Rabu, 09 Maret 2011

KESENIAN + MAKANAN + MINUMAN KHAS CIREBON

KESENIAN KHAS CIREBON

Cirebon adalah salah satu daerah di Indonesia yang kaya akan budaya. Macam – macam budaya asli Cirebon, di antaranya tari topeng. Tari topeng adalah tari tradisional kota Cirebon yang menggunakan media topeng sebagai ciri khas dari daerah Cirebon. Sejak berdirinya kota Cirebon 640 tahun yang lalu, tari topeng sudah ada di daerah ini & mulai di kembangkan oleh para masyarakat Cirebon. Tari topeng merupakan kesenian tari asli dari Cirebon
1.      TARI TOPENG
Tari topeng adalah salah satu tarian tradisional yang ada di Cirebon. Tari ini dinamakan tari topeng karena ketika beraksi sang penari memakai topeng. Konon pada awalnya, Tari Topeng diciptakan oleh sultan Cirebon yang cukup terkenal, yaitu Sunan Gunung Jati. Ketika Sunan Gunung Jati berkuasa di Cirebon, terjadilah serangan oleh Pangeran Welang dari Karawang. Pangeran ini sangat sakti karena memiliki pedang Curug Sewu. Melihat kesaktian sang pangeran tersebut, Sunan Gunung Jati tidak bisa menandinginya walaupun telah dibantu oleh Sunan Kalijaga dan Pangeran Cakrabuana. Akhirnya sultan Cirebon memutuskan untuk melawan kesaktian Pangeran Welang itu dengan cara diplomasi kesenian.
Berawal dari keputusan itulah kemudian terbentuk kelompok tari, dengan Nyi Mas Gandasari sebagai penarinya. Setelah kesenian itu terkenal, akhirnya Pangeran Welang jatuh cinta pada penari itu, dan menyerahkan pedang Curug Sewu itu sebagai pertanda cintanya. Bersamaan dengan penyerahan pedang itulah, akhirnya Pangeran Welang kehilangan kesaktiannya dan kemudian menyerah pada Sunan Gunung Jati. Pangeran itupun berjanji akan menjadi pengikut setia Sunan Gunung Jati yang ditandai dengan bergantinya nama Pangeran Welang menjadi Pangeran Graksan. Seiring dengan berjalannya waktu, tarian inipun kemudian lebih dikenal dengan nama Tari Topeng dan masih berkembang hingga sekarang
Dalam tarian ini biasanya sang penari berganti topeng hingga tiga kali secara simultan, yaitu topeng warna putih, kemudian biru dan ditutup dengan topeng warna merah. Uniknya, tiap warna topeng yang dikenakan, gamelan yang ditabuh pun semakin keras sebagai perlambang dari karakter tokoh yang diperankan. Tarian ini diawali dengan formasi membungkuk, formasi ini melambangkan penghormatan kepada penonton dan sekaligus pertanda bahwa tarian akan dimulai. Setelah itu, kaki para penari digerakkan melangkah maju-mundur yang diiringi dengan rentangan tangan dan senyuman kepada para penontonnya.
Gerakan ini kemudian dilanjutkan dengan membelakangi penonton dengan menggoyangkan pinggulnya sambil memakai topeng berwarna putih, topeng ini menyimbolkan bahwa pertunjukan pendahuluan sudah dimulai. Setelah berputar-putar menggerakkan tubuhnya, kemudian para penari itu berbalik arah membelakangi para penonton sambil mengganti topeng yang berwarna putih itu dengan topeng berwarna biru. Proses serupa juga dilakukan ketika penari berganti topeng yang berwarna merah. Uniknya, seiring dengan pergantian topeng itu, alunan musik yang mengiringinya maupun gerakan sang penari juga semakin keras. Puncak alunan musik paling keras terjadi ketika topeng warna merah dipakai para penari.
Setiap pergantian warna topeng itu menunjukan karakter tokoh yang dimainkan, misalnya warna putih. Warna ini melambangkan tokoh yang punya karakter lembut dan alim. Sedangkan topeng warna biru, warna itu menggambarkan karakter sang ratu yang lincah dan anggun. Kemudian yang terakhir, warna merah menggambarkan karakter yang berangasan (temperamental) dan tidak sabaran. Dan busana yang dikenakan penari biasanya selalu memiliki unsur warna kuning, hijau dan merah yang terdiri dari toka-toka, apok, kebaya, sinjang, dan ampreng
Jika anda berminat untuk menyaksikan tarian yang dimainkan oleh satu atau beberapa orang penari cantik, seorang sinden, dan sepuluh orang laki-laki yang memainkan alat musik pengiring, di antaranya rebab, kecrek, kulanter, ketuk, gendang, gong, dan bendhe ini, silakan datang saja ke Cirebon. Tarian ini biasanya akan dipentaskan ketika ada acara-acara kepemerintahan, hajatan sunatan, perkawinan maupun acara-acara rakyat lainnya
Pokok – pokok Tari Topeng Cirebon ada 9 (sembilan) gerakan yaitu : Adeg – adeg
  1. Adeg-adeg Artinya kita harus berdiri dengan kokoh agar tidak tergoyahkan.
  2. Pasangan Artinya kita senantiasa memberikan suri tauladan kepada orang lain dengan berbuat kebajikan dan kebaikan.
  3. Capang Artinya agar kita selalu ringan tangan memberikan pertolongan kepada yang membutuhkan.
  4. Banting Tangan Artinya kita harus senantiasa bekerja keras.
  5. Jangkung Ilo Artinya mengukur keinginan kita dengan kemampuan yang ada.
  6. Godeg Artinya geleng kepala. Maknanya apabila kita melihat saudara kita sesama manusia yang sedang di landa kesusahan kita senantiasa menggelengkan kepala dan kemudian menolongnya sesuai kemampuan.
  7. Gendut Artinya dalam hidup ini kita jangan gemuk sendiri karena masih banyak saudara – saudara kita yang kekurangan dan hidup dibawah garis kemiskinan.
  8. Kenyut Artinya Kepincut. Maknanya kita harus kepincut kepada hal – hal yang sifatnya positif dan konstruktif.
  9. Nindak / Njanda Artinya bertindak atau berbuat. Maknanya kita senantiasa harus berbuat kepada jalan yang diridhoi Allah SWT.

Kesembilan gerakan tersebut adalah disesuaikan dengan lubang yang terdapat pada tubuh manusia, yaitu sebagai berikut :
  1. Dua lubang mata
  2. Dua lubang telinga
  3. Dua lubang hidung
  4. Dua lubang pelepasan (depan dan belakang )
  5. Satu lubang mulut

2.      SINTREN
Di tengah-tengah kawih, muncullah Sintren yang masih muda belia. Yang konon haruslah seorang gadis, karena kalau Sintren dimainkan oleh wanita yang sudah bersuami, maka pertunjukan dianggap kurang pas. Kemudian sintren diikat dengan tali tambang mulai leher hingga kaki, sehingga secara logika, tidak mungkin Sintren dapat melepaskan ikatan tersebut dalam waktu cepat. Lalu Sintren dimasukan ke dalam sebuah carangan (kurungan) yang ditutup kain, setelah sebelumnya diberi bekal pakaian pengganti. Gamelan terus menggema, dua orang yang disebut sebagai pawang tak henti-hentinya membaca doa dengan asap kemenyan mengepul. Dan Juru kawih pun terus berulang-ulang nembang.
Ketika kurungan dibuka, anehnya sang sintren telah berganti busana lengkap dengan kaca mata hitam. Setelah itu sang sintren pun akan menari. Tarian sintren sendiri lebih mirip orang yang ditinggalkan rohnya. Terkesan monoton dengan gesture yang kaku dan kosong. Dan disinilah uniknya kesenian ini. Ketika sang sintren menari, para penonton akan melemparkan uang logam ke tubuh sang penari. Ketika uang logam itu mengenai tubuhnya, maka penari sintren pun akan pingsan dan baru akan bangun kembali setelah diberi mantra-mantra oleh sang pawang.
Setelah bangun kembali, sang penari sintren pun meneruskan kembali tariannya sampai jatuh pingsan lagi ketika ada uang logam yang mengenai tubuhnya. Dan konon, ketika menari tersebut, pemain sintren memang dalam keadaan tidak sadar alias kerasukan. Misteri ini hingga kini belum terungkap, apakah betul seorang Sintren berada dibawah alam sadarnya atau hanya sekadar untuk lebih optimal dalam pertunjukan yang jarang tersebut. Terlepas dari ada tidaknya unsur magis dalam kesenian ini, tetap saja kesenian ini cukup menarik untuk disaksikan.
Bagi anda yang tertarik ingin mementaskan kesenian ini di daerah anda, setidaknya di Cirebon ada dua grup Sintren yang masih eksis dan produktif, masing masing pimpinan Ny. Nani dan Ny. Juju, yang beralamat di Jl. Yos Sudarso, Desa Cingkul Tengah, Gang Deli Raya, Cirebon, Jawa Barat. Kedua kelompok ini sering diundang pentas di berbagai kota di Indonesia, bahkan hingga ke luar negeri
3.      GEMBYUNG
Seni Gembyung merupakan salah satu kesenian peninggalan para wali di Cirebon. Seni ini merupakan pengembangan dari kesenian Terbang yang hidup di lingkungan pesantren. Konon seperti halnya kesenian terbang, gembyung digunakan oleh para wali yang dalam hal ini Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga sebagai media untuk menyebarkan agama Islam di Cirebon.
Kesenian Gembyung ini biasa dipertunjukkan pada upacara-upacara kegiatan Agama Islam seperti peringatan Maulid Nabi, Rajaban dan Kegiatan 1 Syuro yang digelar di sekitar tempat ibadah. Untuk pastinya kapan kesenian ini mulai berkembang di Cirebon tak ada yang tahu pasti. Yang jelas kesenian Gembyung muncul di daerah Cirebon setelah kesenian terbang hidup cukup lama di daerah tersebut.Gembyung merupakan jenis musik ensambel yang di dominasi oleh alat musik yang disebut waditra. Meskipun demikian, di lapangan ditemukan beberapa kesenian Gembyung yang tidak menggunakan waditra tarompet
Setelah berkembang menjadi Gembyung, tidak hanya eksis dilingkungan pesantren, karena pada gilirannya kesenian ini pun banyak dipentaskan di kalangan masyarakat untuk perayaan khitanan, perkawinan, bongkar bumi, mapag sri, dan lain-lain. Dan pada perkembangannya, kesenian ini banyak di kombinasikan dengan kesenian lain. Di beberapa daerah wilayah Cirebon, kesenian Gembyung telah dipengaruhi oleh seni tarling dan jaipongan. Hal ini tampak dari lagu-lagu Tarling dan Jaipongan yang sering dibawakan pada pertunjukan Gembyung. Kecuali Gembyung yang ada di daerah Argasunya, menurut catatan Abun Abu Haer, seorang pemerhati Gembyung Cirebon sampai saat ini masih dalam konteks seni yang kental dengan unsur keislamannya. Ini menunjukkan masih ada kesenian Gembyung yang berada di daerah Cirebon yang tidak terpengaruh oleh perkembangan masyarakat pendukungnya.
Kesenian Gembyung seperti ini dapat ditemukan di daearah Cibogo, Kopiluhur, dan Kampung Benda, Cirebon. Alat musik kesenian Gembyung Cirebon ini adalah 4 buah kempling (kempling siji, kempling loro, kempling telu dan kempling papat), Bangker dan Kendang. Lagu-lagu yang disajikan pada pertunjukan Gembyung tersebut antara lain Assalamualaikum, Basmalah, Salawat Nabi dan Salawat Badar. Busana yang dipergunakan oleh para pemain kesenian ini adalah busana yang biasa dipakai untuk ibadah shalat seperti memakai kopeah (peci), Baju Kampret atau kemeja putih, dan kain sarung.

4.      LUKISAN KACA
Konon sejak abad ke 17 Masehi, Lukisan Kaca telah dikenal di Cirebon, bersamaan dengan berkembanganya Agama Islam di Pula Jawa. Pada masa pemerintahan Panembahan Ratu di Cirebon, Lukisan Kaca sangat terkenal sebagai media dakwah Islam yang berupa Lukisan Kaca Kaligrafi dan Lukisan Kaca Wayang.
Sejalan dengan perkembangan waktu, maka perkembangan Lukisan Kaca masih terasa eksistensinya sebagai Cinderamata Spesifik Khas Cirebon. Mengapa Lukisan Kaca disebut sebagai produk spesifik? Karena Lukisan Kaca Cirebon dilukis dengan teknik melukis terbalik, kaya akan gradasi warna dan harmonisasi nuansa dekoratif serta menampilkan ornamen atau ragam hias Motif Mega Mendung dan Wadasan yang kita kenal sebagai Motif Batik Cirebon
5.      BATIK
Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Perempuan-perempuan Jawa di masa lampau menjadikan keterampilan mereka dalam membatik sebagai mata pencaharian, sehingga di masa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan eksklusif perempuan sampai ditemukannya Batik Cap yang memungkinkan masuknya laki-laki ke dalam bidang ini. Ada beberapa pengecualian bagi fenomena ini, yaitu batik pesisir yang memiliki garis maskulin seperti yang bisa dilihat pada corak Mega Mendung, dimana di beberapa daerah pesisir pekerjaan membatik adalah lazim bagi kaum lelaki
Ragam corak dan warna Batik dipengaruhi oleh berbagai pengaruh asing. Awalnya, batik memiliki ragam corak dan warna yang terbatas, dan beberapa corak hanya boleh dipakai oleh kalangan tertentu. Namun batik pesisir menyerap berbagai pengaruh luar, seperti para pedagang asing dan juga pada akhirnya, para penjajah. Warna-warna cerah seperti merah dipopulerkan oleh orang Tionghoa, yang juga mempopulerkan corak phoenix.. Bangsa Eropa juga mengambil minat kepada batik, dan hasilnya adalah corak bebungaan yang sebelumnya tidak dikenal (seperti bunga tulip) dan juga benda-benda yang dibawa oleh penjajah (gedung atau kereta kuda), termasuk juga warna-warna kesukaan mereka seperti warna biru. Batik tradisional tetap mempertahankan coraknya, dan masih dipakai dalam upacara-upacara adat, karena biasanya masing-masing corak memiliki perlambangan masing-masing.

MAKANAN & MINUMAN KHAS CIREBON
Cirebon adalah sebuah wilayah yang terletak di timur laut Provinsi Jawa Barat. Cirebon terdiri dari dua administratif pemerintahan, yaitu Kabupaten Cirebon dan Kota Cirebon. Kabupaten Cirebon terdiri dari 412 desa dan 12 kelurahan yang tersebar di 40 kecamatan. Kota Cirebon terdiri dari 5 kecamatan yaitu Kecamatan Kejaksan, Kecamatan Kesambi, Kecamatan Lemahwungkuk, Kecamatan Pekalipan, dan Kecamatan Harjamukti. Nama Cirebon berasal dari 2 kata yaitu Cai yang berarti air dan Rebon yang berarti Udang. Nama Cirebon juga berasal dari kata Caruban yang berarti Campuran. Dinamakan Caruban karena Cirebon merupakan tempat percampuran dari berbagai kebudayaan, diantaranya adalah Arab, Cina, India, Sunda, dan Jawa. yang membentuk karakteristik masyarakat Cirebon di tanah pesisir timur Provinsi Jawa Barat. Cirebon terletak di jalan raya utama yang menghubungkan Kota Jakarta dan Kota Surabaya di jalur utama pantai utara Pulau Jawa. Berkunjung ke Cirebon, tak lengkap rasanya jika tidak mencicipi kuliner tradisional Kota Udang ini. Di Kota yang berada di ujung timur laut provinsi Jawa Barat ini, dapat dijumpai berbagai makanan dan minuman tradisional khas Kota Wali ini. Empal Gentong, Sega Jamblang, Sega Lengko, Kerupuk Melarat, Tahu Gejrot, Mie Koclok, Es Cuwing dan Sirop Champolay adalah beberapa kuliner tradisional Cirebon yang telah dikenal oleh masyarakat luas.
Beberapa makanan dan minuman tradisional khas Cirebon diantaranya adalah :
  1. Empal Gentong (sejenis gulai khas Cirebon yang berwarna kuning yang ditaruh di dalam gentong atau tempat yang terbuat dari tanah liat yang berisi daging, usus atau jerohan sapi dan disajikan dengan menggunakan cabai kering yang ditaruh di dalam tabung bambu yang biasanya dijual mangkal dipinggir jalan atau berkeliling dengan menggunakan gerobag atau dongdangan yang didorong atau yang dipikul)
  2. Empal Asem (sejenis empal gentong tetapi tidak menggunakan santan dan mempunyai rasa asam yang disebabkan adanya belimbing wuluh atau belimbing sayur di dalam kuah tersebut)
  3. Mie Koclok (makanan tradisional khas Cirebon yang dibuat dengan cara mie berwarna kuning dan beberapa jenis sayuran diantaranya kol, tokol atau tauge, ditaruh di tempat atau ditaruh di wadah pembuat mie yang berbentuk silinder yang berlubang banyak yang dalam proses pembuatannya direbus dengan cara direndam di dalam wadah berbentuk kotak segiempat yang berisi air panas dan wadah pembuat mie yang berbentuk silinder yang berlubang banyak tersebut dikoclok-koclok atau dikocok-kocok dan mie tersebut disajikan di piring dan disiram dengan kuah putih kental yang terbuat dari aci dan biasanya penjual menjual dagangannya dengan cara mangkal dipinggir jalan atau berkeliling dengan menggunakan gerobag atau dongdangan yang didorong atau yang dipikul)
  4. Sega Jamblang atau Nasi Jamblang (nasi sekepalan tangan yang dibungkus dengan daun jati dan disantap dengan beberapa lauk pauk yang disajikan secara prasmanan diantaranya sambal goreng, sate kentang, dan telur puyuh)
  5. Sega Lengko atau Nasi Lengko (nasi yang disajikan dengan irisan tahu goreng, irisan tempe goreng, irisan mentimun, tauge atau tokol, daun kucai, bumbu kacang, kecap, dan ditaburi bawang goreng)
  6. Tahu Gejrot (tahu yang disajikan dengan campuran bawang dan cabe yang telah diuleg dan disajikan di wadah yang menyerupai piring kecil berbentuk hitam yang terbuat dari tanah liat dan diberi kuah berupa kecap yang dicairkan dan dijual dengan cara berkeliling dengan menggunakan gerobag atau dongdangan yang dipikul),
  7. Docang (daun singkong, tauge atau tokol yang diberi krupuk dan disiram dengan kuah dage atau kuah oncom),
  8. Terasi Udang
  9. Petis Udang
  10.  Tahu Petis (tahu yang dipotong menyilang sehingga tahu tersebut berbentuk segitiga yang disajikan dengan petis udang)
  11. Kerupuk Selangit (kerupuk yang diberi campuran serundeng),
  12. Kerupuk Melarat / Kerupuk Mares (Kerupuk berwarna-warni yang terbuat dari aci dan digoreng dengan menggunakan pasir)
  13. Kerupuk Udang (kerupuk yang terbuat dari udang)
  14. Kerupuk Rambak / Kerupuk Kulit (kerupuk yang terbuat dari kulit kerbau atau kulit sapi)
  15. Kue Tapel
  16. Pedesan Entog
  17. Gulai Entog Sirop Tjampolay (Sirop yang terbuat dari gula pasir asli dengan beraneka ragam rasa yang dikemas dalam sebuah botol)
  18. Sate Kalong (sate yang terbuat dari daging kerbau yang dijual pada malam hari dengan memakai gerobag yang dilengkapi dengan klenengan kerbau)
  19. Sate Beber (sate yang berasal dari daerah Beber)
  20. Es Cuwing (Cuwing atau sejenis gel berwarna hijau yang diolah dari daun Cincau, yang disajikan dengan santan, gula merah yang dicairkan, dan es yang sudah diserut)
  21. Caro (sejenis serabi berwarna merah yang berukuran kecil yang disajikan dengan belondo atau inti dari santan)
  22. Gado-Gado Khas Cirebon
  23.  Rujak Donggala
  24. Keripik Kodehel (sejenis keripik singkong yang berasal dari daerah Beber)
  25. Gonjing (sejenis kue pancong yang berasal dari Cirebon),
  26. Rajungan (sejenis Kepiting yang dihasilkan dari pesisir pantai Cirebon)
  27. Ijoan (sejenis Kerang Hijau dari keluarga Pelecypoda Mollusca yang dihasilkan dari pesisir pantai Cirebon)
  28. Bukur (Sejenis Kerang dari keluarga Pelecypoda Mollusca yang dihasilkan dari pesisir pantai Cirebon)
  29. Ecol (sejenis Kerang Kecil dari keluarga Pelecypoda Mollusca yang dihasilkan dari pesisir pantai Cirebon)
  30. Blekutak (sejenis Cumi -Cumi dari keluarga Cephalopoda Mollusca yang dihasilkan dari pesisir pantai Cirebon)
  31. Keca-Keci (makanan yang berbentuk seperti getuk yang dipotong-potong kecil membentuk jajaran genjang dan disajikan dengan kelapa yang diparut dan gula merah yang dicairkan)
  32. Penek (makanan yang berbentuk bulat pipih dan disajikan dengan gula merah yang dicairkan)
  33. Kojek,
  34. Sagon
  35. Pilus (kacang atom)
  36. Panjelan
  37. Tahu Tek-Tek Es Duren (es serut yang disajikan dengan buah durian dan banyak dijual dipinggir jalan dengan menggunakan gerobag atau dongdangan)
  38. Sekoteng (minuman segar yang dijual pada malam hari dan biasanya banyak dijual mangkal dipinggir jalan atau berkeliling dengan menggunakan gerobag atau dongdangan)
  39. Es Puter Halus (sejenis es krim yang dijual mangkal di pinggir jalan atau berkeliling dengan menggunakan gerobag atau dongdangan yang didorong)
  40. Sea Food (hasil laut yang dihasilkan dari pesisir pantai Cirebon),
  41. Ikan Bakar Air Tawar (ikan yang dihasilkan dari kolan atau balong yang banyak terdapat di daerah Cikalahang),
  42. Ikan Bakar Air Laut
  43. Ikan Asin Jambal Roti
  44. Ikan Asin Maleman,
  45. Ikan Asin Kuro
  46.  Ikan Tiga Waja
  47.  Es Tepak (es serut yang dipadatkan atau dimampatkan dengan menggunakan batok atau tempurung kelapa dan di atas permukaannya diberi susu dan sirop berwarna merah dan hijau)
  48. Koci (kue piramida atau sejenis panganan atau kue basah yang berbentuk piramida atau limas segiempat yang di dalamnya terdapat rebusan kacang hijau dan dibungkus dengan daun pisang batu atau pisang kelutuk dan biasanya terdapat dalam berkat atau bungkusan yang didapat oleh seseorang setelah pulang dari menghadiri kenduri)
  49. Pipis (sejenis panganan atau kue basah yang berbentuk segiempat yang didalamnya terdapat irisan pisang dan dibungkus dengan daun pisang batu atau pisang kelutuk dan biasanya terdapat dalam berkat atau bungkusan yang didapat oleh seseorang setelah pulang dari menghadiri kenduri),
  50. Coel Kangkung
  51. Bapel (kue berwarna coklat yang berbentuk segilima)
  52. Dongkal,
  53. Endog Cecek atau Telur Cecek (cemilan berbentuk bundar atau bulat berukuran kecil yang berwarna-warni)
  54. Kelepon (sejenis kue basah yang berbentuk bulat atau bundar yang di dalamnya diisi gula merah dan disajikan dengan kelapa yang diparut)
  55. Cikak (sejenis kue basah yang berbentuk bulat atau bundar yang berwarna merah),
  56. Gayam
  57.  Rempeyek (cemilan ringan yang digoreng yang dipermukaannya terdapat kacang dan kucai)
  58. Raragudig,
  59. Rarauwan
  60.  Bubur Cecek (bubur berwarna putih yang disajikan dengan irisan kulit kerbau atau kulit sapi dan diberi kelapa yang sudah diparut dan disiram dengan kuah putih)
  61. Bubur Grendul (bubur biji salak / bubur candil adalah adonan berwarna coklat yang berbentuk bulat atau bundar menyerupai biji buah salak yang terdapat di dalam gel kental berwarna coklat yang disajikan dengan santan)
  62. Bubur Kodok
  63. Bubur Ketan (bubur yang dibuat dari tepung ketan dan dicampur gula merah atau gula Jawa yang disajikan dengan santan)
  64. Bubur Pacar
  65.  Bubur Lemu (bubur sumsum adalah bubur berwarna hijau yang disajikan dengan santan dan gula jawa atau gula merah yang dicairkan)
  66.  Bubur Lolos (kue basah yang berwarna coklat dan putih yang dibungkus dengan daun pisang batu atau pisang kelutuk membentuk silinder dengan kedua ujung terbuka)
  67.  Troglos (makanan yang dibungkus dengan daun pisang batu atau pisang kelutuk dan biasanya terdapat dalam berkat atau bungkusan yang didapat oleh seseorang setelah pulang dari menghadiri kenduri)
  68.  Puntir (makanan yang dibungkus dengan daun pisang batu atau pisang kelutuk dan biasanya terdapat dalam berkat atau bungkusan yang didapat oleh seseorang setelah pulang dari menghadiri kenduri)
  69.  Emping (makanan yang terbuat dari buah melinjo atau Gnetum gnemon), Rengginang (makanan berbentuk bundar atau bulat yang terbuat dari nasi yang dikeringkan dan digoreng)
  70. Gepu
  71.  Misro
  72.  Moho
  73.  Bola-Bola (sejenis onde-onde yang berasal dari Cirebon yang berbentuk bulat atau bundar dan di permukaan sekelilingnya terdapat wijen)
  74. Gedong Gincu (salah satu jenis mangga yang banyak dibudidayakan di wilayah Kabupaten Cirebon, khususnya di Kecamatan Sedong)
  75.  Rujak Merak atau Rujak Werak (rujak yang terbuat dari irisan buah pepaya muda yang biasanya dijual mangkal dipinggir jalan atau berkeliling dengan menggunakan gerobag atau dongdangan yang didorong)
  76.  Urab-Uraban (campuran sayur-sayuran diantaranya kangkung, tauge atau tokol dan lainnya yang dicampur dengan kelapa yang diparut)
  77.  Botok Campu, Botok Dage, Botok Roti (roti yang dihaluskan yang dicampur gula dan santan, dan diberi agar-agar serta dibungkus dengan menggunakan daun pisang kelutuk atau pisang batu dan di kukus)
  78. Lobak Talam (kue talam atau sejenis kue basah yang diiris-iris membentuk kotak atau segiempat)
  79. Otokowok
  80.  Pipis Coklat (sejenis panganan atau kue basah berwarna coklat yang didalamnya terdapat irisan pisang dan dibungkus dengan daun pisang batu atau pisang kelutuk dan biasanya terdapat dalam berkat atau bungkusan yang didapat oleh seseorang setelah pulang dari menghadiri kenduri)
  81.  Jepit Merah atau Gapit Merah (cemilan berupa kue gapit yang berwarna merah dan rasanya manis)
  82.  Jepit Gurih atau Gapit Gurih (cemilan yang berbentuk pipih bundar, berwarna putih, rasanya gurih, dan terdapat beberapa variasi rasa diantaranya yaitu jepit keju, jepit kacang dan lainnya)
  83.  Beca
  84.  Opak
  85.  Cemplung
  86.  Kerupuk Gendar (kerupuk berbentuk persegi panjang yang terbuat dengan menggunakan gendar atau pengembang)
  87.  Es Serut (es yang diserut dan disajikan dengan potongan hungkwe, tape ketan, kolang-kaling, santan, gula jawa atau gula merah yang sudah dicairkan dan biasanya banyak dijual mangkal dipinggir jalan atau berkeliling dengan menggunakan gerobag atau dongdangan yang didorong)
  88.  Lantak/Encrot (sejenis panganan tradisional khas Cirebon yang berbentuk segiempat pipih yang sangat keras saat dikunyah)
  89.  Ladu (sejenis panganan tradisional khas Cirebon yang gurih dan berbentuk bintang segilima yang bertekstur agak keras)
  90.  Doplak
  91.  Klitik Jagung, Krawu Jagung
  92.  Piya-Piya (makanan tradisional khas Cirebon yang berbentuk bulat yang berisi sayuran dan udang yang digoreng)
  93.  Intip Gunungjati
  94.  Sate Bebek (sate yang terbuat dari daging bebek dan banyak terdapat di daerah Panguragan dan sekitarnya)
  95.  Teh Upet dan lain-lain.

5 komentar:

  1. Artikel ini adalah hasil karya saya yang dimuat di blog pribadi saya. Mengapa saat anda mengcopy paste, anda tdk mencantumkan sumber artikel ini? jika anda copy paste, tetapi anda tidak mencantumkan sumber aslinya, maka anda adalah plagiat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ilmu bermanfaat jika disebarluaskan, tanpa berharap imbalanatau pujian...

      Hapus
    2. itu tanda nya anda tidak menghargai karya orang lain.

      Hapus
  2. Artikel ini adalah hasil karya saya yang dimuat di blog pribadi saya. Mengapa saat anda mengcopy paste, anda tdk mencantumkan sumber artikel ini? jika anda copy paste, tetapi anda tidak mencantumkan sumber aslinya, maka anda adalah plagiat.

    BalasHapus