanjutnya yaitu pemasangan tarub menjelang hari pernikahan. Tarub dibuat dari daun kelapa yang sebelumnya telah dianyam dan diberi kerangka dari bambu, dan ijuk atau welat sebagai talinya. Agar pemasangan tarub ini selamat, dilakukan upacara sederhana berupa penyajian nasi tumpeng lengkap. Bersamaan dengan pemasangan tarub, dipasang juga tuwuhan. Yang dimaksud dengan tuwuhan adalah sepasang pohon pisang raja yang sedang berbuah, yang dipasang di kanan kiri pintu masuk. Pohon pisang melambangkan keagungan dan mengandung makna berupa harapan agar keluarga baru ini nantinya cukup harta dan keturunan. Biasanya di kanan kiri pintu masuk juga diberi daun kelor yang bermaksud untuk mengusir segala pengaruh jahat yang akan memasuki tempat upacara, begitu pula janur yang merupakan simbol keagungan.
 Midodareni
Rangkaian upacara midodareni diawali dengan upacara siraman. Upacara siraman dilakukan sebelum acara midodareni. Tempat untuk siraman dibuat sedemikian rupa sehingga nampak seperti sendang yang dikelilingi oleh tanaman beraneka warna. Pelaku siraman adalah orang yang dituakan yang berjumlah tujuh diawali dari orangtua yang kemudian dilanjutkan oleh sesepuh lainnya. Setelah siraman, calon pengantin membasuh wajah (istilah Jawa: raup) dengan air kendi yang dibawa oleh ibunya, kemudian kendi langsung dibanting/dipecah sambil mengucapkan kata-kata: "cahayanya sekarang sudah pecah seperti bulan purnama". Setelah itu, calon penganten langsung dibopong oleh ayahnya ke tempat ganti pakaian.
Setelah berganti busana, dilanjutkan dengan acara potong rambut yang dilakukan oleh orangtua pengantin wanita. Setelah dipotong, rambut dikubur di depan rumah. Setelah rambut dikubur, dilanjutkan dengan acara "dodol dawet". Yang berjualan dawet adalah ibu dari calon pengantin wanita dengan dipayungi oleh suaminya. Uang untuk membeli dawet terbuat dari kreweng (pecahan genting ) yang dibentuk bulat. Upacara dodol dhawet dan cara membeli dengan kreweng ini mempunyai makna berupa harapan agar kelak kalau sudah hidup bersama dapat memperoleh rejeki yang berlimpah-limpah seperti cendol dalam dawet dan tanpa kesukaran seperti dilambangkan dengan kreweng yang ada di sekitar kita.
Menginjak rangkaian upacara selanjutnya yaitu upacara midodareni. Berasal dari kata widadari, yang artinya bidadari. Midadareni merupakan upacara yang mengandung harapan untuk membuat suasana calon penganten seperti widadari. Artinya, kedua calon penganten diharapkan seperti widadari-widadara, di belakang hari bisa lestari, dan hidup rukun dan sejahtera.
 Akad Nikah
Akad nikah adalah inti dari acara perkawinan. Biasanya akad nikah dilakukan sebelum acara resepsi. Akad nikah disaksikan oleh sesepuh/orang tua dari kedua calon penganten dan orang yang dituakan. Pelaksanaan akad nikah dilakukan oleh petugas dari catatan sipil atau petugas agama.
 Panggih
Upacara panggih dimulai dengan pertukaran kembar mayang, kalpataru dewadaru yang merupakan sarana dari rangkaian panggih. Sesudah itu dilanjutkan dengan balangan suruh, ngidak endhog, dan mijiki.
 Balangan suruh
Upacara balangan suruh dilakukan oleh kedua pengantin secara bergantian. Gantal yang dibawa untuk dilemparkan ke pengantin putra oleh pengantin putri disebut gondhang kasih, sedang gantal yang dipegang pengantin laki-laki disebut gondhang tutur. Makna dari balangan suruh adalah berupa harapan semoga segala goda akan hilang dan menjauh akibat dari dilemparkannya gantal tersebut. Gantal dibuat dari daun sirih yang ditekuk membentuk bulatan (istilah Jawa: dilinting) yang kemudian diikat dengan benang putih/lawe. Daun sirih merupakan perlambang bahwa kedua penganten diharapkan bersatu dalam cipta, karsa, dan karya.
 Ngidak endhok
Upacara ngidak endhog diawali oleh juru paes, yaitu orang yang bertugas untuk merias pengantin dan mengenakan pakaian pengantin, dengan mengambil telur dari dalam bokor, kemudian diusapkan di dahi pengantin pria yang kemudian pengantin pria diminta untuk menginjak telur tersebut. Ngidak endhog mempunyai makna secara seksual, bahwa kedua pengantin sudah pecah pamornya.
 Wiji dadi
Upacara ini dilakukan setelah acara ngidak endhok. Setelah acara ngidak endhog, pengantin wanita segera membasuh kaki pengantin pria menggunakan air yang telah diberi bunga setaman. Mencuci kaki ini melambangkan suatu harapan bahwa "benih" yang akan diturunkan jauh dari mara bahaya dan menjadi keturunan yang baik.
 Timbangan
Upacara timbangan biasanya dilakukan sebelum kedua pengantin duduk di pelaminan. Upacara timbangan ini dilakukan dengan jalan sebagai berikut: ayah pengantin putri duduk di antara kedua pengantin. Pengantin laki-laki duduk di atas kaki kanan ayah pengantin wanita, sedangkan pengantin wanita duduk di kaki sebelah kiri. Kedua tangan ayah dirangkulkan di pundak kedua pengantin. Lalu ayah mengatakan bahwa keduanya seimbang, sama berat dalam arti konotatif. Makna upacara timbangan adalah berupa harapan bahwa antara kedua pengantin dapat selalu saling seimbang dalam rasa, cipta, dan karsa.
 Kacar-kucur
Caranya pengantin pria menuangkan raja kaya dari kantong kain, sedangkan pengantin wanitanya menerimanya dengan kain sindur yang diletakkan di pangkuannya. Kantong kain berisi dhuwit recehan, beras kuning, kacang kawak, dhele kawak, kara, dan bunga telon (mawar, melati, kenanga atau kanthil). Makna dari kacar kucur adalah menandakan bahwa pengantin pria akan bertanggungjawab mencari nafkah untuk keluarganya. Raja kaya yang dituangkan tersebut tidak boleh ada yang jatuh sedikitpun, maknanya agar pengantin wanita diharapkan mempunyai sifat gemi, nastiti, surtini, dan hati-hati dalam mengatur rejeki yang telah diberikan oleh suaminya.
 Dulangan
Dulangan merupakan suatu upacara yang dilakukan dengan cara kedua pengantin saling menyuapkan makanan dan minuman. Makna dulangan adalah sebagai simbol seksual, saling memberi dan menerima.
 Sungkeman
Sungkeman adalah suatu upacara yang dilakukan dengan cara kedua pengantin duduk jengkeng dengan memegang dan mencium lutut kedua orangtua, baik orangtua pengantin putra maupun orangtua pengantin putri. Makna upacara sungkeman adalah suatu simbol perwujudan rasa hormat anak kepada kedua orangtua.
 Kirab
Upacara kirab berupa arak-arakan yang terdiri dari domas, cucuk lampah, dan keluarga dekat untu menjemput atau mengiringi pengantin yang akan keluar dari tempat panggih ataupun akan memasuki tempat panggih. Kirab merupakan suatu simbol penghormatan kepada kedua pengantin yang dianggap sebagai raja sehari yang diharapkan kelak dapat memimpin dan membina keluarga dengan baik.
 Jenang Sumsuman
Upacara jenang sumsuman dilakukan setelah semua acara perkawinan selesai. Dengan kata lain, jenang sumsuman merupakan ungkapan syukur karena acara berjalan dengan baik dan selamat, tidak ada kurang satu apapun, dan semua dalam keadaan sehat walafiat. Biasanya jenang sumsuman diselenggarakan pada malam hari, yaitu malam berikutnya setelah acara perkawinan.
 Boyongan/Ngunduh Manten
Disebut dengan boyongan karena pengantin putri dan pengantin putra diantar oleh keluarga pihak pengantin putri ke keluarga pihak pengantin putra secara bersama-sama. Ngunduh manten diadakan di rumah pengantin laki-laki. Biasanya acaranya tidak selengkap pada acara yang diadakan di tempat pengantin wanita meskipun bisa juga dilakukan lengkap seperti acara panggih biasanya. Hal ini tergantung dari keinginan dari pihak keluarga pengantin laki-laki. Biasanya, ngundhuh manten diselenggarakan sepasar setelah acara perkawinan.
 Makna atau Simbol yang Tersirat dalam Unsur Upacara Pernikahan
• Ubarampe tarub (pisang, padi, tebu, kelapa gading, dan dedaunan): bermakna bahwa kedua mempelai diharapkan nantinya setelah terjun dalam masyarakat dapat hidup sejahtera, selalu dalam keadaan sejuk hatinya, selalu damai (simbol dedaunan), terhindar dari segala rintangan, dapat mencapai derajat yang tinggi (simbol pisang raja), mendapatkan rejeki yang berlimpah sehingga tidak kekurangan sandang dan pangan (simbol padi), sudah mantap hatinya dalam mengarungi bahtera rumah tangga (simbol tebu), tanpa mengalami percekcokan yang berarti dalam membina rumah tangga dan selalu sehati (simbol kelapa gading dalam satu tangkai), dan lain-lain.
• Air kembang : bermakna pensucian diri bagi mempelai sebelum bersatu.
• Pemotongan rambut : bermakna inisiasi sebagai perbuatan ritual semacam upacara kurban menurut konsepsi kepercayaan lama dalam bentuk mutilasi tubuh.
• Dodol dhawet : bermakna apabila sudah berumah tangga mendapatkan rejeki yang berlimpah ruah dan bermanfaat bagi kehidupan berumah tangga.
• Balangan suruh : bermakna semoga segala goda akan hilang dan menjauh akibat dari dilemparkannya gantal tersebut.
• Midak endhog : bermakna bahwa pamor dan keperawanan sang putri akan segera hilang setelah direngkuh oleh mempelai laki-laki. Setelah bersatu diharapkan segera mendapat momongan seperti telur yang telah pecah.
• Timbangan : bermakna bahwa kedua mempelai mempunyai hak dan kewajiban yang sama dan tidak ada bedanya di hadapan orang tua maupun mertua.
• Kacar-kucur : bermakna bahwa mempelai laki-laki berhak memberikan nafkah lahir batin kepada mempelai putri dan sebaliknya pengantin putri dapat mengatur keuangan dan menjaga keseimbangan rumah tangga.
• Dulangan : bermakna keserasian dan keharmonisan yang akan diharapkan setelah berumah tangga, dapat saling memberi dan menerima.
• Sungkeman : bermakna mohon doa restu kepada orangtua dan mertua agar dalam membangun rumah tangga mendapatkan keselamatan, dan terhindar dari bahaya.
2. Adat Malam Pertama
Adat malam pertama yaitu mempelai Pria harus mengalaskan selembar kain berwarna putih dibawah tubuh Isterinya, adat menjelaskan kain putih dibawah tubuh mempelai wanita pada saat malam pepertama memiliki makna penting, yaitu sebagai pembuktian untuk mempelai pria bahwa isterinya benar-benar masih suci atau belum pernag terjamah sebelumnya
Mungkin pembuktian ini tidak mengacu pada Ilmu Biologi yang terkait dengan selaput dara wanita, karena salah satu tanda mempelai wanita masih suci yaitu ketika pertama kali melakukan hubungan suami isteri maka ia akan mengeluarkan darah. Jadi ketika isteri mengeluarkan darah dikain putih maka pembuktian seorang suami bahwa dirinya pertama menjamah isterinya.
Bukan hanya sampai disitu, pada pagi harinya mempelai Pria akan sungkem kepada mertuanya sambil memperlihatkan kain putih pengalas sebagai pertanda bahwa dialah yang pertama mendapatkan kesucian dari purti mereka, hal ini akan membawa kebanggaan dan kehormatan bagi orang tua dan keluarga besar pihak perempuan bahwa anaknya masih suci.
Tapi sejak ilmu pengetahuan terutama mengenai selaput darah wanita semakin canggih maka telah dapat dijelaskan bahwa bisa saja keperawanan seseorang gadis itu hilang tanpa melakukan hubungan dengan siapapun. Mungkin sewaktu kecil pernah mengalami kecelakaan atau sejenisnya yang membuat selaput darah pecah, bahkan bila selaput darah seorang wanita tebal, maka bisa selaput darah tidak akan mudah ditembus pada saat malam pertama.
B. TRADISI MASA KEHAMILAN DAN PASCA KEHAMILAN
1. Tradisi Masa Kehamilan
a. Ibu hamil dan Suaminya dilarang membunuh binatang. Sebab jika itu dilakukan bisa menimbulkan cacat pada janin sesuai dengan perbuatannya itu.
b. Membawa gunting kecil / pisau / benda tajam lainnya dikantung baju si Ibu agar janin terhindar dari marabahaya
c. Ibu hamil tidak boleh keluar malam, karena banyak roh jahat yang akan mengganggu janin.
d. Ibu hamil dilarang melilitkan handuk dileher, agar anak yang dikandungnya tidak terlilit tali pusat.
e. Ibu hamiltidak boleh terhadap seseorang secara berlebihan, nanti anaknya jadi mirip seperti orang yang dibenci tersebut
f. Ibu hamil tidak boleh makan pisang yang dempet, nanti anaknya jadi kembar siam
g. Ngidam adalah perilaku khas perempuan hamil yang menginginkan sesuatu, makanan atau sifat tertentu terutama diawal kehamilannya. Jika tidak diruruti maka anaknya akan mudah mengeluarkan air liur
h. Dilarang makan nanas, nanas dipercaya dapat menyebabkan janin dalam kandungan gugur.
i. Jangan makan buah Srtowberi, karena mengakibatkan bercak-bercak pada kulit bayi.
j. Jangan makan ikan mentah agar bayinya tidak amis.
k. Jangan minum Es agar banyinya tidak besar. Minum Es atau minum dingin diyakini menyebabkan janin membesar atau membeku sehingga dikhawatirkan bayi akan sulit keluar.
l. Ibu hamil dianjurkan minum minyak kelapa ( satu sendok makan per hari ) menjelang kelahiran. Maksudnya agar proses persalinan berjalan lancar.
2. Tradisi Pasca Kehamilan / Perlakuan terhadap anak yang baru lahir
• Dipakaikan Gurita agar tidak kembung
• Tidak boleh memotong kuku bayi sebelum usia 40 hari
• Pusar ditindih koin agar tidak bodong
• Hidung ditarik agar mancung
• Dengan mengoleskan air embun dilutut bayi setiap pagi maka ia akan cepat bisa berjalan.
C. TRADISI 3 BULAN DAN 4 BULAN KEHAMILAN
1. Tradisi 3 Bulan
Kandungan menginjak 3 bulan keluarga di haruskan memakan kacang-kacangan agar calon bayi yang akan dilahirkan bisa pintas dan cerdas tapi tidak untuk kacang panjang, karena kacang panjang yang akan dimakan calon bayi yang akan dilahirkan menjadi bodoh dan tidak mempunyai pengetahuan. Selain itu juga sang Ibu diharuskan makan jambu biji, karena apabila memakan jambu biji maka calon anak yang akan dilahirkan menjadi kuat ingatannya dan mudah untuk menghafal sesuatu yang ingin dihafalkannya. Sang ibu juga tidak boleh memakan makanan yang sudah menjadi bekas makanan binatang, karena juga bisa berefek pada calon bayi yang akan dilahirkannya. Seperti kalakuan yang tidak pantas dilakukannya yang semestinya tidak dilakukan seperti tingkah laku binatang.
2. Tradisi 4 Bulan ( Ngupati )
Tradisi ngupati merupakan upacara slametan memperingati 4 bulan kehamilan. Istilah ngupat berasal dari kata kapat “Empat” artinya bahwa seorang dibuatkan keselametan berusia 4 bulan. Tradisi kupat diyakini sebagai hari dimana Allah SWT, meniupkan ruh pada jabang bayi sekaligus dicatat umurnya, matinya, rizkinya dan nasib baik maupun buruknya. Upacara ngupati ini dimulai dengan keluarga Ibu hamil membuat ketupat dan lauk pauk seperti opor ayam, sambel goring dan lain-lain.Kemudian makanan tersebut dibagikan kepada para tetangga serta sanak saudara. Kemudian upacaranya diisi dengan Do’a dan tahlil serta bacaan ayat-ayat suci seperti : Surat Maryam dan Yusuf dengan harapan bayinya kelak lahir jika perempuan seperti Maryam dan jika laki-laki seperti Yusuf baik rupa, perangai akhlak, kecantikan dan kegagahannya. Kemudian dibacakan surat Taubat, agar kelak jabang bayi bisa menjadi manusia yang selalu bertaubat dan selalu kembali kepada Allah SWT. Surat Ar-rahman agar selalu kasih dan sayang kepada orang tua, sesame dan alam semesta. Surat Al-ikhlas dengan harapan mudah-mudahan kelak bayi tauhid kuat dan kokoh.
Surat dan Ayat Al-Qur’an, untuk 4 bulanan :
• Al-Mu’minun ( Surat ke – 23, ayat 12-14 )
• Lukman ( Surat ke – 31, ayat 14 )
• Yusuf ( Surat ke – 12, ayat 1-16 )
• Maryam ( Surat ke – 19, ayat 1-15 )
• Ar-Rahman ( Surat ke – 55, ayat 1-78 )
D. TRADISI TUJUH BULANAN
Dalam tradisi Jawa, mitoni merupakan rangkaian upacara siklus hidup yang sampai saat ini masih dilakukan oleh sebagian masyarakat Jawa. Kata mitoni berasal dari kata ‘am’ (awalan am menunjukkan kata kerja) + ’7′ (pitu) yang berarti suatu kegiatan yang dilakukan pada hitungan ke-7. Upacara mitoni ini merupakan suatu adat kebiasaan atau suatu upacara yang dilakukan pada bulan ke-7 masa kehamilan pertama seorang perempuan dengan tujuan agar embrio dalam kandungan dan ibu yang mengandung senantiasa memperoleh keselamatan.
Upacara-upacara yang dilakukan dalam masa kehamilan, yaitu siraman, memasukkan telor ayam kampung ke dalam kain calon ibu oleh sang suami, ganti busana, memasukkan kelapa gading muda, memutus lawe/lilitan benang/janur, memecahkan periuk dan gayung, minum jamu sorongan, dan nyolong endhog, pada hakekatnya ialah upacara peralihan yang dipercaya sebagai sarana untuk menghilangkan petaka, yaitu semacam inisiasi yang menunjukkan bahwa upacara-upacara itu merupakan penghayatan unsur-unsur kepercayaan lama. Selain itu, terdapat suatu aspek solidaritas primordial terutama adalah adat istiadat yang secara turun temurun dilestarikan oleh kelompok sosialnya. Mengabaikan adat istiadat akan mengakibatkan celaan dan nama buruk bagi keluarga yang bersangkutan di mata kelompok sosial masyarakatnya.
Mitoni tidak dapat diselenggarakan sewaktu-waktu, biasanya memilih hari yang dianggap baik untuk menyelenggarakan upacara mitoni. Hari baik untuk upacara mitoni adalah hari Selasa (Senin siang sampai malam) atau Sabtu (Jumat siang sampai malam) dan diselenggarakan pada waktu siang atau sore hari. Sedangkan tempat untuk menyelenggarakan upacara biasanya dipilih di depan suatu tempat yang biasa disebut dengan pasren, yaitu senthong tengah. Pasren erat sekali dengan kaum petani sebagai tempat untuk memuja Dewi Sri, dewi padi. Karena kebanyakan masyarakat sekarang tidak mempunyai senthong, maka upacara mitoni biasanya diselenggarakan di ruang keluarga atau ruang yang mempunyai luas yang cukup untuk menyelenggarakan upacara.
Secara teknis, penyelenggaraan upacara ini dilaksanakan oleh dukun atau anggota keluarga yang dianggap sebagai yang tertua. Kehadiran dukun ini lebih bersifat seremonial, dalam arti mempersiapkan dan melaksanakan upacara-upacara kehamilan.
Serangkaian upacara yang diselenggarakan pada upacara mitoni adalah:
1. Siraman atau mandi merupakan simbol upacara sebagai pernyataan tanda pembersihan diri, baik fisik maupun jiwa. Pembersihan secara simbolis ini bertujuan membebaskan calon ibu dari dosa-dosa sehingga kalau kelak si calon ibu melahirkan anak tidak mempunyai beban moral sehingga proses kelahirannya menjadi lancar. Upacara siraman dilakukan di kamar mandi dan dipimpin oleh dukun atau anggota keluarga yang dianggap sebagai yang tertua.
2. Upacara memasukkan telor ayam kampung ke dalam kain (sarung) si calon ibu oleh sang suami melalui perut dari atas perut lalu telur dilepas sehingga pecah. Upacara ini dilaksanakan di tempat siraman (kamar mandi) sebagai simbol harapan agar bayi lahir dengan mudah tanpa aral melintang.
3. Upacara brojolan atau memasukkan sepasang kelapa gading muda yang telah digambari Kamajaya dan Dewi Ratih atau Arjuna dan Sembadra ke dalam sarung dari atas perut calon ibu ke bawah. Makna simbolis dari upacara ini adalah agar kelak bayi lahir dengan mudah tanpa kesulitan. Upacara brojolan dilakukan di depan senthong tengah atau pasren oleh nenek calon bayi (ibu dari ibu si bayi) dan diterima oleh nenek besan. Kedua kelapa itu lalu ditidurkan di atas tempat tidur layaknya menidurkan bayi. Secara simbolis gambar Kamajaya dan Dewi Ratih atau Arjuna dan Sembadra melambangkan kalau si bayi lahir akan elok rupawan dan memiliki sifat-sifat luhur seperti tokoh yang digambarkan tersebut. Kamajaya dan Dewi Ratih atau Arjuna dan Sembadra merupakan tokoh ideal orang Jawa.
4. Upacara ganti busana dilakukan dengan jenis kain sebanyak 7 (tujuh) buah dengan motif kain yang berbeda. Motif kain dan kemben yang akan dipakai dipilih yang terbaik dengan harapan agar kelak si bayi juga memiliki kebaikan-kebaikan yang tersirat dalam lambang kain. Motif kain tersebut adalah :
1. sidomukti (melambangkan kebahagiaan),
2. sidoluhur (melambangkan kemuliaan),
3. truntum (melambangkan agar nilai-nilai kebaikan selalu dipegang teguh)
4. parangkusuma (melambangkan perjuangan untuk tetap hidup)
5. semen rama (melambangkan agar cinta kedua orangtua yang sebentar lagi menjadi bapak-ibu tetap bertahan selma-lamanya/tidak terceraikan),
6. udan riris (melambangkan harapan agar kehadiran dalam masyarakat anak yang akan lahir selalu menyenangkan)
7. cakar ayam (melambangkan agar anak yang akan lahir kelak dapat mandiri dalam memenuhi kebutuhan hidupnya). Kain terakhir yang tercocok adalah kain dari bahan lurik bermotif lasem dengan kemben motif dringin. Upacara ini dilakukan di senthong tengah.
5. Upacara memutus lilitan janur/lawe yang dilingkarkan di perut calon ibu. Janur/lawe dapat diganti dengan daun kelapa atau janur. Lilitan ini harus diputus oleh calon ayah dengan maksud agar kelahiran bayi lancar.
6. Upacara memecahkan periuk dan gayung yang terbuat dari tempurung kelapa (siwur). Maksudnya adalah memberi sawab (doa dan puji keselamatan) agar nanti kalau si ibu masih mengandung lagi, kelahirannya juga tetap mudah.
7. Upacara minum jamu sorongan, melambangkan agar anak yang dikandung itu akan mudah dilahirkan seperti didorong (disurung).
8. Upacara nyolong endhog, melambangkan agar kelahiran anak cepat dan lancar secepat pencuri yang lari membawa curiannya. Upacara ini dilaksanakan oleh calon ayah dengan mengambil telur dan membawanya lari dengan cepat mengelilingi kampung.
Dengan dilaksanakannya seluruh upacara tersebut di atas, upacara mitoni dianggap selesai ditandai dengan doa yang dipimpin oleh dukun dengan mengelilingi selamatan. Selamatan atau sesajian sebagian dibawa pulang oleh yang menghadiri atau meramaikan upacara tersebut.
 Lambang atau makna yang terkandung dalam unsur upacara mitoni
• Sajen tumpeng, maknanya adalah pemujaan (memule) pada arwah leluhur yang sudah tiada. Para leluhur setelah tiada bertempat tinggal di tempat yang tinggi, di gunung-gunung.
• Sajen jenang abang, jenang putih, melambangkan benih pria dan wanita yang bersatu dalam wujud bayi yang akan lahir.
• Sajen berupa sega gudangan, mengandung makna agar calon bayi selalu dalam keadaan segar.
• Cengkir gading (kelapa muda yang berwarna kuning), yang diberi gambar Kamajaya dan Dewi Ratih, mempunyai makna agar kelak kalau bayi lahir lelaki akan tampan dan mempunyai sifat luhur Kamajaya. Kalau bayi lahir perempuan akan secantik dan mempunyai sifat-sifat seluhur Dewi Ratih.
• Benang lawe atau daun kelapa muda yang disebut janur yang dipotong, maknanya adalah mematahkan segala bencana yang menghadang kelahiran bayi.
• Kain dalam tujuh motif melambangkan kebaikan yang diharapkan bagi ibu yang mengandung tujuh bulan dan bagi si anak kelak kalau sudah lahir.
• Sajen dhawet mempunyai makna agar kelak bayiyang sedang dikandung mudah kelahirannya.
• Sajen berupa telur yang nantinya dipecah mengandung makna berupa ramalan, bahwa kalau telur pecah maka bayi yang lahir perempuan, bila telur tidak pecah maka bayi yang lahir nantinya adalah laki-laki.
E. TRADISI KELAHIRAN BAYI
1. Mendhem Ari-ari
Mendhem Ari-ari adalah salah satu ipacara kalahiran yang umum diselenggarakan bahkan juga dilaksanakan suku-suku atau daerah-daerah lain. Ari-ari adalah bagian yang menghubungkan antara ibu dengan bayi dalan istilah ilmiah disebut Plasema. Istilah ari-ari dalam bahasa jawa adalah Arumen / Embing-embing. Orang jawa percaya bahwa ari-ari adalah salah satu dari 4 bersaudara kembar si bayi pada asalnya. Ari-ari harus dirawat dan dijaga, misalnya tempat untuk mengubur ari-ari diberikan lampu atau penerangan lainnya sebagai symbol penerangan bagi si bayi, penerangan itu biasanya dinyalakan selama 35 hari (selapan)
Tatacara upacara ari-ari ini adalah ari-ari di cuci sampai bersih / dimasukan kendhi atau tempurung kelapa sebelum sebelum ari-ari dimasukan, alas kendhi diberi daun senthe, lalu kendhi itu ditutup lemper yang masih baru dibungkus kain kafan. Kendhi lalu digendong, dipayungi, lalu dibawa kelokasi penguburan. Lokasi penguburan kendhi harus disisi kanan pintu utama rumah. Prosesi penguburan ini harus dilakukan oleh bapak si Bayi.
2. Brokohan
Slametan pertama berhubungan lahirnya bayi dinakan brokohan, yang terdiri dari nasi tumpeng dikitari uraban dan bumbu pedas ( tanda si bayi laki-laki )dan ikan asin goreng tepung, jajanan pasar berupa ubi rebus, singkong, jagung, kacang dan lain-lain, bubur merah putih, sayur lodeh kluwir / timbul agar dinuwih ( kalau besar terpandang )
Kepercayaan jawa bahwa anak pertama sebaiknya laki-laki, agar bisa mendem jero lan mikul duwur ( Menjunjung drajat orang tuanya jika ia memiliki kedudukan baik didalam masyarakat )
3. Ketika bayi berusia 5 ( lima ) hari
Ketika bayi berusia 5 ( lima ) hari dilakukan slametan sepasaran, dengan jenis makanan sama dengan brokohan. Bedanya dalam sepasaran rambut si Bayi dipotong sedikit dengan gunting dan bayi diberi nama, misalnya Kent Risky Yuwono. Saat diteliti dialmanak jawa tentang wukunya, ternyata Kent Risky Yuwono berwuku tolu, yakni wuku ke-5 dari rangkaian wuku yang berjumlah 30 ( Tiga puluh ). Menurut wuku tolu maka Kent Risky Yuwono berdewa Batara Bayu, ramah tama walau bisa berkeras hati, berpandangan luas, cekatan dalam menjalankan tugas serta ahli dibidang pekerjaannya, kuar bergadang sampai pagi, pemberani, banyak rejekinya, dermawan, kadang suka pujian dan sanjungan yang berhubungan dengan kekayaannya.
4. Slametan selapana
Slametan selapana yaitu saat bayi berusia 35 hari, yang pada pokoknya sama dengan acara sepasaran. Hanya saja disini rambut bayi dipotong habis, maksudnya agar rambut tumbuh lebat. Setelah ini, setap 35 hari berikutnya diadakan acara peringatan yang sama saja dengan acara selapanan sebelumnya, termasuk nasi tumpeng dan irisan telur ayam rebus dan bubur merah putih.
5. Peringatan tedak-siten / tujuhlapana atau 245 hari
Peringatan tedak-siten / tujuhlapana atau 245 hari sedikit istimewa, karena untuk pertama kali kaki bayi diinjakan keatasa tanah. Untuk itu dipaelukan kurungan ayam yang dihiasi sesuai selera. Jika bayinya laki-laki, maka didalam kurungan juga diberikan mainan anak-anak dan alat tulis menulis serta lain-lainnya ( jika si bayi ambil pensil maka ia akan jadi pengarang, jika ambil buku berarti suka membaca, jika ambil kalung emas maka ia akan kaya raya dan sebagainya ) dan tangga dari batang pohon tebu untuk di naiki si bayi tapi dengan pertolongan orang tuanya. Kemudian setelah itu si Ibu melakukan sawuran duwit ( menebar uang receh ) yang diperebutkan para tamu dan anak-anak yang hadir agar memperoleh berkah dari ucapan tedak sinten.

1 komentar: