Minggu, 16 Januari 2011

KUMPULAN LEGENDA ( CERITA DONGENG )

MANUSIA SUKU KATA
Hari yang cerah. Raja Mahendra pergi ke hutan untuk menguji kemampuannya berburu. Ia melarang para pengawal mengikutinya masuk ke hutan. Di tengah hutan, tampak seekor kijang asyik makan rumput. Raja Mahendra langsung membidik anak panahnya.
Ah, kijang itu berhasil melarikan diri. Raja Mahendra mengejarnya. Namun ia terperosok masuk ke lubang yang cukup dalam. Ia berteriak sekeras-kerasnya memanggil para pengawal. Namun suaranya lenyap ditelan lebatnya hutan. Selagi Raja Mahendra merenungi nasibnya, ia terkejut melihat seseorang berdiri di tepi lubang.
“Hei! Siapa kau?” tanya Raja. Orang itu tak menjawab. “Aku Raja Mahendra! Tolong naikkan aku!” pintanya dengan nada keras. “Tidak!” jawab orang itu. Raja menjadi geram. Ia ingin memanah orang itu. Namun sebelum anak panah melesat, orang itu lenyap. Tak lama kemudian, jatuhlah seutas tali. Raja mengira itu pengawalnya. Namun, ternyata orang tadi yang melempar tali.
“Jadi kau mau menolongku?”
“Tidak!” jawabnya lagi. Raja menjadi bingung. Katanya tidak, mengapa memberi tali? Apa boleh buat, yang penting orang itu mau menolongnya. Raja Mahendra berhasil naik. Ia mengucapkan rasa terima kasih.
“Maukah kau kubawa ke kerajaan?” tawar Raja.
“Tidak!” jawab si penolong.
“Kalau tidak mau, terimalah beberapa keping emas.”
“Tidak!” jawabnya lagi, tetapi tangannya siap menerima.
Akhirnya Raja Mahendra sadar, bahwa orang itu hanya bisa bicara satu kata. Yaitu tidak. Walau berkata tidak, orang itu dibawa juga ke kerajaan. Sampai di kerajaan Raja Mahendra memanggil Patih.
“Paman Patih, tolong berikan pekerjaan pada manusia satu kata ini. Ia hanya bisa berkata, tidak.”
“Mengapa paduka membawa orang yang amat bodoh ini?”
“Walau bodoh, ia telah menolongku ketika terperosok lubang.” Patih berpikir keras. Pekerjaan apa yang sesuai dengan orang ini.
Setelah merenung beberapa saat, Patih tersenyum dan berkata, “Paduka kan bermaksud mengadakan sayembara untuk mencari calon suami bagi sang putri. Tetapi sampai kini Paduka belum menemukan jenis sayembaranya.”
“Benar Paman Patih, aku ingin mempunyai menantu yang sakti dan pandai. Tetapi apa hubungannya hal ini dengan sayembara?”
“Peserta yang telah lolos ujian kesaktian, harus mengikuti babak kedua. Yaitu harus bisa memasuki keputren dengan cara membujuk penjaganya.”
“Lalu, siapa yang akan dijadikan penjaga keputren?”“Manusia satu kata itu, Paduka.”
“Lho, ia amat bodoh. Nanti acara kita berantakan!”
“Percayalah pada hamba, Paduka.”
Pada hari yang ditentukan, peserta sayembara berkumpul di alun-alun. Mereka adalah raja muda dan pangeran dari kerajaan tetangga. Di babak pertama, kesaktian para peserta diuji. Dan, hanya tiga peserta yang berhasil.
Ketiganya lalu dibawa ke depan pintu gerbang keputren. Patih memberi penjelasan pada mereka. Nampaknya mudah. Mereka hanya disuruh membujuk penjaga keputren sehingga dapat masuk keputren.
Peserta hanya boleh mengucapkan tiga pertanyaan.
“Penjaga yang baik. Bolehkah aku masuk keputren?” tanya peserta pertama.
“Tidak!” jawab si manusia satu kata.
“Maukah kuberi emas sebanyak kau mau, asal aku diperbolehkan masuk?”
“Tidak!”
Pertanyaan tinggal satu.
“Kau akan kujadikan Senopati di kerajaanku, asal aku boleh masuk.”
“Tidak!” ujar si manusia satu kata.
Peserta pertama gugur. Ia mundur dengan lemah lunglai. Peserta kedua maju. Ia telah menyusun pertanyaan yang dianggapnya akan berhasil,
“Penjaga, kalau aku boleh masuk keputren, kau akan kunikahkan dengan adikku yang
cantik. Setuju?” pertayaan pertama peserta kedua.
“Tidak!”
“Separoh kerajaan kuberikan padamu, setuju?”
“Tidak!”
“Katakan apa yang kau inginkan, asal aku boleh masuk.”
“Tidak!”
Peserta kedua pun mundur dengan kecewa. Mendengar percakapan dua peserta yang tak mampu masuk keputren, Raja Mahendra tersenyum puas. Pandai benar patihku, katanya dalam hati.
Peserta terakhir maju. Semua penonton termasuk Raja Mahendra memperhatikan dengan seksama. Raja muda itu tampak percaya diri. Langkahnya tegap penuh keyakinan.
“Wahai penjaga keputren, jawablah pertanyaanku baik-baik. Tidak dilarangkah aku masuk keputren?” tanyanya dengan suara mantap. Raja Mahendra, Patih, dan penonton terkejut dengan pertanyaan itu.
Dengan mantap pula penjaga menjawab. “Tidak!” Seketika itu sorak-sorai penonton bergemuruh, mengiringi kebehasilan peserta terakhir. Si raja muda yang gagah lagi tampan. Raja Mahendra sangat senang dengan keberhasilan itu. Calon menantunya sakti dan pandai.
Sayembara usai. Manusia satu kata berjasa lagi pada Raja Mahendra. Ia dapat menyeleksi calon menantu yang pandai. Walau bodoh, Raja Mahendra tetap mempekerjakannya sebagai penjaga keputren.

HUMAN INTEREST WORD
Sunny day. King Mahendra went to the woods to test its ability to hunt. He forbade the guards followed him into the forest. In the middle of the forest, a deer looks fun to eat grass. King Mahendra directly aimed arrows.
Ah, the deer had escaped. King Mahendra after him. But he fell into a hole deep enough. He screamed bloody murder to call the guards. But his voice disappeared under thick forest. King Mahendra while contemplating his fate, he was surprised to view a person standing on the edge of the hole.
"Hey! Who are you? "Asked King. The man did not reply. "I am the King Mahendra! Please raise me! "She begged in a tone loud. "No," replied the man. The king became furious. He wants to shoot the guy. But before the arrow shot, the man disappeared. Shortly thereafter, fell a rope. King thought it was a bodyguard. However, it turns out people had a throw rope.
"So you want to help me?"
"No!" He replied again. King became confused. He said no, why give a rope? What may make, an important person willing to help him. Raja Mahendra successful ride. He said gratefully.
"Will you take to the kingdom?" Fresh King.
"No," replied the rescuers.
"If not, please take a few pieces of gold."
"No!" He answered again, but his hand is ready to accept.
King Mahendra finally realized, that person can only speak one word. That is not. While saying no, the man was taken also to the kingdom. Up in the kingdom of King Mahendra call Patih.
"Uncle Patih, please give the man a job on this word. He could only say, do not.
"Why did the emperor took a very stupid person is this?"
"Even a fool, he has helped me when mired hole." Patih think hard. What kind of work in accordance with this guy.
After thinking for a moment, Patih smiled and said, "Your Majesty not intend to contest to find a husband for the princess. But until now had not found the type competition liege. "
"Yes Uncle Patih, I want to have a powerful and intelligent daughter. But what does this with a contest? "
"Participants who have passed the exam supernatural powers, must follow the second half. That must be entered for princess in a way to persuade the guard. "
"So, who's going to be a guard for princess?" "Man of the word, my liege."
"Why, he was very stupid. Later we show a mess! "
"Believe me, my liege."
On the appointed day, contest participants gathered in the square. They are the young king and prince of the neighboring kingdom. In the first half, supernatural power of the participants tested. And, only three participants were successful.
All three are then taken to the front gate for princess. Patih give an explanation on them. It seems easy. They just told to persuade guards that can go for princess princess.
Participants may only say the three questions.
"The guard is good. Can I go for princess? "Asked the first participant.
"No," replied the man of words.
"Will give you gold as much as you want, as long as I allowed in?"
"No!"
Question stay single.
"You will I make Senopati in the kingdom, as long as I can go."
"No!" Says the man single words.
Participants first fall. He retreated with weak limp. Participants both advanced. He has formulated a question which he considers will be successful,
"The guard, if I may go for princess, you will kunikahkan with my brother
beautiful. Agree? " question first second participant.
"No!"
"Half the kingdom I gave you, okay?"
"No!"
"Say what you want, as long as I can go."
"No!"
Participants were retreated with a disappointed second. Hear the conversation of two participants who are unable to go for princess, King Mahendra smiled with satisfaction. Clever patihku true, he told himself.
Last participant forward. All spectators, including King Mahendra look closely. The young king looked confident. Sturdy stride confidently.
"O guard for princess, answer my question carefully. No dilarangkah I go for princess? "He asked in a steady voice. King Mahendra, Patih, and the audience was surprised by the question.
With all the guards replied firmly. "No!" At once the cheering crowd roared, accompanied kebehasilan last participant. The dashing young king again handsome. King Mahendra was very pleased with the success of it. Candidate magic and clever daughter.
Contests over. Man one word more meritorious in the King Mahendra. He or she can select candidates who are good law. Although stupid, King Mahendra still hired him as a guard for princess.

PAK SERKAH
Pada suatu masa, hiduplah Pak Serkah dan keluarganya. Pak Serkah hanya bekerja sebagai pedagang keliling. Hidupnya serba kecukupan. Dia mempunyai seorang anak perempuan yang bernama Nana. Barang-barang yang dijualnya ada ember, gayung, tempat minum, tempat makan, dan lain-lain. Semua barang dagangannya itu dimasukkan-nya kedalam sebuah gerobak tua pemberian Kakeknya yang sudah meninggal. Itulah hadiah terakhir Pak Serkah dari Kakeknya.
Pada suatu hari, seperti biasa, Pak Serkah berkeliling menjual dagangannya. Namun, apa yang terjadi? Dagangan Pak Serkah tidak laku sama sekali. Pak Serkah duduk di taman kota sambil termenung. “Oh… sungguh malang nasibku ini…”, gumam Pak Serkah dalam hati.
Tiba-tiba seorang Kakek tua yang berwajah mirip sekali dengan Kakek Pak Serkah datang. Dia berpakaian kumal, penuh tambalan, dan membawa sebuah topi berisi beberapa keping uang receh. Ternyata dia adalah seorang pengemis.
“Maaf, Pak, jujur, saya ingin membantu. Tapi dagangan saya hari ini tidak laku sama sekali. Jadi, saya tidak memiliki uang…”, kata Pak Serkah. “Oh… terima kasih,”, kata Pengemis itu, lalu berbalik arah. “Tunggu dulu, Kek! Tapi Kakek boleh mengambil salah satu dari barang saya ini. Saya ikhlas, kok!”, ujar Pak Serkah.
Kakek Pengemis itu lalu berbalik arah lagi, lalu mengambil salah satu barang dari gerobak Pak Serkah. “Terima kasih, Nak! Semoga Allah memberimu balasan yang lebih besar. Tapi ingat, setelah kau menjadi kaya, sisihkanlah sebagian uangmu dan gunakanlah untuk beramal,”, kata Pengemis itu.
Pengemis itu pun pergi. Tak berapa lama setelah Pengemis itu pergi, sebuah bus berhenti di situ. Semua penumpang turun dan mengerubungi Pak Serkah. Ada yang membeli ember, gayung, topi, dan lain-lain. Semuanya laku terjual. Bahkan tempat minum bocor pun laku.
Pak Serkah melongo. “Bagaimana ini bisa terjadi?”, gumam Pak Serkah bingung. Sudahlah… ini kan rejeki, rejeki patut disyukuri… Pak Serkah menenangkan diri.
Saat Pak Serkah menengok ke gerobaknya, Pak Serkah melihat tempat makannya dan topi yang robek pun laku terbeli. Pak Serkah mulai sadar, kalau segala barang yang dimasukkannya ke dalam gerobak itu pasti akan laku terjual.
Pak Serkah lalu pulang ke rumahnya dengan wajah yang berseri-seri. “Kenapa Bapak terlihat begitu bahagia, Pak?”, tegur Nana. “Mungkin semua dagangannya laku terjual,”, kata Bu Tiauw, istri Pak Serkah. “Benarkah, Bapak?”, Tanya Nana. Pak Serkah mengangguk.
Keesokan harinya, Pak Serkah mulai memasukkan barang dagangannya ke dalam gerobak kesayangannya itu. Dan…. seperti kemarin, semua barang yang ditaruh di situ laku semua!
“Alhamdulillah…”, gumam Pak Serkah bangga.
Semakin lama, Pak Serkah menjadi kaya. Rumah nya yang terbuat dari gedek’ (anyaman), sekarang sudah dibangun menjadi dinding dari beton, dia sekarang sudah memiliki sawah yang berhektar-hektar luasnya, kebunnya sangatlah luas, dan dia juga sudah memiliki kios tersendiri. Semua barang dagangannya ditaruh di gerobak ajaibnya, supaya cepat laku. Semakin lama, Pak Serkah memang menjadi kaya.
Namun, semakin lama, Pak Serkah membagi uangnya menjadi tiga bagian. Satu itu keperluan keluarga, satu untuk membeli barang dagangan, dan satu untuk beramal. Pak Serkah semakin lama berpikir kalau semuanya itu adalah kenikmatan yang patut disyukuri. Tapi, Pak Serkah malah tidak begitu mensyukurinya. Uang yang disisihkannya untuk beramal kini semakin menipis, bahkan sekarang tidak ada lagi beramal. Dia hanya membagi uangnya menjadi dua. Satu untuk keluarga, dan satunya lagi untuk membeli barang.
Pak Serkah merasa ingin membeli traktor untuk sawahnya, lalu ingin membangun kolam ikan di kebun yang harganya mahal, membuat peternakan, dan bahkan, Pak Serkah ingin membeli sawah lagi!
“Pak… kenapa Bapak sekarang tidak pernah beramal lagi?”, tegur Nana suatu saat, saat mereka makan malam bersama. “Eeee…. Mmm…. sebenarnya Bapak juga ingin memberi mereka sedekah, Nak. Bapak jujur….”, kata Pak Serkah. “Kalau begitu, kenapa sekarang Bapak tidak menyisihkan uang untuk beramal lagi?”, Tanya Bu Tiauw.
“Begini, Bu, semakin lama kebutuhan kita semakin banyak saja. Kalau saja kebutuhan kita tidak sebanyak ini, Bapak pasti akan bersedekah.”, Pak Serkah memberi alasan. “Ah, itu cuma alasanmu saja, Pak. Pokoknya, aku ingin kita bersedekah.”, kata Bu Tiauw. “Jangan memaksa, Bu…”, kata Pak Serkah. “Bapak, kalau Bapak tidak mau beramal, nanti, di akhirat nanti, Bapak pasti akan dihukum oleh Allah SWT.”, kata Nana.
“Kalian berdua sama saja. Pokoknya aku nggak mau. Aku merasa sekarang kebutuhan kita semakin bertambah, jadi, uang yang kita butuhkan semakin banyak juga,”, kata Pak Serkah. “Bapak ngomongnya kok diulang-ulang terus, sih? Kayak kaset rusak aja, deh!”, ledek Nana. “Gggrrrhhh….. kamu ini anak kecil kok!!!”, marah Pak Serkah.
Pak Serkah tidak peduli dengan apa yang dikatakan Bu Tiauw dan Nana, akhirnya, Pak Serkah tidak mau beramal. Tidak mau beramal meski hanya sedikit.
Namun, disamping itu, Bu Tiauw dan Nana selalu beramal dan berinfaq. Diam-diam, kadang, Bu Tiauw mengambil sebagian uang Pak Serkah untuk diinfaqkan. Bu Tiauw dan Nana memang berhati mulia.
Pada suatu hari, saat Pak Serkah melihat dompetnya, Pak Serkah kebingungan, uang sebesar Rp. 200.000,00 nya hilang. Pak Serkah tidak tahu kalau Bu Tiauw mengambilnya.
“Bu, tadi ada pencuri yang mengubek-ubek dompetku, nggak?”, Tanya Pak Serkah pada Bu Tiauw. “Nggak ada, kok! Tapi cuma aku dan Nana yang masuk. Dan kami berdua pastinya bukan pencuri, kan?”, jawab Bu Tiauw, pura-pura tidak tahu.
“Ya Allah…. apakah ini hukumanmu bagi hambamu yang kurang bertaqwa ini?”, gumam Pak Serkah dalam hati. Mulai dari hari itu juga, Pak Serkah rajin beramal dan berinfaq lagi. Uangnya dibagi menjadi tiga bagian lagi.
“Bu, apakah Bapak sudah insyaf?”, Tanya Nana suatu saat. “Bukannya insaf Nana… Tapi Bapak-mu itu sudah menyadari kesalahannya. Jadi, dia berusaha menghapus kesalahannya itu,”, jelas Bu Tiauw. “Oh…”, kata Nana mengerti.
Tiba-tiba Pak Serkah datang. “Bu… semua amalan sudah saya berikan. Saya sudah meminta maaf kepada Allah yang maha esa. Sekarang, tidak ada lagi pencuri yang mengambil uangku. Mungkin Allah sudah mau mengampuniku,”, kata Pak Serkah. “Pak… sebenarnya ini rahsia. Tapi yang namanya keluarga tidak boleh ada rahasia-rahasiaan.”, kata Bu Tiauw. “Ok!” “Tidak ada pencuri yang datang.
Semuanya aman. Akulah yang mengambilnya untuk beramal. Tapi maaf kalau aku tidak bilang,”, jelas Bu Tiauw. Hahaha… Mereka bertiga pun tertawa terbahak-bahak. “Aku tidak akan sombong lagi, dan kau juga tidak boleh mengambil uang orang tanpa ijin ya, Bu…”, kata Pak Serkah. “Aku senang Bapak menjadi orang yang baik lagi, Pak…”, kata Bu Tiauw.
Perlu diketahui, orang yang pelit akan mempersempit rejekinya. Dan suka beramal bukan membuat orang yang beramal menjadi miskin. Akan tetapi, di akhirat nanti, Allah pasti akan membalas kebaikan dengan kebaikan. Dan begitu pula sebaliknya.

MR. SERKAH
At one time, there lived Mr. Serkah and his family. Mr. Serkah only worked as an itinerant trader. His life was all-sufficiency. He has a daughter named Nana. The goods it sells there is a bucket, scoop, place of drinking, dining, and others. All merchandise is put it into an old wheelbarrow deceased grandfather provision. That's the last gift from his grandfather Sir Serkah.
One day, as usual, Mr. Serkah around selling his wares. However, what happened? Pak Serkah merchandise not sold at all. Mr. Serkah sitting in a city park thoughtfully. "Oh ... really unfortunate fate of this ...," muttered Mr. Serkah in the liver.
Suddenly an old man who faced a lot like Grandpa Pak Serkah come. He was dressed in ragged, patched, and bring a hat containing a few pieces of loose change. Turns out he was a beggar.
"Sorry, sir, honestly, I want to help. But today my merchandise does not sell at all. So, I do not have the money ... ", said Mr Serkah. "Oh ... thank you," said the beggar, then reversed course. "Hold on, Grandpa! But Grandpa can take one of my articles. I am sincere, really! ", Said Mr. Serkah.
Grandfather beggar then reversed again, then take one item from the cart Pak Serkah. "Thanks, kid! May Allah give you a bigger reward. But remember, once you become rich, Set aside some money and use it to charity, "said the beggar.
The beggar went away. Not long after the beggar away, a bus stop there. All the passengers off and swarming Pak Serkah. There is buy a bucket, scoop, hats, and others. Everything is sold. Even the leaking any drinking behavior.
Mr. Serkah gawk. "How did this happen?", Murmured Mr. Serkah confused. Anyway ... it's luck, good fortune to be thankful for ... Pak Serkah calm down.
When Mr. Serkah looked into his cart, Mr. Serkah saw their feeding and the torn hat was bought behavior. Mr. Serkah began to realize, if all the goods that were added to the cart it would have sold.
Mr. Serkah then returned to his home with a beaming face. "Why do you look so unhappy, sir?", Admonished Nana. "Maybe all the merchandise sold," said Mrs. Tiauw, wife of Mr. Serkah. "Really, Dad?", Asked Nana. Mr. Serkah nodded.
The next day, Mr. Serkah start putting the merchandise into the cart was his favorite. And .... like yesterday, all goods sold all put there!
"Thank God ..." muttered Mr. Serkah proud.
The longer, sir Serkah become rich. His house is made of gedek '(woven), has now built a wall of concrete, he now has acres of wetland that extent, her garden is enormous, and he also has its own kiosk. All merchandize is placed in the cart miraculously, that sell quickly. The longer, Mr. Serkah indeed become rich.
However, the longer, Mr. Serkah divide his money into three parts. One was for the family, one to buy merchandise, and one for charity. Mr. Serkah the longer thinking that all that is pleasure to be grateful. But, Mr. Serkah even not so grateful.
The money for charity disisihkannya now dwindling, even now there are no more charitable. He just divide the money into two. One for the family, and one for buying goods.
Mr. Serkah feel like buying a tractor for his rice field, and want to build a fish pond in the garden that are expensive, create farms, and even, Mr. Serkah want to buy rice again!
"Sir ... why do you now do not ever do good again?", Call Nana one day, when they eat dinner together. "EEEE .... Mmm .... actually you also want to give their alms, my dear. Mr honest .... ", Said Mr Serkah. "Then, why are you not set aside money for charity again?", ask Mrs Tiauw.
"Look, ma'am, the longer we need more and more alone. If only we do not need this much, you definitely will give alms. ", Mr Serkah give reasons. "Ah, it's just your excuse, sir. Anyway, I want us to give alms. ", Says Mrs Tiauw. "Do not force, Mom ...", said Mr Serkah. "Dad, if you do not want charity, later, in the next, you must be punished by Allah.", Said Nana.
"You two are the same. Anyway I do not want. I feel now our needs are increasing rapidly, so, money that we need more and more as well, "said Mr. Serkah. "Mr preman kok kept repeating, anyway? Like a broken record! ", Ledek Nana. "Gggrrrhhh ... .. you this kid really mad !!!", Mr. Serkah.
Mr. Serkah not concerned with what is said Mrs. Nana Tiauw and, finally, Mr. Serkah not want charity. Do not want to do good even if only slightly.
However, besides that, Mrs. Tiauw and Nana always charitable and berinfaq. Secretly, sometimes, Mom Tiauw take some of the money Mr. Serkah to diinfaqkan. Mom and Nana Tiauw indeed noble.
One day, when Mr. Serkah see his wallet, Mr. Serkah confusion of the cost. 200,000.00 was missing. Mr. Serkah do not know if Mrs. Tiauw take it.
"Mom, there was a thief who mengubek-ubek my wallet, no?", Asked Mr. Serkah to Mrs. Tiauw. "No, really! But just me and Nana who entered. And we were certainly not a thief, right? ", Replied Mrs. Tiauw, pretending not to know.
"Oh God .... whether this is punishment for the less pious servant of this? ", murmured Mr. Serkah in the liver. Starting from that day, Mr. Serkah diligent charity and berinfaq again. The money is divided into three parts again.
"Mom, do you have insyaf?" Ask Nana one day. "Not aware Nana ... But your father had already realized his mistake. So, he tried to erase that mistake, "explained Mrs. Tiauw. "Oh ...", said Nana understand.
Suddenly Mr. Serkah come. "Mom ... I give all the deeds already. I've apologized to Allah the mighty one. Now, no more thief who took my money. Maybe God was willing to forgive, "said Mr. Serkah. "Sir ... this is actually rahsia. But the family name there should be no secret of secrecy. ", Says Mrs Tiauw. "Ok!" "No thief is coming.
Everything is safe. I'm the one who took it to charity. But excuse me if I did not say, "explained Mrs. Tiauw. Hahaha ... The three of them laughed uproariously. "I would not be proud again, and you also should not take people's money without permission, yes, ma'am ...", said Mr Serkah. "I love you to be good again, sir ...", said Mrs Tiauw.
Please note, the man who will narrow the rejekinya stingy. And like the charity is not making people who labor to be poor. However, in the next, God will definitely return kindness with kindness. And vice versa.

TEMAN BAIK YANG BERKHIANAT
Muka-ku memerah, sedang marah besar. Rasanya kepala-ku mau pecah saat ini juga. “Grrrrhhhh!!!! Aku benci padamu, Morin!”, gumam-ku dalam hati. Tiba-tiba Sylvia, kakak-ku, datang. “Ada apa, Venda? Kamu kayaknya lagi marah, deh! Coba cerita sama kakak ada apa….”, bujuk Kak Sylvia. “Ah, kakak nggak perlu tahu! Ini masalahku sendiri,”, kataku dengan senyum di bibir. Padahal, saat itu aku masih ada rasa benci dengan Morin.
“Ayolah, Venda…. Kamu dulu sudah pernah bilang sendiri, kan? Di keluarga kita ini nggak ada lagi yang namanya rahasia-rahasiaan. Kita harus saling terbuka satu sama lain,”, kata Kak Sylvia. “Maafkan Venda, ya, Kak… Dulu, memang Venda pernah berkata seperti itu. Namun sekarang aturan itu sudah hilang. Venda maaf… banget.”, kataku merahasiakan.
Kak Sylvia duduk disampingku, duduk diatas kasur. “Venda, Kakak janji, kok, nggak akan ada yang tahu tentang ini. Dan Venda tenang saja, karena Kakak nggak akan bocorin rahasia ini ke siapapun.”, kata Kak Sylvia. “Kakak janji?”, Kak Sylvia mengangguk. “Nggak akan beritahu ke siapapun termasuk ke Mama Papa?”, tanyaku. “Ok, rahasiamu aman ditanganku,”, kata Kak Sylvia.
Aku mengangguk mantap. Sebenarnya… aku tidak mau memberitahukan ke siapapun tentang ini. Tapi… aku sendiri sudah mengatakan bahwa di keluarga ini tidak ada lagi rahasia-rahasiaan. “Ok, Kak… Kakak janji, ya, jangan bilangin ke siapa-siapa.”, kataku. “Iya, bukannya kamu sudah bilang tadi?”, tanya Kak Sylvia.
“Cerita ini sangat mengharukan. Tadi, waktu aku istirahat di sekolah, aku menghampiri Morin, Aminah, Hanni, dan Henna. Saat itu Morin bertanya padaku; “Ibumu namanya Bu Syalabiyyah, kan?”. Lalu aku menjawab; “Kalau iya, memang kenapa?”. Tapi dia malah mengejek; “Syalabiyyah, kalau ditengah-tengah huruf a dan b ditambah huruf h jadi apa? Terus, huruf y itu dibuang. Jadi apa coba?”. Aku menjawab; “Salahbiyyah?”. Dia malah tambah mengejek; “Coba kata ‘biyyah’ nya kamu hapus.”. Aku lalu berseru marah; “Apa?! Kamu mengejek Mama-ku, ya?!”. Aku lalu pergi ke kantor, dan melaporkan kronologis itu pada Bu Ririn, begitu,”, uraiku sedih.
“Lalu, apa yang dikatakan Bu Ririn pada anak-anak nakal, itu?”, tanya Kak Sylvia, matanya memerah, seraya menahan tangis. “Anak-anak! Kalian harus meminta maaf pada Venda. Dia kan, kasihan. Masa orangtuanya kalian ejek. Kalian harus tahu, mengejek orangtua teman itu sama saja mengejek orang tua sendiri.”, jelasku.
“Lalu?”, tanya Kak Sylvia. “Lalu mereka saling tunjuk, dan aku memberi tahu pada Bu Ririn, bahwa hanya Morin yang mengejek. Morin tertunduk, lalu meminta maaf.”, jelasku. “Apakah kamu memaafkan Morin? Aku ingin tahu jawabmu,”, ujar Kak Sylvia. “Tidak akan!”, seruku.
Keesokan harinya….
Saat istirahat tiba, aku tidak menghampiri teman baikku yang kini telah berubah, Morin. Namun, aku masih memiliki teman baik yang banyak. Dulu sih… Morin akrab sekali denganku. Atau bisa dibilang Morin dan aku adalah best friend atau nama lainnya sahabat sejati. Namun kini tidak lagi. Sekarang dia, best friend-ku itu telah menjadi bad friend, atau teman buruk. Ya… tidak sampai bad friend-lah. Paling hanya sebatas benci. Meski aku tahu dia hanya bercanda, tapi bercandanya itu sudah jauh diluar batas.
Aku menghampiri Ghiani dan Putri. “Ghiani, Putri, kita main, yuk!”, ajakku. “Aduh… sayang sekali, Venda. Padahal kami mau mengajak Morin bermain.”, kata Ghiani. “Jangan cemas Ghiani… kita bisa mengajak Venda bermain bersama dengan Morin bukan?”, kata Putri.
“Apa? Morin?! Aku bilang pada kalian ya…. Teman baikku itu….” “Sttt…. diam dulu, dia akan datang kesini. Lihat saja!”, sahut Ghiani. “Venda, kita main, yuk!”, ajak Morin sambil menggandeng tanganku. “Sorry banget, Rin, aku mau…”, aku tak bisa melanjutkan kata-kataku.
“Aku kan sudah minta maaf sama kamu dengan kejadian kemarin. Kamu nggak memaafkan aku, ya?”, Morin menaikkan alisnya. “B-bukan begitu, Morin, aku hanya… Aku juga minta maaf, selama ini kita sudah menjadi best friend, tapi kini tidak lagi…”, kataku.
“Apa? K-kamu tidak memaafkan aku? Kita memang sudah menjadi best friend sedari dulu, Venda. Aku kan sudah minta maaf. Tapi apakah kamu tidak mau memaafkan aku? Teman baikmu sendiri. Dan sekarang kamu sudah menganggapku sebagai bad friend? Begitu?”, ujar Morin dengan marah. Astaga! Aku tak menyangka kalau Morin tahu apa yang ada di pikiranku.
“Tidak sampai bad friend, Morin…”, kataku. “Lalu? Apa maksudmu melakukan semua ini?”, tanya Morin. “Aku sangat minta maaf Morin. Meski aku tahu kamu hanya bercanda, tapi bercanda-mu sudah diluar batas. Dan itu tidak baik,”, kataku, lalu pergi meninggalkan mereka bertiga.
Morin berusaha mengejarku. “Maafkan aku Venda… Maafkan aku… Aku sungguh minta maaf padamu. Semua ini hanyalah bercanda. Maafkan aku kalau semua ini aku salah. Tapi jangan membenciku, Venda… Aku juga tidak akan membencimu. Tapi aku mohon padamu untuk memaafkan aku. Semoga nasi belum menjadi bubur. Sungguh, aku minta maaf, Venda…”, mata Morin memerah, seperti menahan tangis.
“Ok, aku akan maafkan kamu, tapi kamu harus berjanji tidak akan mengejek seperti itu lagi.”, Morin mengangguk, matanya kini berbinar-binar. “Seorang ibu adalah pahlawan terbesar untuk kita. Meski pahlawan RI memiliki jasa yang besar, tapi ibu-lah yang memiliki jasa paling besar.”, kataku. “Jadi… kamu memaafkan aku? Terima kasih banget, ya, Ven! Soalnya dosa mengejek orang tua itu sangatlah besar. Dan aku juga tahu, kalau arti dari Syalabiyyah itu adalah cantik, sama seperti ibumu. Ibumu juga cantik.”, puji Morin.
Akhirnya, aku dan Morin saling berpelukan. Dan mulai saat itu, kami menjadi teman baik lagi.

GOOD FRIEND DEFECTED
My face flushed, was furious. It was my head going to explode right now. "Grrrrhhhh!! I hate you, Morin! ", Murmured in my heart. Suddenly Sylvia, my brother, come. "What is it, Venda? You think more angry, deh! Try the same story is what's sister .... ", Cajoled Sister Sylvia. "Ah, brother do not need to know! This is my problem alone, "I said with a smile on his lips. In fact, the moment I still have a sense of hate with Morin.
"Come on, Venda .... You've always told myself, right? In our family this is not no such thing as the secret of secrecy. We must mutually open to each other, "said Sister Sylvia. "Forgive Venda, yes, brother ... In the past, indeed Venda never said that. But now the rules were gone. Venda sorry ... really. ", I say keep.
Sister Sylvia was sitting beside me, sitting on a mattress. "Venda, Big Brother promises, really, no one will know about this. And Venda calm, because Big Brother will not bocorin this secret to anyone. "Kak said Sylvia. "Big Brother promise?", Sister Sylvia nodded. "It will tell to anyone, including the Mama Papa?" I asked. "Ok, your secret is safe in my hand," said Sister Sylvia.
I nodded confidently. Actually ... I do not want to tell to anyone about this. But ... I myself have said that the family is no longer the secret of secrecy. "Ok, Sister ... Big Brother promises, yes, do not bilangin to anybody.", I said. "Yeah, instead you are told you?", Said Sister Sylvia.
"This story is very touching. Earlier, when I break at school, I went to Morin, Aminah, Hanni, and Henna. It was Morin asked me: "Your mother named Mrs. Syalabiyyah, right?". Then I answered: "If yes, why indeed?". But instead he mocked; "Syalabiyyah, if in the middle of paragraphs a and b plus the letter h so what? Continue, the letter y is thrown away. So what to try? ". I replied; "Salahbiyyah?". Instead, he added mockingly, "Let the word 'biyyah' you delete it. '. I then exclaimed angrily: "What! You mock my Mama, are you?! ". I then went to the office, and reported it to Mrs. Ririn chronological order, so, ", uraiku sad.
"Then, what is said Bu Ririn on juvenile delinquents, is it?", Said Sister Sylvia, his eyes reddened, while fighting back tears. "Children! You should apologize to the Venda. He's not you, sorry.
The period of your parents ridicule. You should know, mocking that same friend's parents just mocking his own parents. ", I explained.
"And?", Said Sister Sylvia. "Then they point to each other, and I told the Mrs. Ririn, that only a mock Morin. Morin down, then apologized. ", I explained. "Do you forgive Morin? I wonder thou hast, "said Sister Sylvia. "Never!", I exclaimed.
The next day ....
When the break came, I did not approach my best friend who has now turned, Morin. However, I still have a lot of good friends. Used to be hell ... Morin once familiar to me. Or it could be said Morin and I am the best friend a true friend or any other name. But not anymore. Now he, my best friend has become a bad friend, or a bad friend. Yes ... not to bad friend-lah. Most only hate. Although I knew he was joking, but bercandanya it was far beyond the limit.
I went Ghiani and Princess. "Ghiani, Princess, we play, yuk!", Take me. "Oops ... too bad, Venda. But we want to invite Morin play. ", Said Ghiani. "Do not worry ... we can invite Ghiani Venda Morin play along with it?", Said Prince.
"What? Morin?! I told you so .... My good friend is .... "" Sttt .... silent first, he will come here. Just look! ", Said Ghiani. "Venda, we play, yuk!", With whom Morin as he took my hand. "Sorry, really, Rin, I want ...", I could not go on my words.
"I've apologized to you with what happened yesterday. You do not forgive me, yes? ", Morin raised his eyebrows. "B-not so, Morin, I just ... I'm sorry too, as we have a best friend, but now no longer ...", I said.
"What? K-ye do not forgive me? We did have a best friend all the time, Venda. I've apologized. But if you do not want to forgive me? Own best friend. And now you have me as a bad friend? So? "Said Morin with anger. Gosh! I do not think that the Morin know what's on my mind.
"Not until the bad friend, Morin ...", I said. "And then? What does all this mean? ", Said Morin. "I'm very sorry Morin. Although I know you're only joking, but your joke is beyond. And that's not good, "I said, and left three of them.
Morin tried to come after me. "I'm sorry Venda ... Forgive me ... I'm really sorry to you. All this is just a joke.
Forgive me if all of this I was mistaken. But do not hate me, Venda ... I'm also not going to hate you. But I beg you to forgive me. Hopefully not yet a rice gruel. Really, I'm sorry, Venda ... ", Morin reddened eyes, like tears.
"Ok, I'll forgive you, but you must promise not to ridicule like that again." Morin nodded, her eyes now sparkling. "A mother is the greatest hero to us. Although the hero of RI has a great service, but the mother was the one who has the greatest service. ", I said. "So ... you forgive me? Thank you very, yes, Ven! Because sin of mocking the old man is enormous. And I also know, if the meaning of Syalabiyyah it is beautiful, just like your mother. Your mother is also beautiful. ", Praise Morin.
Finally, I and Morin each other's arms. And from then on, we became good friends again.

LEGENDA GUNUNG BATU HUPA
Tidak berapa jauh dari kota Rantau, ibu kota Kabupaten Tapin Propinsi Kalimantan Selatan terdapat dua desa bernama Tambarangan dan Lawahan. Menurut cerita orang tua-tua, dahulu kala di perbatasan kedua desa itu hiduplah seorang janda miskin bersama putranya. Nama janda itu Nini Kudampai, sedangkan nama putranya Angui.
Mereka tidak mempunyai keluarga dekat sehingga tidak ada yang membantu meringankan beban anak beranak itu. Walaupun demikian, Nini Kudampai tidak pernah mengeluh. Ia bekerja sekuat tenaga agar kehidupannya dengan anaknya terpenuhi.
Saat itu, Angui masih kecil sehingga ia masih senang bermain, belum ada kesadaran untuk menolong ibunya bekerja. Angui tidak mempunyai teman sebaya sebagai teman bermain. Sebagai gantinya, ia ditemani tiga ekor hewan kesayangannya, yaitu ayam jantan putih, babi putih, dan seekor anjing yang juga putih bulunya. Ke mana pun ia pergi, ketiga ekor hewan kesayangan itu selalu menyertainya. Mereka tampak sangat akrab.
Pada suatu hari, ketika Angui sedang bermain di halaman rumah, melintaslah seorang saudagar Keling. Saudagar itu amat tertarik kepada Angui setelah menatap Angui yang sedang bermain. Ia berdiri tidak begitu jauh dari tempat Angui bermain. Angui terus diamatinya. Dari hasil pengamatan itu, ia mendapatkan sesuatu yang menonjol pada penampilan Angui. Air muka Angui selalu jernih dan cerah. Ubun-ubunnya kelihatan berlembah. Dahinya lebar dan lurus. Jari-jarinya panjang dan runcing ke ujung. Di ujung-ujung jari itu terdapat kuku laki yang bagus bentuknya. Satu hal yang memikat adalah adanya tahi lalat yang dimiliki Angui. Tahi lalat seperti itu dinamakan kumbang bernaung.
Saudagar Keling mendapat firasat bahwa tanda-tanda fisik yang dimiliki Angui menunjukkan nasib balk atau keberuntungannya. Barang siapa memelihara anak itu akan bernasib mujur.
“Aku harus mendapatkan anak itu,” katanya dalam hati. Tanpa menyia-nyiakan waktu, saudagar itu segera menemui Nini Kudampai, sang ibu. Dengan keramahan dan kefasihan lidahnya berbicara selain janji-janji yang disampaikan, ia dapat menaklukkan hati Nini Kudampai. Nini Kudampai tidak keberatan jika Angui diasuh dan dipelihara saudagar itu. Angui pun amat tertarik untuk mengikuti saudagar itu pulang ke negerinya.
“Anak lbu tidak akan hilang,” kata saudagar itu meyakinkan. “Percayalah Bu, suatu saat kelak ia pasti kembali menemui ibunya, bukan sebagai Angui yang sekarang ini, tetapi sebagai orang ternama.”
Walaupun Nini Kudampai telah merelakan kepergian anaknya, ia tidak dapat menyembunyikan rasa harunya ketika akan berpisah. Kesedihan dan keharuan kian bertambah ketika Angui meminta agar ketiga hewan teman bermainnya selama ini dipelihara sebaik-baiknya oleh ibunya.
“Bu, tolong Ibu jaga babi putih, anjing putih, dan ayam putihku. Jangan Ibu sia-siakan!” kata Angui sambil mencium tangan ibunya dengan linangan air mata.
Saudagar Keling pulang ke negerinya dan tiba dengan selamat bersama Angui. Angui diasuh dan dipeliharanya, tak ubahnya memelihara anak kandung. Angui hidup bermanja-manja karena kehendaknya selalu dikabulkan orang tua asuhnya. Kemanjaan itu berakibat buruk kepadanya. Ia lupa diri dan menjadi anak nakal, pemalas, serta pemboros.
Saudagar Keling sering tercenung seorang diri.
“Firasatku ternyata salah,” katanya dalam hati, “rupanya keadaan lahir belum tentu mencerminkan sifat dan watak seseorang.”
Saudagar Keling merasa tidak mampu lagi menjadi orang tua asuh Angui. Kehadiran Angui dalam keluarga itu hanya menyusahkannya saja. Tidak ada jalan lain yang dapat ditempuh selain mengusir Angui. Saudagar Keling itu tidak mau memeliharanya lagi.
Angui amat menyesali kelakuannya selama ini. Apa dayanya karena sesal kemudian tiada guna. Ia hidup luntang-lantung tiada arah. Kesempatan baik telah disia-siakannya.
Syukurlah, lambat laun Angui mampu mengatasi keputusasaannya.
“Aku harus menjadi manusia yang berhasil,” katanya penuh tekad.
Ia menanggalkan sikap malasnya dan mau bekerja membanting tulang. Ia tidak merasa malu melakukan pekerjaan apa pun, asal pekerjaan itu halal.
Beberapa tahun kemudian, berkat kerja keras dan kejujurannya dalam bekerja, is menjadi seorang saudagar kaya. Kekayaannya tidak kalah dibanding kekayaan saudagar Keling yang pernah menjadi orang tua asuhnya. Ketenarannya melebihi saudagar Keling itu.
Akhirnya, kekayaan Angui melebihi kekayaan siapa pun di negeri Keling itu. Namanya makin terkenal setelah is berhasil menyunting putri raja Keling menjadi istrinya. Sejak menjadi menantu raja, Angui mendapat nama baru, yakni Bambang Padmaraga.
Meskipun sudah kaya, Angui alias Bambang Padmaraga sering terkenang kampung halamannya. Ia amat rindu kepada ibunya, Nini Kudampai. Ia juga teringat pada babi putih, anjing putih, dan ayam putih, ketiga teman bermain yang disayanginya. Selain itu, ia ingin memperkenalkan istrinya kepada ibunya dan menunjukkan keberhasilannya di perantauan. Ia ingin membahagiakan ibunya yang bertahun-tahun ditinggalkannya tanpa berita.
Pada suatu hari, Angui mempersiapkan sebuah kapal yang lengkap dengan anak buahnya. Tidak lupa pula bekal untuk perjalanan jauh dan cendera mata, Inang pengasuh bagi istrinya turut serta dalam pelayaran ke negerinya. Ia dan istrinya menempati sebuah bilik khusus di dalam kapal yang ditata begitu apik seperti dalam sebuah istana.
Berita kembalinya Angui dan istrinya, putri raja Keling, dengan naik kapal segera tersiar ke seluruh penjuru. Nini Kudampai pun mendengar dengan penuh rasa syukur dan sukacita. Apalagi kapal putranya itu konon merapat dan bersandar tidak berapa jauh dari kediamannya.
Nini Kudampai segera berangkat ke pelabuhan dengan menggiring ketiga hewan piaraan teman bermain Angui, yaitu babi putih, anjing putih, dan ayam putih. Ia berharap agar Angui segera mengenalinya dengan melihat ketiga hewan itu.
Nini Kudampai pun berseru melihat Angui berdiri berdampingan dengan istrinya di atas kapal, “Anakku!”
Sebenarnya, Angui mengenali ibunya dan ketiga hewan piaraannya. Akan tetapi, ia malu mengakuinya di hadapan istrinya karena penampilan ibunya sangat kumal. Jauh berbeda dengan ia dan istrinya. Ia memalingkan muka dan memberi perintah kepada anak buahnya, “Usir perempuan jembel itu!”
Hancur Iuluh hati Nini Kudampai diusir dan dipermalukan putra kandung yang dilahirkan dan dibesarkannya. Angui mendurhakainya sebagai ibu kandung. Ibu yang malang itu segera pulang ke rumah. Tiba di rumah, is memohon kepada Yang Mahakuasa agar Angui menerima kutukan.
Belum pecah riak di bibir, begitu selesai Nini kudampai menyampaikan permohonan kepada Tuhan, topan pun mengganas. Petir dan halilintar menggelegar membelah bumi. Kilat sabung-menyabung dan langit mendadak gelap gulita. Hujan deras bagai dituang dari langit. Gelombang menggulung kapal bersama Angui dan istri serta anak buahnya. Kapal dan segenap isinya itu terdarnpar di antara
Tambarangan dan Lawahan. Akhirnya, kapal dan isinya berubah menjadi batu.
Itulah sekarang yang dikenal sebagai Gunung Batu Hapu, yang telah dibenahi pemerintah menjadi objek pariwisata. Setiap saat, terutama hari libur, tempat itu banyak dikunjungi orang.

STONE MOUNTAIN LEGEND HUPANot far from the town of Rantau, the capital of South Kalimantan Province Tapin District there are two villages named Tambarangan and Lawahan. According to the stories of elders, long ago on the border of the two villages there lived a poor widow with her son. Name Nini Kudampai widow, while his son name Angui.
They do not have a close family so no one to help ease the burden that children bear. However, Nini Kudampai have never complained. He works hard for his life with her son fulfilled.
At that time, Angui still small, so he still likes to play, there is no awareness to help his mother worked. Angui have no peer as a friend to play. Instead, he accompanied three favorite animals, namely a white rooster, white pig, and a dog who is also white fur. Wherever he went, the three tails pet that always accompany it. They looked very familiar.
One day, when Angui was playing in the yard, a merchant melintaslah Keling. The merchant was very interested in Angui after staring Angui who is playing. He stood not far from where Angui play. Angui continue observes. From the observation that, he got something that stands out in appearance Angui. Angui mien always clear and bright. Berlembah top of his head visible. His forehead was wide and straight. Her fingers were long and tapering to the tip. At the ends of the finger nails are a good man shape. One thing that lure is the presence of a mole that is owned Angui. Such moles are called beetle shelter.
Merchant Keling got a hunch that the physical signs that indicate the fate Balk Angui owned or luck. Any person who maintains the child would lucky.
"I have to get the boy," he said to himself. Without wasting time, the merchant immediately meet Nini Kudampai, the mother. With hospitality and fluency of her tongue to speak in addition to the promises made, he can conquer the hearts Nini Kudampai. Nini Kudampai would not mind if Angui nurtured and maintained the merchant. Angui was very interested to follow the merchant returned to his country.
"The boy's mother will not be lost," said the merchant convincing. "Believe Mom, someday he would return to see his mother, not as Angui that right now, but as a famous person."
Although Nene Kudampai has given up her son's departure, he could not hide his harunya when it will split. Growing sadness and compassion when all three animals Angui requested that his playmate had been best preserved by his mother.
"Mom, please keep the pork a white mother, white dog, and my white chicken. Do not waste your Mother! "Angui said, kissing her mother's hand with tears.
Merchant Keling returned to his country and arrive safely with Angui. Angui nurtured and dipeliharanya, any more than maintaining biological children. Angui life be spoiled-spoiled because his will is always granted his foster parents. Indulgence that adversely affects her. He forgot himself and became a bad boy, lazy, and waster.
Merchant Keling often stunned by himself.
"Something was wrong," he said to himself, "seems to circumstances of birth do not necessarily reflect the nature and character of a person."
Merchant Keling was no longer able to become foster parents Angui. Angui presence in the family was only troubled him alone. There is no other way that can be taken in addition to expel Angui. Keling merchant would not maintain it anymore.
Angui very sorry for his behavior during this. What regret later charged because there is no order. He lives go alone no direction. Have a good chance of utter siakannya.
Thankfully, Angui gradually able to overcome her despair.
"I have to become a successful human being," she says with determination.
He took the attitude of lazy and willing to work backbreaking. He does not feel ashamed to do any job, provided it is lawful employment.
Several years later, thanks to hard work and honesty in work, is becoming a wealthy merchant. His net worth is not less than the wealth Keling merchant who had been a foster parent. Keling's fame exceeds the merchant.
Finally, wealth exceeds the wealth Angui anyone in the country that Keling. His name is more famous after successfully editing Keling princess became his wife. Since becoming law of the king, Angui got a new name, namely Bambang Padmaraga.
Despite the already wealthy, Angui aka Bambang Padmaraga often remembered hometown. He greatly longed to her mother, Nini Kudampai. He also remembered the white pigs, white dog, and a white chicken, three friends who loved to play. In addition, he wanted to introduce his wife to his mother and show its success in overseas. He wants his mother happy that many years left with no news.
One day Angui prepare a ship complete with their men. Do not forget also equipped for long trips and souvenirs, Host caregiver for his wife participated in the voyage to the country. He and his wife occupy a special chamber within the ship which laid out so beautifully as in a palace.
News return Angui and his wife, daughter of the king Keling, with increased ship immediately spread to all corners. Nini Kudampai was heard with great gratitude and joy. Moreover, his son was said to moor the ship and leaned some distance from his residence.
Nini Kudampai immediately went to the port with the third herd of pets playmate Angui, namely white pigs, white dog, and a white chicken. He hopes for Angui immediately recognize it by looking at the third animal.
Nini Kudampai even cried seeing Angui standing side by side with his wife on board, "My son!"
Actually, Angui recognize his mother and three pets. However, he was ashamed to admit it in front of his wife because his mother is very disheveled appearance. Far different from he and his wife. He turned away and gave orders to his subordinates, "Throw it tacky woman!"
Shattered hearts Iuluh Nini Kudampai bladder expelled and humiliated son who was born and dibesarkannya. Angui mendurhakainya as the biological mother. The poor mother immediately went home. Arriving at the house, is begging to the Almighty for Angui receive the curse.
Not to burst ripple on the lips, once completed Nini kudampai submit a request to the Lord, even hurricane raged. Thunder boomed and lightning split the earth. Quick cocks-risking and sky suddenly pitch black. Heavy rain poured from the sky like. Waves roll along the vessel Angui and wife and their men. The ship and all its contents were terdarnpar between
Tambarangan and Lawahan. Finally, the ship and its contents turned to stone.
That is now known as the Rock of Hapu, who has addressed the government becomes the object of tourism. At any time, especially holidays, the place was visited by many people.

SI BUTA DAN SI PUNGGUNG BUNGKUK
Di suatu kampung tinggallah dua orang pemuda sebaya. Mereka bersahabat akrab sekali. Kemana pun mereka pergi selalu bersama. Boleh dikata tidak pernah terjadi pertengkaran di antara mereka. Jika yang seorang sedang marah, yang seorang lagi berdiam diri atau membujuk sehingga kemarahannya reda. Begitu juga jika ada kesulitan, selalu mereka atasi bersama.
Pada dasarnya, mereka memang saling membutuhkan karena keadaan tubuh mereka mengharuskan demikian. Pemuda yang satu bertubuh kekar, tetapi buta matanya; pemuda yang lain dapat melihat, tetapi bungkuk tubuhnya. Oleh karena itu, orang menyebut mereka si Buta dan si Bungkuk.
Si Buta sangat baik hatinya. Tidak sedikit pun is curiga kepada temannya, si Bungkuk. Ia percaya penuh kepada temannya itu, walaupun si Bungkuk sering menipu dirinya. Kejadian itu selalu berulang setiap mereka menghadiri selamatan. Si Buta selalu duduk berdampingan dengan si Bungkuk. Pada saat makan, si Buta selalu mengeluh.
“Pemilik rumah ini kikir sekali!” bisiknya kepada si Bungkuk agar jangan didengar orang lain. “Tak ada secuil pun ikan, kecuali sayur labu.”
Si Bungkuk hanya tersenyum karena keluhan temannya itu akibat ulahnya. Secara diam-diam ia memotong daging ayam yang cukup besar di piring si Buta dan ditukar dengan sayur labu. Akibatnya, piring gulai si Buta hanya berisi sayur labu.
Si Bungkuk merasa bahagia bersahabat dengan si Buta. Setiap ada kesempatan, ia dapat memanfaatkan kebutaan mata temannya untuk kepentingan sendiri. Si Buta yang tidak mengetahui kelicikan si Bungkuk juga merasa senang bersahabat dengan temannya itu. Setiap saat si Bungkuk dapat menjadi matanya.
Pada suatu hari, si Bungkuk mengajak si Buta pergi berburu rusa. Tidak jauh dari kampung mereka ada hutan lebat. Bermacam-macam margasatwa hidup di sana seperti burung, siamang, binatang melata, dan rusa.
Konon, pada waktu itu belum ada pemburu menggunakan senapan untuk membunuh hewan buruan. Penduduk yang ingin mendapatkan rusa atau binatang lain biasanya menggunakan jerat yang diseebut jipah (faring). Kadang mereka berburu menggunakan anjing pelacak dan tombak. Cara ini akan dipakai si Bungkuk dan si Buta untuk berburu.
“Kalau kita dapat membunuh seekor rusa, hasilnya kita bagi dua sama rata,” ujar si Bungkuk.
Tentu saja si Buta sangat gembira mendengar hal itu. itua segera menuntun anjing pelacak yang tajam India penciumannya, sedangkan si Bungkuk siap dengan tombak di tangan kanannya. Mereka berdua mengikuti arah yang ditunjukkan anjing pelacak itu.
Rupanya hari itu mereka bernasib balk. Seekor rusa jantan yang cukup besar berhasil mereka tombak. Tanduknya bercabang-cabang indah dan layak dijadikan hiasan dinding.
Si Bungkuk segera membagi rusa hasil buruan itu menjadi dua bagian. Akan tetapi, dengan segala kelicikannya, si Buta hanya mendapat tulang-tulang. Daging dan lemak rusa diambil si Bungkuk.
“Karena daging rusa sudah dibagi, kita masak sendiri sesuai selera kita,” kata si Bungkuk.
Si Buta menurut saja karena pikirnya memang demikian seharusnya. Padahal dengan cara itu, si Bungkuk bermaksud agar daging yang dimilikinya jangan secuil pun dimakan si Buta.
Walaupun si Buta tidak dapat melihat, kemampuannya memasak gulai tidak diragukan sedikit pun. Terbit air liur si Bungkuk mencium bau masakan si Buta. Si Bungkuk tidak pandai memasak.
Akhirnya, si Bungkuk dan si Buta menghadapi masakan rusa yang telah mereka masak dan siap menyantapnya.
“Sedaap!” kata si Bungkuk sambil memasukkan potongan daging yang besar ke dalam mulutnya.
“Nikmat!” kata si Buta sambil mengambil sepotong tulang yang besar dari piring dan menggigitnya. Si Buta bersungut-sungut karena yang digigit, ternyata tulang semua.
“Sayang,” katanya, “rusa begitu besar, tetapi tak punya daging! Besok kita berburu lagi, tetapi rusa itu harus gemuk dan banyak dagingnya.”
Si Bungkuk tersenyum mendengar perkataan si Buta. Si Buta merasa sayang jika tulang-tulang rusa yang telah dimasaknya dengan susah payah tidak dimakan. Oleh karena itu, is mencoba menggigit tulang itu lagi. Akan tetapi, tulang itu sangat keras sehingga tetap tidak tergigit.
Hal itu membuat si Buta semakin penasaran. la mengerahkan segenap tenaga dan menggigit tulang itu sekuat-kuatnya hingga bola matanya hendak keluar dari lubang mata.
Tuhan sudah menakdirkan rupanya. Keajaiban pun terjadi. Mata si Buta tidak buta lagi.
“Aku bisa melihat!” teriaknya kegirangan. Si Buta menatap sekelilingnya. Ketika is melihat tulang-tulang rusa di piringnya dan di piring si Bungkuk daging yang empuk, bukan main marahnya.
“Sekarang, terbukalah topeng kebusukanmu selama ini!” katanya.
Si Buta memungut tulang rusa paling besar, lalu si Bungkuk dipukul dengan tulang itu. Jeritan si Bungkuk meminta ampun tidak dihiraukannya sama sekali. Seluruh tubuh si Bungkuk babak belur. Seperti si Buta, keanehan pun terjadi pada si Bungkuk. Ketika la bangkit, ternyata punggungnya menjadi lurus seperti orang sehat.
“Aku tidak bungkuk lagi! Aku tidak bungkuk lagi!” teriak si Bungkuk.
Mereka berdua menari sambil berpeluk-pelukan dan bermaaf-maafan. Persahabatan mereka pun semakin akrab.

THE BLIND AND HUMPBACK
In a village lived two young men the same age. They were once close friends. Wherever they go always together. Virtually never a quarrel between them. If that one is angry, that a longer remain silent or to persuade that his anger subsided. Likewise if there is trouble, they always overcome together.
Basically, they really need each other because their bodies are circumstances so require. Youth is a stocky, but blind eyes; youth that others can see, but bent his body. Therefore, people called them the Blind and the Humpback.
The Blind very good heart. Not the least is suspicious of his friend, the Humpback. He believes fully to his friend that, although the Humpback often deceive themselves. It had always repeated every attend their salvation. The Blind always sat side by side with the Humpback. At mealtimes, the Blind is always complaining.
"The owner of this house so cheap!" She whispered to the Humpback order not to hear other people. "There is no shred of fish, except for vegetable pumpkins."
The Humpback just smiled because his complaint was due ulahnya. Secretly he cut the chicken meat on a plate large enough the Blind and exchanged with vegetable pumpkin. As a result, the Blind curry dishes contain only vegetable pumpkin.
The Humpback feel happy friendly with the Blind. Every opportunity, he can utilize his blind eye to their own interests. The Blind who do not know the cunning of the Humpback also feel happy friends with his friend. Every time the Humpback to be his eyes.
One day, the Humpback invites the Blind out hunting deer. Not far from their village there is a thick forest. A variety of wildlife living there like birds, gibbons, reptiles and deer.
Perhaps, at that time there has been no hunters use guns to kill game animals. Residents who want to get a deer or other animals typically uses meshes that diseebut jipah (pharynx). Sometimes they hunt using dogs and spears. This method will use the Humpback and the Blind for hunting.
"If we can kill a deer, our results for the two equally," said the Humpback.
Of course the Blind is very happy to hear about it. itu immediately leads India keen bloodhound smell, while the Humpback ready with a spear in his right hand. They both follow the directions indicated that sniffer dogs.
Apparently they fared that day either. A large male deer had their spears. Ramify horns beautiful and worthy of wall hangings.
The Humpback immediately divide deer ravin it into two parts. However, with all kelicikannya, the Blind just get the bones. Meat and fat deer taken the Humpback.
"Because venison has been divided, we cook our own taste," said the Humpback.
The Blind by this is so only because he thought it should. And in that way, the Humpback intended for meat that has not eaten a morsel of the Blind.
Although the Blind can not see, his ability to cook curry is not the slightest doubt. Publication of the Humpback saliva smell the cooking of the Blind. The Humpback is not good at cooking. Finally, the Humpback and the Blind facing deer dishes they have cooked and ready to eat.
"Sedaap!" Said the humpback, putting a big piece of meat into his mouth.
"Delicious!" Said the Blind, taking a large piece of bone from the plate and took a bite. The Blind grouchy because a bite, it turns out all the bones.
"Honey," she said, "so big deer, but had no meat! Tomorrow we are hunting anymore, but the deer should be fat and more meat. "
The Humpback smiled at the words of the Blind. The Blind was sorry if the bones of deer that have been cooked with difficulty not to be eaten. Therefore, the bone is trying to bite it again. However, the bone was so hard that still do not get bitten.
It made the Blind more curious. He took all the power and bit into the bone with a vengeance to his eyeballs about to exit the eye holes. God has destined it seems. Miracle ensued. Eyes of the Blind did not blind anymore.
"I can see!" She shouted in glee. The Blind looked around. When is seeing the bones of deer on his plate and the plate of the Humpback tender meat, not play angry.
"Now, it opened the mask kebusukanmu for this!" He said.
The Blind Bone picked up deer is greatest, then the humpback hit with that bone. Screams the Humpback ask forgiveness dihiraukannya not at all. The whole body of the Humpback bruised. Like the Blind, weirdness ensued on the Humpback. When he got up, turned his back becomes straight like a healthy person.
"I do not bend anymore! I do not bend anymore! "Cried the Humpback.
They both danced as he hugs and hugs's Greetings. Their friendship became more intimate.

LEGENDA SEEKOR NYAMUK
Di suatu negeri antah-berantah bertahtalah seorang raja yang arif bijaksana. Raja itu hidup bersama permaisuri dan putra-putrinya. Rakyat sangat mencintainya. Istananya terbuka setiap waktu untuk dikunjungi siapa saja. Ua mau mendengar pendapat dan pengaduan rakyatnya. Anak-anak pun boleh bermain-main di halaman sekitar istana.
Di negeri itu hidup juga seorang janda dengan seorang anaknya yang senang bermain di sekitar istana. Setiap pergi ke istana, ia selalu membawa binatang kesayangannya, seekor nyamuk. Leher nyamuk itu diikat dengan tali dan ujung tali dipegangnya. Nyamuk akan berjalan mengikuti ke mana pun anak itu pergi.
Pada suatu sore, anak itu sedang bermain di sekitar halaman istana. Karena asyik bermain, ia lupa hari sudah mulai gelap. Raja yang baik itu mengingatkannya dan menyuruhnya pulang.
“Orang tuamu pasti gelisah menantimu,” kata raja.
“Baik, Tuanku,” sahutnya, “karena hamba harus cepat-cepat pulang, nyamuk ini hamba titipkan di istana.”
“Ikatkan saja di tiang dekat tangga,” sahut raja.
Keesokan harinya, anak itu datang ke istana. Ia amat terkejut melihat nyamuknya sedang dipatuk dan ditelan seekor ayam jantan. Sedih hatinya karena nyamuk yang amat disayanginya hilang. Ia mengadukan peristiwa itu kepada raja karena ayam jantan itu milik raja.
“Ambillah ayam jantan itu sebagai ganti,” kata raja.
Anak itu mengucapkan terima kasih kepada raja. Kaki ayam jantan itu pun diikat dengan tali dan dibawa ke mana saja. Sore itu ia kembali bermain-main di sekitar istana. Ayam jantannya dilepas begitu saja sehingga bebas berkeliaran ke sana kemari. Ayam jantan itu melihat perempuan-perempuan pembantu raja sedang menumbuk padi di belakang istana, berlarilah dia ke sana. Dia mematuk padi yang berhamburan di atas tikar di samping lesung, bahkan berkali-kali dia berusaha menyerobot padi yang ada di lubang lesung.
Para pembantu raja mengusir ayam jantan itu agar tidak mengganggu pekerjaan mereka. Akan tetapi, tak lama kemudian ayam itu datang lagi dan dengan rakusnya berusaha mematuk padi dalam lesung.
Mereka menghalau ayam itu dengan alu yang mereka pegang. Seorang di antara mereka bukan hanya menghalau, tetapi memukulkan alu dan mengenai kepala ayam itu. Ayam itu menggelepargelepar kesakitan. Darah segar mengalir dari kepala. Tidak lama kemudian, matilah ayam itu.
Alangkah sedih hati anak itu melihat ayam kesayangannya mati. Ia datang menghadap raja memohon keadilan. “Ambillah alu itu sebagai ganti ayam jantanmu yang mati!” kata raja kepadanya.
Anak itu bersimpuh di hadapan raja dan menyampaikan rasa terima kasih atas kemurahan hati raja.
“Hamba titipkan alu itu di sini karena di rumah ibu hamba tidak ada tempat untuk menyimpannya,” pintanya.
“Sandarkanlah alu itu di pohon nangka,” kata raja. Pohon nangka itu rimbun daunnya dan lebat buahnya.
Keesokan harinya, ketika hari sudah senja, ia bermaksud mengambil alu itu untuk dibawa pulang. Akan tetapi, alu itu ternyata patah dan tergeletak di tanah. Di sampingnya terguling sebuah nangka amat besar dan semerbak baunya.
“Nangka ini rupanya penyebab patahnya aluku,” katanya, “aku akan meminta nangka ini sebagai ganti aluku kepada raja!”
Raja tersenyum mendengar permintaan itu. “Ambillah nangka itu kalau engkau suka,” kata raja.
“Tetapi, hari sudah mulai gelap!” kata anak itu. “Hamba harus cepat tiba di rumah. Kalau terlambat, ibu akan marah kepada hamba. Hamba titipkan nangka ini di istana.”
“Boleh saja,” ujar raja, “letakkan nangka itu di samping pintu dapur!”
Bau nangka yang sedap itu tercium ke seluruh istana. Salah seorang putri raja juga mencium bau nangka itu. Seleranya pun timbul.
“Aku mau memakan nangka itu!” kata putri berusaha mencari dimana nangka itu berada. “Kaiau nangka itu masih tergantung di dahan, aku akan memanjat untuk mengambilnya!”
Tentu saja putri raja tidak perlu bersusah payah memanjat pohon nangka karena nangka itu ada di samping pintu dapur. Ia segera mengambil pisau dan nangka itu pun dibelah serta dimakan sepuas-puasnya.
Kita tentu dapat menerka kejadian selanjutnya. Anak itu menuntut ganti rugi kepada raja. Pada mulanya raja bingung, tetapi dengan lapang dada beliau bertitah, “Ketika nyamukmu dipatuk ayam jantan, ayam jantan itu menjadi gantinya. Ketika ayam jantan mati karena alu, kuserahkan alu itu kepadamu. Demikian pula ketika alumu patah tertimpa nangka, nangka itu menjadi milikmu. Sekarang, karena putriku menghabiskan nangkamu, tidak ada jalan lain selain menyerahkan putriku kepadamu.”
Putri raja sebaya dengan anak itu. Akan tetapi, mereka belum dewasa sehingga tidak mungkin segera dinikahkan. Ketika dewasa, keduanya dinikahkan. Raja merayakan pesta secara meriah. Setelah raja meninggal, anak itu menggantikan mertuanya naik takhta. Ibunya juga diajak untuk tinggal di istana.

A MOSQUITO LEGEND
In a land of nowhere bertahtalah a wise king. King was living with the empress and her son and daughter. People loved him. The palace is open any time to visit anyone. Ua want to hear people's opinions and complaints. Even children can play around in the yard around the palace.
In the country live also a widow with a son who likes to play around the palace. Each went to court, she always brings her favorite animal, a mosquito. Neck mosquitoes were tied with rope and end of the rope holding. Mosquitoes will run follow the child wherever it goes.
On one afternoon, the boy was playing around the courtyard. Due to busy playing, he forgot it was already dark. Good King reminded him and told him to go home.
"Your parents are certainly anxious waiting," said the king.
"Yes, my lord," she said, "for I must hurry home, this mosquito Leave servant in the palace."
"Tie it on a pole near the stairs," replied the king.
The next day, the boy came to the court. He was very surprised to see the mosquitoes being pecked and swallowed by a cock. Sad heart because mosquitoes are very dear to be lost. He complained about the incident to the king because it belonged to the king rooster. "Take that cock instead," said the king.
The boy thanked the king. Foot rooster that was tied with rope and taken anywhere. That afternoon he was back playing in around the palace. Rooster just released so that roam freely back and forth. Rooster sees women servants to pound rice king is behind the palace, he ran there. He pecks of rice scattered on the mat next to the mortar, even many times he tried to steal rice in the mortar pit.
The servant king cock drove it so as not to interfere with their work. However, not long before chickens came again and with a greedy attempt pecks of rice in a mortar.
They dispel the chicken with a pestle that they hold. One of them is not only dispel, but slapped on the head of the pestle and the chicken. Chicken flounder flounder pain. Fresh blood flowing from his head. Not long later, the chicken died.
What a sad boy's heart to see her favorite chicken died. He came to the king asking for justice. "Take the pestle instead of a dead chicken jantanmu!" Said the king to him.
The boy knelt before the king and expressed his gratitude for the generosity of the king.
"Servant pestle Leave it here because at home mom I do not have a place to store it," he begged.
"Was unconscious pestle in jackfruit tree," said the king. Jackfruit tree leaves was lush and dense fruit.
The next day, when it was already dusk, he intended to take the pestle it to take home. However, the pestle was found broken and lying on the ground. Beside it rolled a huge jackfruit and fragrant smell.
"Jack is apparently the cause of broken aluku," he said, "I will ask this jackfruit instead aluku the king!"
The king smiled at his request. "Take it if you like jack fruit," said the king.
"But, it was already dark!" The boy said. "I have to quickly get home. If late, the mother will be angry with me. Leave this jackfruit servant in the palace. "
"It's okay," said the king, "put it in the next jackfruit kitchen door!"
The smell of jackfruit are delicious it smelled throughout the palace. One of his princess jackfruit also smell it. Taste even arise.
"I want to eat the jackfruit that!" Says daughter tried to find where the jack is located. "Kaiau jackfruit is still hanging on the branch, I will climb to take it!"
Of course the princess do not bother climbing because of jackfruit jackfruit tree that is beside the kitchen door. He immediately took a knife and jackfruit that was cut open and eat your heart's content.
We certainly can predict the next occurrence. The boy demanded compensation to the king. At first the king confused, but he gracefully announce, "When nyamukmu pecked rooster, cock it into place. When the rooster died of alu, alu I handed it to you. Similarly, when alumu broken crushed jackfruit, jackfruit it becomes yours. Now, because my daughter spends nangkamu, there is no way other than surrender to you my daughter. "
The king's daughter the same age as the boy. However, they have not grown so it is not possible immediately wed. As adults, both married. King celebrated the feast royally. After the king died, the son-in-law that replaces the throne. His mother was also invited to stay at the palace.

ANAK PIPIT DAN KERA
Tersebutlah seekor kera yang tinggal sendiri di atas pohon di dekat sebuah tepian. Kera itu ditinggalkan kawan-kawannya karena ia sombong dan mementingkan diri sendiri. Dia menganggap pohon tempat tinggalnya itu miliknya sehingga kera-kera lain tidak diizinkan tinggal di sana. Tepian mandi itu pun dianggap miliknya.
Ada seekor itik yang selalu pergi ke tepian itu. Dia senang mandi sepuas-puasnya di tepian itu setelah selesai mencari makan dan kenyang perutnya.
Pada mulanya, kera membiarkan itik itu mandi di tepian. Akan tetapi, ketika dia melihat air di tepian menjadi keruh setiap itik itu selesai dia pun marah.
“Cis tak tahu malu, mandi di tepian orang lain!” maki kera kepada itik yang baru saja selesai mandi. “Bercerminlah dirimu yang buruk rupa itu! Patukmu seperti sudu (paruh yang lebar). Matamu sipit seperti pampijit (kutu busuk)! Sayapmu lebar seperti kajang sebidang (selembar atap dari dawn nipah)! Jari-jarimu berselaput jadi satu! Enyahlah kau, itik jelek!”
Itik malu dan sakit hati dicemooh seperti itu. Ingin sekali dia menantang kera untuk berkelahi. Akan tetapi, dia takut dikalahkan kera besar itu. Dia pun menangis sepanjang jalan menumpahkan kekesalan dan kejengkelannya.
Seekor induk pipit yang sedang memberi makan kepada anak-anaknya terkejut. Dia melongokkan kepala dari sarangnya yang tinggi di atas pohon.
“Hai itik yang baik, mengapa engkau menangis sepanjang jalan? Beri tahu kepadaku apa sebabnya. Mungkin aku dapat menolongmu!”
“Kera besar di atas pohon di tepian itu menghinaku!” jawab itik. “Aku malu sekali! Itu sebabnya aku menangis!” Itik itu menangis kembali seperti tadi.
“Ooo begitu! Apa saja yang dikatakannya?”
Itik menceritakan kembali semua caci maki yang diucapkan kera. Mendengar penjelasan itik, induk pipit segera berkata, “Berhentilah menangis, itik yang baik! Besok kembalilah ke sana dan mandilah sepuasmu!”
“Aku takut! Aku malu dimaki kera itu lagi!”
“Jangan takut, itik yang baik! Kalau kera itu memakimu, balaslah! Sebutlah segala keburukannya!” Induk_pipit pun mengajari itik membalas cemoohan
kera.
“Terima kasih, induk pipit yang baik! Besok aku akan mandi lagi ke tepian dan nasihatmu akan kuturuti!” Dengan perasaan tenang, itik kembali ke rumah.
Kekesalannya agak terhibur dengan nasihat induk pipit.
“Esok tahu rasa kau, hai kera yang sombong!” katanya dalam hati sambil tersenyum seorang diri.
Keesokan harinya, itik itu mandi sepuas-puasnya di tepian seperti biasa. Bukan main marahnya kera menyaksikan itik mengeruhkan air di tepian itu lagi.
“Hei, berhenti! Apakah engkau tetap tak punya rasa malu?” jeritnya dari atas dahan.
Itik pura-pura tidak mendengar jeritan itu. Dia terus mandi dan mengepak-ngepakkan sayapnya. Setelah puas, barulah dia naik ke tebing dan slap pulang ke rumah.
Seperti kemarin, kera kembali mencaci maki sepuas-puasnya. Dengan tenang itik mendengarkan. Setelah kera puas mengungkapkan keburukan dan kejelekannya, itik pun membalas, “Apakah engkau merasa cantik? Berkacalah di muka air di tepian itu! Tubuhmu ditumbuhi bulu-bulu kasar! Kepalamu seperti buah tandui (sejenis kuini/mempelam yang tumbuh di hutan) dilumu (dimasukkan ke mulut sambil diambil sarinya hingga tersisa biji dan ampasnya). Telapak tanganmu hitam kotor! Kuku-kukumu ….”
Belum selesai itik membalas caciannya, kera itu segera memotong, “Lancang sekali mulutmu! Tentu ada binatang lain yang memberi tahu kepada kamu!”
“Tentu saja, hai kera angkuh! Tidak jauh dari sini seekor induk pipit membuat sarang. Dialah yang mengajariku!”
“Kurang ajar! Aku akan datang ke sarangnya!”
Itik bergegas pulang ke Tumahnya. Dia memberitahu induk pipit tentang niat busuk kera sombong itu. “Alangkah bodohnya engkau!” kata induk pipit dengan kesai. “Seharusnya tidak kau sebutkan siapa yang mengajarimu! Rupamu bukan hanya jelek, tetapi engkau pun tolol!”
Belum sempat induk pipit bersiap-siap mengungsi, kera sudah mendatangi sarangnya dan langsung menerkamnya. Akan tetapi, dengan sigap induk pipit itu terbang. Sayang, anak pipit tidak sempat dibawa untuk menyelamatkan diri.
Dengan kejengkelan luar biasa kera memasukkan anak pipit itu ke dalam mulutnya. Sarang pipit diacak-acaknya. Kemudian, dia duduk di atas pohon itu menanti induk pipit kembali ke sarang untuk menjemput anaknya. Pada saat itulah, induk pipit akan diterkamnya.
Anak pipit sedih berada dalam kegelapan karena kera selalu mengatupkan mulutnya. Kera takut anak pipit itu terbang. Dalam keadaan itu, anak pipit mengeluh seorang diri. Setiap keluhannya dijawab kera dengan gumaman.
“Apakah Ibuku sudah datang?”
“Mmm-mmm …!”
“Apakah Ibuku sudah mandi?”
“Mmrn-mmm …!”
“Apakah Bapak dan Ibu sudah tidur?”
“Ha-ha-ha-ha-ha …!”
Kera tidak dapat menahan geli. Dia tertawa mengakak hingga mulutnya terbuka lebar Anak pipit tidak melewatkan kesempatan baik itu. Dia terbang mencari induknya.
“Kurang ajar!” kera menyumpah sejadi-jadinya.
Dia merasa tertipu. Apalagi anak pipit itu meninggalkan sesuatu di dalam mulutnya. Di daun lidahnya ada kotoran anak pipit. Kera benar-benar merasa kalah. Bukan saja karena ditinggalkan anak-beranak itu, melainkan karena mendapat kotoran anak pipit.
Kera marah bukan main. Akal sehatnya hilang. Dia mencari sembilu yang tajam dan kotoran anak pipit itu bukan dikaisnya dengan sembilu, melainkan lidahnya yang dipotong. Darah pun tak henti-hentinya mengalir dari Iidahnya. Dia menggelepar-gelepar kesakitan, lalu jatuh dari dahan dan mati seketika. Tamatlah riwayat kera besar yang sombong itu.

CHILDREN AND APES SPARROW
It was a monkey who lived alone in a tree near an edge. Apes were abandoned his friends because he is arrogant and selfish. He thought the tree was his place of residence so that other apes are not allowed to live there. Edge shower that was considered hers.
There is a duck who always went to the edge of it. He loves to shower your heart's content at the edge of it after looking for food and full stomach.
At first, the monkey let the ducks were bathing in the shallow waters. However, when he saw the water on the banks of a murky each duck was finished he was angry.
"Cis shameless, bathing on the banks of other people!" Maki monkeys to ducks who had just finished bathing. "Mirror is ugly you are! half-ye like blades (half the width). Your eyes narrow like pampijit (bedbugs)! Wide wings like awning piece (a piece of roof from dawn nypa)! Webbed fingers together! Peter, get out ugly duck! "
Ducks embarrassed and hurt scorned like that. Eager for a fight he challenged monkeys. However, he feared that defeated the great apes. She cried all the way to shed pique and irritation.
A mother sparrow who was feeding her children by surprise. She poked her head from its nest high in trees.
"My duck is good, why are you crying all the way? Tell me why. Maybe I can help you! "
"Great apes in the trees on the banks it insulted me!" Replied the duck. "I'm so ashamed! That's why I'm crying! "Duck was crying again as before.
"Ooo so! What did he say? "
Ducks recounting all the spoken invective apes. Hearing the explanation of ducks, sparrows parent immediately said, "Stop crying, good duck! Tomorrow go back over there and wash sepuasmu! "
"I'm scared! I'm embarrassed dimaki monkey again! "
"Do not be afraid, good duck! If the monkey was cursing you, greet! Call all its ugliness! "Induk_pipit also teach duck replied to ridicule apes.
"Thank you, the parent finches good! Tomorrow I'll shower again to the edge and your advice will kuturuti! "With a sense of calm, ducks back into the house.
Frustration somewhat comforted by the parent finches advice.
"The next think you know, O vain ape!" He said, smiling to himself alone.
The next day, the bath duck heart's content at the edge as usual. Not playing angry ape watch ducks on the banks of muddying the waters again.
"Hey, stop! Do you still have no shame? "He shouted from the upper limb.
Ducks pretended not to hear the screams. He continues to shower and flapping his wings. Once satisfied, he will rise to slap the cliff and went home.
Like yesterday, the monkeys again berate heart's content. Listen calmly ducks. After the monkey reveal ugliness and kejelekannya satisfied, even duck replied, "Do you feel beautiful? Berkacalah in water level at the edge of it! Your body covered with coarse hairs! Tandui head like fruit (a type kuini / mempelam that grows in the forest) dilumu (inserted into the mouth while the juice is taken until the remaining seeds and pulp). Palms of your hands dirty black! Nail-nails .... "
Unfinished duck back tirade, monkeys were immediately cut, "Lancang once your mouth! Of course there are other animals that make known to you! "
"Certainly, O ape arrogant! Not far away a mother sparrow nest. It was he who taught me! "
"Brazen! I will come to its nest! "
Ducks rushed home to Tumahnya. He told the parent finches on foul intentions arrogant monkeys. "What a fool you!" Said parent finches with kesai. "Should not you have mentioned who was teach you! Rupamu not only ugly, but you are too stupid! "
Have not the parent finches preparing to evacuate, monkeys have come to nest and immediately devoured him. However, swiftly flew the parent finches. Unfortunately, children finches did not get taken to save themselves.
With extraordinary aggravation apes include the child's finches into his mouth. Sparrow nests were randomized decrypted. Then, he sat on the tree waiting for the parent finches returned to the nest to pick up his son. At that moment, the parent finches will he pounced.
Child sad sparrow was in darkness because monkeys are always pursed mouth. Apes scared child's finches fly. In these circumstances, the child complained sparrow alone. Every complaint is answered ape with a murmur.
"Is My mother's here?"
"Mmm-mmm ...!"
"Is My mother had a bath?"
"Mmrn-mmm ...!"
"Did Mr. and Mrs. asleep?"
"Ha-ha-ha-ha-ha ...!"
Apes can not keep amused. She laughed until her mouth was wide open mengakak Children finches did not miss a good chance it. He flew to find its mother.
"Brazen!" Ape swearing uncontrollably.
He felt cheated. Moreover, the sparrow boy had left something in his mouth. In his tongue leaves no dirt boy finches. Apes really felt lost. Not just because the bear was abandoned children, but because children get dirt finches.
Angry ape abysmal. Lost his senses. He's looking sharp knife and sparrow droppings were not dikaisnya children with knife, but his tongue is cut. Blood was unrelenting flow of Iidahnya. He flounder-gelepar pain, then fell from the branches and died instantly. This is the end a history of great apes are arrogant.

MIRAH, SINGA BETINA DAN MARUNDA
Pada suatu malam, centeng-centeng di rumah Babah Yong di Kemayoran terkapar di lantai. Babah Yong sendiri terikat di tiang ruang tengah. Perabot rumah berantakan. Barang-barang berharga dibawa kabur kawanan perampok.
Malam itu juga, Tuan Ruys penguasa daerah Kemayoran segera datang mempelajari bekas-bekas perampokan. Di situ juga Nadir Bek Kemayoran. Petugas lain yang ikut sibuk adalah para opas.
“Tangkap Asni!” perintah Tuan Ruys kepada Bek Kemayoran. Keesokan harinya seorang pemuda yang gagah sudah diborgol dan ditahan di kantor Opas Kemayoran. Bek Kemayoran melaporkan hasil tangkapannya kepada Tuan Ruys.
“Langsung saja masukkan ke penjara, Saeyan!” perintah Tuan Ruys kepada Bek Kemayoran.
Asni keberatan dimasukkan ke penjara. Dia menjelaskan bahwa dia tidak berbuat apa-apa. Malam itu dia di rumah. Dia tidak pergi ke mana-mana. Saksinya juga berkata kalau malam itu Asni di rumah.
Setelah diselidiki dengan teliti, akhirnya Asni dilepas kembali, tidak jadi dimasukkan ke penjara.
Namun, ada syaratnya, yaitu dia harus sanggup menangkap perampok sebenarnya. Kalau tidak berhasil, dia akan dijebloskan kembali ke penjara.
Sementara itu, di Marunda ada seorang gadis remaja cantik bernama Mirah. Ibunya sudah lama meninggal, saat dia berusia tiga tahun. Bapaknya, Bang Bodong, belum mau menikah lagi. Dia selalu teringat istrinya yang tercinta. Oleh karena itu, Bang Bodong sangat menyayangi Mirah. Dia asuh Mirah dengan baik. Mirah dididik dengan penuh kesabaran agar kelak menjadi wanita yang dapat dibanggakan. Anehnya, Mirah lebih suka bermain dengan kawankawan lelaki. Dia senang mendayung sampai ke muara atau berenang tiap hari di Sungai Blencong. Tidak aneh kalau Mirah sering adu renang dari seberang sungai ke seberang lainnya.
Selain itu, Mirah juga tertarik pada ilmu silat. Dia bergabung dengan kawan-kawan lelakinya untuk berlatih silat. Dia bukan saja berbakat, tetapi juga pemberani. Melihat hal itu Bang Bodong melatih sendiri putrinya dengan lebih tekun. Dalam waktu singkat, ketangkasan Mirah sangat mengesankan. Sering dia diadu dengan kawan-kawan lelakinya. Tidak seorang pun sanggup menandingi ketangkasan Mirah.
Semua lelaki yang dihadapi dikalahkannya. Mirah sangat disegani dan tidak ada duanya di kampung Marunda.
Bapaknya merasa khawatir terhadap masa depan putrinya. Bagaimanapun Mirah adalah wanita, kelak memerlukan seorang pendamping, seorang pelindung, dan seorang suami. Kalau semua lelaki yang datang selalu ditolak, Mirah nantinya tidak menikah. la akan menjadi perawan tua.
Pada saat itu Asni melakukan penyelidikan ke Marunda. Dia ditegur penjaga gardu.
“Apa siang hari begini harus permisi juga?” tanya Asni.
Penjaga kampung Marunda tersinggung mendengar pertanyaan itu. Asni dipelototi dan segera ditendang. Namun, Asni sudah slap. Tendangan itu membuat penyerangnya hilang keseimbangan dan terjerembab. Kawan yang lain langsung memukul kepala Asni dengan tongkat. Dengan mudahnya Asni menangkap tangan penyerangnya, dipelintir sedemikian rupa hingga orang itu mengaduh kesakitan.
Kedua penjaga kampung itu segera an ke rumah Bang Bodong. Mereka lapor kalau mereka telah diserang seorang perusuh yang mabuk. Kontan Bang Bodong marah-marah. Dia mencari perusuh yang dimaksud. Tanpa banyak tanya Bang Bodong menyerang dengan jurus-jurusnya yang berbahaya. Repot juga Asni menangkis. Bang Bodong memang pendekar berpengalaman. Asni harus hati-hati mengambit langkah-langkah mengelak sehingga tidak heran kalau Bang Bodong hanya mendapatkan angin. Asni sigap sekali meloncat, bersalto ke belakang, koprol, dan berguling-guting. Akhirnya, Bang Bodong terengah-engah. Tanpa melakukan serangan balasan Bang Bodong sudah jatuh dengan sendirinya.
Mendengar ayahnya dikalahkan Asni yang jauh Iebih muda itu, Mirah seperti melayang saat lari menyerang ke arah lawan.
Asni justru senang menghadapi pendekar wanita yang mengamuk. Jurus-jurus Mirah sangat berbahaya. Mirah menggunakan tongkat. Hal itu membuat Asni jungkir balik. Elakan disertai tepisan tangan membuat Mirah terlempar ke kolam ikan. Tentu saja Mirah ditelan lumpur, tetapi dia bangkit kembali dengan cepat.
Kemudian, Asni diserang dengan pedang. Entah bagaimana caranya, pedang terlepas dari tangan dan Mirah terlempar ke pohon yang bercabang-cabang. Saat jatuh ke tanah, tubuh Mirah sudah ditangkap Asni. Mirah geram sekali, sementara Asni tersenyum-senyum. Hal itu membuat Mirah makin marah. Untung Bang Bodong mengikuti adu silat itu dengan saksama.
“Jodohmu datang juga akhirnya, Mirah,” kata ayahnya, “kamu harus terima dia sebagai pemenang yang jantan. Kamu tidak boleh ingkar janji. Dia berhak mengambilmu sebagai istri.”
Para pengikut Bang Bodong langsung bersorak. Asni diterima bekas musuhnya sebagai keluarga Baru. Pada saat itulah Asni menceritakan asal usul dirinya. Dia datang ke Marunda untuk mencari kawanan perampok. Dulu perampok itu merampok rumah Babah Yong di Kemayoran. Kalau sampai gagal menangkap kawanan perampok itu, dia akan masuk penjara.
Baik Mirah maupun ayahnya segera tahu siapa yang dimaksud. Tidak lain Tirta dan kelompoknya yang sering berbuat onar. Mereka tinggal di Karawang. Untuk menangkapnya tidak sulit, undang saja Tirta dan kawan-kawannya ke pesta perkawinan yang segera dilaksanakan di kampung Marunda.
Undangan disebar. Pesta dilangsungkan besar-besaran. Tamu-tamu Bang Bodong datang dari berbagai pelosok. Ketika Tirta datang, dia amat kaget bertemu dengan Bek Kemayoran. Ternyata bukan Bek saja yang dijumpai. Tirta juga melihat Tuan Ruys. Kemudian yang membuatnya paling tidak tenteram duduk adalah opas-opas dan para centeng Babah Yong. Mereka seperti sudah mengepung dirinya. Oleh karena itu, tidak ada cara lain yang dapat dilakukan Tirta kecuali mengeluarkan pistolnya. Dia mengacung-acungkan senjata api itu ke arah Bek Kemayoran dan segera ditembakkan. Letusan itu membuat para tame panik dan bubar. Bang Bodong bermaksud menghalangi Tirta yang ingin menembak lagi. Pistol meletus dan melukai Bang Bodong. Pendekar tua itu terpental dan dadanya berdarah. Dia pingsan tidak sadarkan diri.
Tirta kabur dari tempat pesta itu. Opas-opas mengejarnya. Centeng-centeng ikut mengejar sambil menghunus golok masing-masing. Akan tetapi, dari semua mengejar itu justru Mirah paling cepat. Dia segera tampak berebut pistol derigan Tirta. Setelah beberapa saat berguling-guling di pasir pantai, tiba-tiba letusan pistol menggema. Tirta tampak berwajah pucat sambil merintih kesakitan.
“Pokoknya saya sudah lega dapat berjumpa denganmu, Mirah. Hanya Benda ini yang dapat saya berikan kepadamu,” kata Tirta.
Setelah bungkusan itu dibuka, Mirah melihat pending emas yang indah. Dengan terharu Mirah memperkenalkan Asni yang datang menyusul.
“Ini suami saya, Tirta,” kata Mirah.
Tirta dan Asni bertatapan.
“Kamu adik saya, Asni,” kata Tirta sambil memeluk, “kita satu ayah. Ibu saya dari Karawang, Ibumu dari Banten.”
Tidak lama kemudian Tirta kehabisan darah dan tidak bernapas lagi. Asni dan Mirah amat sedih. Bang Bodong sudah siuman dari pingsannya dan mendapatkan perawatan.
Beberapa minggu kemudian, Asni dan Mirah meninggalkan Marunda. Mereka telah menjadi pasangan suami istri yang berbahagia dan tinggal di Kemayoran sampai tua.

MIRAH, LION FEMALE AND MARUNDA
On a night-watchman watchman at the house in Kemayoran Babah Yong sprawled on the floor. Babah Yong himself tied to a pole den. Furniture clutter. Valuables taken away robbers. That same evening, Mr Ruys Kemayoran local authorities soon came to learn the scars robbery. There is also Nadir Bek Kemayoran. Another officer who took part were busy Opas. "Catch Asni!" Ordered Mr. Ruys to Bek Kemayoran. The next day a handsome young man who was handcuffed and detained at the office Opas Kemayoran. Bek Kemayoran report their catch to Mr. Ruys.
"Simply put into prison, Saeyan!" Ordered Mr. Ruys to Bek Kemayoran.
Asni objections put into prison. He explained that he did not do anything about it. That night she was at home. He did not go anywhere. Witnesses also said that that night Asni at home.
After careful investigation, Asni finally released back, so do not put into jail.
However, there is the condition, that he should be able to catch the real robbers. If not successful, he would thrown back into jail.
Meanwhile, in Marunda there is a beautiful teenage girl named Mirah. Her mother was long dead, when he was three years. His father, Bang bulging, did not want to get married again. He always remembered his beloved wife. Therefore, Bang bulging loved Mirah. He Mirah with good parenting. Mirah was educated with great patience for women who may someday be proud of. Strangely, Mirah would rather play with kawankawan man. He likes to paddle up to the mouth or swim every day in River Blencong. Not funny if Mirah frequent swimming contest across the river to the other side.
In addition, Mirah also interested in martial arts. He was joined by her male comrades to practice martial arts. He's not only talented, but also brave. Seeing that his own daughter Bang bulging train more diligently. In a short time, dexterity Mirah very impressive. Often she competed with her male comrades. No one could match the agility Mirah.
All the men who faced defeat. Mirah highly respected and is second to none in the village Marunda.
His father was worried about the future of her daughter. However Mirah is a woman, will require a companion, a protector, and a husband. If all the men who come are always rejected, Mirah will not get married. He will become an old maid.
At that time an investigation into Marunda Asni. He reprimanded the guard booth.
"What must excuse me this afternoon as well?" Asked the Asni.
Marunda village guards offended at the question. Asni stared and immediately kicked. However, Asni already slap. Kick it makes the attacker off balance and fell. Another friend a direct hit Asni head with a stick. Asni easily capture the assailant's hand, twisted in such a way that the person was moaning in pain.
The two village guards were soon to house the bulging Bang. They reported that they had been attacked by a drunken rioters. Cash Bang bulging rage. He's looking for rioters in question. Without much question bulging Bang-jurusnya attacked with a dangerous stance. Repot also Asni ward. Bang bulging is an experienced warrior. Asni should carefully mengambit evasive measures, so do not be surprised if Bang bulging just get the wind. Asni swiftly once jumped, bersalto back, tumble, and roll-guting. Finally, Bang bulging out of breath. Without counterattacked Bang bulging already fallen by itself.
Hearing his father defeated a much Asni young Iebih, Mirah like flying when running attack to the opponent.
Asni just happy to face a raging warrior woman. Mirah moves very dangerous. Mirah using a cane. It made Asni somersaults. Dodgery accompanied tepisan hands make Mirah thrown into a swimming fish. Of course Mirah engulfed in mud, but she bounced back quickly.
Then, Asni attacked with swords. Somehow, despite the sword from the hand and Mirah thrown into a tree branch. While falling to the ground, the body has been arrested Asni Mirah. Mirah once growled, while Asni smiling. It made Mirah increasingly angry. Lucky Bang bulging follow martial arts fights carefully.
"You Soul Mate come also at last, Mirah," said his father, "you must accept him as the winner of the male. You can not break a promise. He is entitled to take you as a wife. "
The followers Bang bulging immediately cheered. Asni received by the former enemy as a new family. That's when Asni told her origins. He came to Marunda to look for robbers. First robbers rob a house in Kemayoran Babah Yong. If it fails to catch the robbers, he would go to jail.
Both Mirah and her father immediately know who is meant. No other Tirta and his group who often do troublemakers. They live in Karachi. Not difficult to catch, invite only Tirta and his friends to a wedding party held in the village immediately Marunda.
Invite deployed. The party held a large scale. Bang bulging guests come from all over. When Tirta came, he was very surprised to meet with defender Kemayoran. It was not the only defender who encountered. Tirta also saw Mr Ruys. Then that makes it at least is a peaceful sit-Opas Opas Babah Yong and his thugs. They like had surrounded himself. Therefore, there is no other way that can be done Tirta unless issued gun. He was brandishing a firearm in the direction of defender Kemayoran and immediately fired. The eruption that makes the TAME panic and disperse. Bang bulging intends to preclude Tirta who want to shoot again. The gun exploded and injured Bang bulging. The old warrior bounce and chest bleeding. He collapsed unconscious.
Tirta escape from the party. Opas Opas-chase. Pursue follow-thugs thugs wielding machetes while respectively. However, of all pursuit was precisely Mirah fastest. He soon was fought gun derigan Tirta. After a while rolling around on the sand beach, a sudden eruption of the gun echoed. Tirta looked pale face as she moaned in pain.
"Anyway I was glad to meet you, Mirah. This thing only can I give you, "said Tirta.
Once the package is opened, Mirah see a beautiful gold pending. By Mirah moved to introduce Asni who come after.
"It's my husband, Tirta," said Mirah.
Tirta and Asni stare at each other.
"You're my brother, Asni," Tirta said, hugging her, "we are a single dad. My mother was from Falkirk, mother of Banten. "
Not long after Tirta loss of blood and not breathing anymore. Asni and Mirah very sad. Bang bulging has been revived from fainting and getting treatment.
Several weeks later, left Marunda Asni and Mirah. They have become the happy couple and stayed in until the old Kemayoran.

SI PANJANG
Kompeni Belanda pada abad ke-18 di Batavia merasa menghadapi masalah besar. Hambatan itu datang dari kalangan pedagang. Pelopornya adalah para tauke. Saingan ini memang amat licin karena para tauke dan organisasinya begitu terpadu. Sampai ke pelosok-pelosok mereka punya jaringan yang rapi dan tidak kentara, terutama dalam bidang perdagangan. Kalau harga yang satu naik, harga yang lain ikut naik. Tidak ada yang berbeda. Begitu juga dengan barang-barang mana yang harus muncul dan mana pula yang tidak dikeluarkan dulu. Semua demi keuntungan para tauke.
Dengan alasan untuk kebugaran jasmani para pedagang dan warga warung kelontong di beberapa kampung Batavia sepakat untuk mendatangkan guru silat dari seberang laut. Mereka mengadakan latihan tersembunyi, biasanya malam hari. Kalau patroli Kompeni datang, mereka pura-pura latihan barongsai karena perayaan besar hampir tiba. Mereka nanti akan mengarak liong-liong besar dan panjang keliling kota Batavia sambil membakar kembang api sehari semalam. Pokoknya pesta besar. Kue-kue langka yang dibuat setahun sekali dan buah-buahan segar menjadi suguhan utama di tiap rumah. Serba istimewa.
Pejabat-pejabat Kompeni tidak suka kepada niat para tauke itu karena penguasa dan penentu segalanya di Batavia adalah para pejabat Kompeni, bukan para tauke. Oleh karena itu, para pejabat Kompeni mengadakan rapat pleno, dihadiri seiuruh bagian yang mengendalikan kota Batavia. Akhirnya, didapatkan beberapa jalan keluar, antara lain dengan mengerahkan budak belian sebanyak-banyaknya. Harga mereka juga tidak murah. Budak laki-laki bisa digunakan sebagai tenaga kasar di laut dan di hutan atau dilatih menjadi pengawal yang handal dan siap mati. Budak perempuan sebagai pembantu rumah tangga.
Karena selalu ikut tuannya yang kaya dan berkuasa, para budak banyak yang menjadi sombong, lupa asalnya. Di hadapan para tauke. mereka bisa berlagak. Bicaranya lebih tinggi dari tuannya. Ikut mengisap cerutu dan bertolak pinggang. Sering terjadi perkelahian antara para budak dan pedagang kelontong di pasar. Anehnya, biarpun para budak itu di pihak yang bersalah, sesampai di pengadilan mereka dibela. Akhirnya timbul protes, kelihatan sekali pejabat-pejabat Kompeni tetap lebih melindungi para budak. Para tauke disalahkan.
“Itu tidak adil,” gerutu si Panjang di hadapan kawan-kawannya.
Si Panjang adalah salah seorang tauke yang sudah lama mengikuti latihan silat di Gading Melati dekat Gandaria. Karena kecakapannya yang menonjol, si Panjang diangkat menjadi pemimpin para pesilat. Dia juga mulai dihormati sebagai guru mereka, dianggap sebagai pengganti guru dari Tiongkok yang sudah tua dan tidak bertenaga lagi itu. Si Panjang masih muda, berusia tiga puluhan, dan kuat. Tidak heran jika dia menjadi tumpuan kawan-kawan pesilat se-Betawi.
“Kalian harus berlatih lebih giat,” kata si Panjang, dimulai sekarang kalian harus berkumpul di sini tiap malam. Kita latihan yang praktis saja, yaitu teknik-teknik mempertahankan diri. Kita juga perlu memperdalam penyerangan dengan tenaga kosong. Gerakan dengan sedikit tenaga, tetapi dapat melumpuhkan lawan. Siapa tahu bisa digunakan sewaktu-waktu. Akan tetapi, rahasia harus tetap kita pegang. Sekali lagi tutup mulut. Berlagaklah seperti tidak tahu apa-apa, tetapi pasang telinga tajam-tajam. Kalau mengetahui hal-hal yang aneh dan mencurigakan, cepat bentahukan ke pusat kita di sini.”
Banyak amanat dan nasihat si Panjang kepada kawan-kawannya. Di antaranya harus tetap ramah kepada orang-orang Kompeni. Mereka yang masih bersahabat teruskan persahabatan itu dan yang berdagang harus makin meningkatkan usaha dagangnya. Akan tetapi, begitu sore hari kalau warung serta toko tutup, mereka satu per satu harus berkumpul kembali ke Gading Melati. Mereka membawa sumbangan makanan dan minuman serta bahan makanan pokok yang bisa disimpan untuk kepentingan perkumpulan silat. Mereka yang memiliki jung-jung di pelabuhan Batavia juga diberi tugas untuk menyediakan satu jung khusus. Siapa tahu dapat digunakan sewaktu-waktu dalam keadaan darurat.
Penguasa Batavia pada waktu itu Gubernur Jenderal Baron van Imhoff. Dari laporan Para penyelidik. dia langsung bisa membaca gelagat aneh dalam kota pemerintahannya. Dia menyebarkan agen-agennya ke daerah sasaran. Di antara agen-agennya itu ada yang bernama Liu Chu. Dari Liu Chu diketahui bahwa pengikut si Panjang makin banyak dan tempat mereka berkumpul di Gading Melati dekat pabrik gula.
“Apa yang mereka kerjakan di sang, mata-mata?” tanya Gubernur Jenderal Baron van Imhoff. Jawab Liu Chu, “Mereka menimbun candu. Hanya bagian atas saja yang berwujud rempah-rempah.”
Selanjutnya Liu Chu menjelaskan bahwa mereka juga mengumpulkan senjata tajam. Tiap malam mereka berlatih penuh semangat. Ikut hadir saat Liu Chu memberikan laporan adalah Jacob. Setelah Liu Chu meninggalkan ruangan, Jacob diperintahkan Baron van Imhoff untuk mengadakan rapat yang membicarakan peningkatan keamanan. Keputusan rapat, kalau para tauke tidak bisa dikendalikan lagi, akan dibuang ke Ceylon (sekarang Sri Lanka).
Si Panjang dan kawan-kawan sudah mendengar keputusan yang dianggap sangat gila ini. Mengapa Beng Kong yang telah ditunjuk sebagai wakil para tauke menurut saja kepada Kompeni? Mengapa tidak memberikan gambaran sedikit lebih baik?
Swa Beng Kong adalah Kapten Cina yang sudah berkali-kali diperintahkan Gubernur Jenderal Baron van Imhoff untuk membubarkan perkumpulan silat di kampung Gading Melati. Akan tetapi, mereka tetap saja membangkang. Malah Si Panjang mulai menunjukkan sikap permusuhan. Jacob mengusulkan agar orang-orang berpakaian pangsi hitam atau biru ditangkap saja. Padahal waktu itu orang baik-baik pun senang memakai pangsi hitam atau biru. Lebih-lebih saat diadakan pesta barongsai. Masyarakat dari berbagai lapisan dan golongan tumpah ruah di pusat kota Batavia.
Selesai berpesta, serdadu-serdadu Kompeni sudah mengepung pusat keramaian. Mereka yang berpangsi hitam dan biru ditangkap. Orang-orang itu digiring ke balai kota. Lalu, dipindahkan ke patroli keamanan yang sudah disiapkan di tepi sungai. Sampai di muara Sungai Ciliwung mereka dipindahkan ke kapal perang. Sementara itu, beberapa orang sempat menyelamatkan diri. Empat orang lari ke Gading Metati. Mereka segera menemui si Panjang.
Dan keterangan para pelarian itu, si Panjang menggeleng-gelengkan kepala, “Sepertinya tidak mungkin. Apa benar mereka yang tertangkap diceburkan di tengah laut sebagai santapan hiu?” Sekali lagi si Panjang menggeleng-gelengkan kepaia. Dia bertekad melakukan batasan. Kemudian, dia mengerahkan anak buahnya yang sudah terlatih dalam bersilat dan para pelaut perantauan, temannya datam menyelundupkan candu. Beberapa puluh senjata bisa dimiliki. Tidak sedikit serdadu Kompeni yang berjatuhan kena peluru dari pendukung-pendukung si Panjang. Akan tetapi, Baron van Imhoff mengirimkan serdadu lebih banyak lagi. Akhirnya, kekuatan si Panjang tidak seimbang. Ketangkasan bersilat saja tidak akan mampu menghadapi pasukan bersenjata yang terlatih. Anak buah si Panjang kocar-kacir. Sementara itu, serdadu-serdadu Kompeni semakin ganas. Si Panjang dan gerombolannya mengundurkan diri sampai ke Peninggaran. Di sini si Panjang kena peluru dan tewas.
Gubernur Jenderal Baron van Imhoff tidak meiupakan jasa Liu Chu yang bertindak sebagai mata-mata selama pemerintahannya. Dia menaikkan gaji Liu Chu menjadi 80 dukat setiap bulan dan memberi hadiah-hadiah lainnya. Tentu saja disertai kenaikan pangkat.

SI LONG
Dutch Company in the 18th century in Batavia was facing a big problem. Barriers that come from among traders. Vanguard is the boss. This rival was very slippery because of the boss and organization were so integrated. Up to the outposts they have a network of neat and subtle, especially in the field of trade. If the price of one goes up, other prices go up. Nothing is different. So also with goods which have appeared and where others are not removed first. All for the benefit of the employer.
The grounds for physical fitness traders and residents in some village grocery shop Batavia agrees to bring in martial arts teachers from across the sea. They held a secret exercise, usually at night. If the Company patrol arrived, they pretend lion dance training for a big celebration is almost here. They will be parading liong large and long-liong around the city of Batavia while burning fireworks day and night. Anyway a big party. The cakes are made once a year of rare and fresh fruits into the main treat in every home. Multipurpose special.
Company officials did not like the intention of the employer because the ruling and deciding everything in Batavia is the Company officials, not the boss. Therefore, Company officials held a plenary meeting, attended by seiuruh part that controls the city of Batavia. Finally, found some way out, among others, by deploying as many as bondsman. Their price also not cheap. Male slave could be used as a rough power at sea and in the woods or trained to be guards that are reliable and ready to die. Slave women as domestic servants.
Always follow the rich and powerful masters, many slaves who became arrogant, forgetting its origin. In front of the boss. they can act. His speech was higher than his master. Participate smoke cigars and hips. Often a fight broke out between the slaves and grocery traders in the market. Strangely, though the slaves were on the guilty party, when she reached the court they defended. Finally protests arise, look at all of the Company officials still better protect the slaves. The boss blamed.
"That's not fair," grumbled the length in front of his friends.
The length was one boss who has long followed the practice martial arts in Ivory Jasmine near Gandaria. Because the skills that stand out, Long became the leader of the fighters. He also began to be respected as their teachers, considered as a substitute teacher from China who are old and not that powerful anymore. The length was young, in his thirties, and strong. No wonder he's become the foundation of my friends fighters as Betawi.
"You have to practice harder," said the length, starting now you have gathered here every night. Our practical training course, which is self-defense techniques. We also need to deepen the attack with empty energy. Movement with little effort, but can paralyze opponents. Who knows could be used at any time. However, we hold must remain secret. Once again, keep your mouth shut. Berlagaklah like not knowing anything, but listened intently. If you know things are strange and suspicious, quick bentahukan to our center here. "
Many of the mandate and the length of advice to his friends. Among these should remain friendly to the people of the Company. They are still friends continue that friendship and that trade must increase to increase its trading business. However, once the late afternoon if the stalls and shops are closed, they one by one be gathered back to the Ivory Jasmine. They take donations of food and beverages and basic food that can be stored for the benefit of martial arts clubs. Those who have the junks in the harbor of Batavia also given the task to provide a special jung. Who knows may be used at any time in an emergency.
Batavia rulers at that time Governor-General Baron van Imhoff. From the report of the Investigators. he can instantly read strange signs in the city administration. He spread his agents into the target area. Among the agents that there is a named Liu Chu. From Liu Chu is known that followers of the length of the lot and where they were sitting in Ivory Jasmine near the sugar factory.
"What are they doing in her, a spy?" Asked the Governor-General Baron van Imhoff. Chu Liu replied, "They're stockpiling opium. Only the top only tangible spices. "
Furthermore, Liu Chu explained that they also collect a sharp weapon. Each night they practiced vigorously. Chu Liu was present when a report is Jacob. After Liu Chu left the room, Jacob Baron van Imhoff ordered to convene meetings to discuss improving security. Decision meeting, if the employer can not be controlled anymore, will be moved to Ceylon (now Sri Lanka).
The Long and his colleagues had heard the decision which is considered very crazy. Why Beng Kong who has been appointed as the representative of the employer according only to the VOC? Why not give the picture a little better?
Swa Beng Kong is China Captain who has repeatedly ordered the Governor-General Baron van Imhoff to dissolve the association in the village of Silat Ivory Jasmine. However, they remained defiant. In fact, The Long began to show hostility. Jacob suggested that the people dressed in black or blue pangsi arrested alone. And then good people were happy to wear black or blue pangsi. The more so when the party held barongsai. Community groups from various walks of life and cornucopia in downtown Batavia.
Finished partying, Company soldiers had surrounded the center of the crowd. They are black and blue berpangsi arrested. The men were herded into the town hall. Then, moved to the security patrol that had been prepared on the riverbank. Until the Ciliwung River estuary they were moved to warships. Meanwhile, some people could save themselves. Four people fled to Ivory Metati. They immediately see the length.
And the statements of the fugitives, the length shook his head, "It seems impossible. Is it true they are caught diceburkan in the middle of the sea as shark food? "Again he shook his kepaia length.
He was determined to make restrictions. Then, he deployed his men who had trained in bersilat and sailors overseas, his friend datam smuggle opium. Several dozen guns can be owned. Not a few soldiers of the Company that fell from the bullet hit the supports of the length. However, Baron van Imhoff send more troops. Finally, the length of the power imbalance. Bersilat dexterity alone will not be able to deal with the armed forces are trained. Long's men's topsy-turvy. Meanwhile, soldiers of Company increasingly vicious. The Long and his gang came to Peninggaran resign. Here, the length of the bullets hit and killed.
Governor-General Baron van Imhoff not meiupakan Chu Liu services which act as a spy during his reign. Chu Liu He raised salaries by 80 ducats each month and give other gifts. Of course accompanied by a promotion.

DATU KALAKA
Menurut cerita orang tua-tua beberapa abad yang lalu, di suatu kampung tinggallah seorang lelaki bernama Datu Kalaka. Ia amat disegani dan dihormati orang-orang di kampung itu karena ia menjadi pemimpin masyarakat di sana. Itu pula sebabnya ia diberi gelar datu oleh masyarakat.
Datu Kalaka disegani dan dihormati masyarakat, tetapi ia dibenci dan ditakuti Belanda. Ia sangat menentang Belanda dan memimpin perlawanan yang banyak meminta korban di pihak Belanda. Anehnya, walaupun pernah berkali-kali terkepung pasukan Belanda, Datu Kalaka selalu dapat meloloskan diri.
Tersebar berita di masyarakat, khususnya di kalangan orang Belanda, bahwa Datu Kalaka mempunyai kesaktian menghilangkan diri. Walaupun orang biasa dapat melihat, orang Belanda tetap tidak mampu melihat. Hal itu membuat penasaran pihak Belanda. Dengan segala tipu daya, mereka berusaha menangkap Datu Kalaka. Mereka menjanjikan hadiah besar bagi siapa saja yang mampu menyerahkan Datu Kalaka hidup maupun mati kepada pihak Belanda
Oleh karena itu, Datu Kalaka selalu pindah tempat tinggal untuk menghindarkan diri dari Belanda. Jadi, jika Belanda berusaha mencarinya di kampung pasti sia-sia. Akan tetapi, pada waktu-waktu tertentu, ia kembali ke rumah, berkumpul dengan keluarga dan masyarakat sekitar.
Karena sudah cukup lama Belanda tidak pernah datang ke kampungnya, Datu Kalaka merasa aman dan tidak perlu pindah tempat tinggal. Ia menetap di kampung sambil mengerjakan ladang dan kebun serta memimpin masyarakat.
Pada suatu hari, ketika Datu Kalaka sedang bersantai di rumah, ada orang datang memberitahu bahwa pasukan Belanda memasuki kampung. Tentu mereka akan menangkap Datu Kalaka.
Sebagai seorang datu, Datu Kalaka tidak mau menunjukkan kekhawatirannya di hadapan orang lain. Ia juga tidak ingin menyelamatkan diri sendiri jika masyarakat menjadi korban karenanya. Oleh karena itu, ia menyuruh penduduk menyelamatkan diri. Setelah itu, ia memikirkan cara untuk meloloskan diri. Sayang, tempat tinggalnya sudah dikepung Belanda. Tidak mungkin lagi ia lepas dari sergapan. Jika sampai tertangkap, ia tidak dapat membayangkan hukuman apa yang akan diterimanya. Mungkin ia akan disiksa, dikurung, bahkan dibunuh. Jika ia melawan, berarti bunuh diri.
Datu Kalaka tidak ingin ditangkap dan tidak mau mati konyol. Ia berpikir cepat dan memutuskan mengambil jalan nekat yang tidak masuk akal. Jika jalan yang ditempuh itu ternyata meleset, nyawa taruhannya.
Ketika pasukan Belanda memasuki kampung, mereka amat penasaran karena kampung sepi. Rumah-rumah kosong. Belanda marah dan melampiaskan kemarahan mereka dengan menghancurkan kampung itu. Mereka berpencar dan memeriksa segenap pelosok kampung.
Mereka kaget ketika tiba-tiba melihat suatu pemandangan aneh tapi nyata di suatu lorong. Sebuah ayunan raksasa! Kedua sisi kain panjang yang dijadikan ayunan itu diikat wilatung (sejenis rotan yang besar batangnya) ditautkan ke puncak betung (bambu besar) yang ada di kiri kanan lorong itu. Mereka amat terkejut ketika menengok ke dalam ayunan yang berada di tengah-tengah lorong. Di dalam ayunan itu terbaring dengan tenangnya seorang bayi raksasa sebesar ayunan. Bayi itu menatap serdadu Belanda yang berdiri di sekeliling ayunan, kemudian ia memejamkan mata. Ukuran bayi itu lebih besar dan panjang daripada ukuran orang dewasa yang normal. Seluruh tubuhnya ditumbuhi bulu, bahkan berkumis dan bercambang lebat.
Seluruh anggota pasukan Belanda gemetar ketakutan. Jika bayinya saja sebesar itu, apalagi orang tuanya. Pasukan Belanda pun hilang keberaniannya. Mereka segera meninggalkan bayi raksasa dan kampung yang telah kosong itu untuk kembali ke markas.
Bayi raksasa itu ternyata Datu Kalaka. Sebelum pasukan Belanda datang, ia sempat membuat ayunan. Kemudian, ia berbaring di dalam ayunan itu dan berlaku seperti bayi.
Di Kabupaten Hulu Sungal Tengah Propinsi Kalimantan Selatan sekarang masih ada sebuah desa bernama Kalaka. Konon, nama itu diambil dari nama Datu Kalaka. Di sana juga ada sebuah makam, menurut orang tua-tua makam itu makam Datu Kalaka. Makam itu luar biasa besarnya, jarak antara nisan yang satu dengan nisan lainnya kucang lebih dua meter. Orang percaya bahwa tubuh Datu Kalaka itu tinggi besar, lebar dadanya kurang lebih tujuh kilan (jengkal).

DATU KALAKA
According to the story the elders a few centuries ago, in a village lived a man named Datu Kalaka. He greatly respected and revered people in the village since he became leader of the community there. That's also why he was given the title Datu by the community.
Kalaka Datu respected and revered people, but he was hated and feared by the Dutch. He strongly opposed the Netherlands and led the opposition that a heavy toll on the Dutch side. Strangely, although many times have besieged the Dutch troops, Datu Kalaka can always escape.
Spread the news in the community, especially among the Dutch, that Datu Kalaka have rid themselves supernatural powers. Although ordinary people can see, the Dutch still unable to see. That made curious about the Dutch. With all the deception, they tried to arrest Datu Kalaka. They promised big rewards for anyone who can give up Datu Kalaka living and dead to the Netherlands
Therefore, Datu Kalaka always be resettled to avoid the Netherlands. So, when the Dutch tried to look it up in the village certainly futile. However, at certain times, he returned home, gathered with family and community.
Because the Netherlands is long enough never came to his village, Datu Kalaka feel safe and do not need to be resettled. He settled in the village while working the fields and gardens as well as leading the community.
One day, when Datu Kalaka were relaxing at home, no one came to tell the Dutch troops entered the village. Sure they will catch Datu Kalaka.
As a datu, Datu Kalaka not want to show fear in front of others. He also did not want to save yourself if the people become victims because of it. Therefore, he told people to save themselves. After that, he thought of a way to escape. Unfortunately, his home was besieged Netherlands. He is no longer possible to escape the ambush. If you get caught, he can not imagine what the punishment will be receiving. Maybe he will be tortured, imprisoned, even killed. If she resisted, then committed suicide.
Datu Kalaka not want to arrest and did not want to die stupid. He thinks quickly and decides to take a reckless unreasonable. If the way of it was missed, lives at stake.
When Dutch troops entered the village, they were very curious because the village is quiet. The houses were empty. Dutch angry and to vent their anger by destroying the village. They split up and check all the corners of the village.
They were shocked when he suddenly saw a strange sight but true in a hallway. A giant swing! Both sides of the long cloth which is used as the swing was tied wilatung (a kind of a big wicker trunk) linked to the top betung (large bamboo) that exist on both sides of the corridor. They were very surprised when it turned into a swing that was in the middle of the hallway. In the swing was lying quietly for a giant baby swing. The baby was staring at Dutch soldiers who stood around the swing, then he closed his eyes. The size of the baby is larger and longer than the size of a normal adult. Her whole body was covered with feathers, even the bearded mustache and bushy.
All members of the Dutch troops trembling with fear. If the baby alone for it, let alone their parents. Dutch troops had lost his courage. They immediately left the infant who has been gigantic and empty villages to return to base.
The giant baby was Datu Kalaka. Before the Dutch troops arrived, he could make a swing. Then he lay on the swing it and act like a baby.
In the Middle Sungal Hulu regency of South Kalimantan province still exists a village named Kalaka. That said, the name was taken from the name of Datu Kalaka. There also is a grave, according to the elders of the tomb was the tomb of Datu Kalaka. The tomb is enormous, the distance between the headstone of one with another headstone kucang over two meters. People believe that the body was Datu Kalaka big, wide chest approximately seven span (span).

LEGENDA TALAGA BIDADARI
Telaga itu tidak seberapa lebar dan dalam, kurang lebih tiga meter panjangnya dan dua meter lebarnya dengan kedalaman dua meter. Airnya Bening dan jernih, tidak pernah kering walau kemarau panjang sekalipun. Letaknya di atas sebuah pematang, di bawah keteduhan, kelebatan, dan kerindangan pepohonan, khususnya pohon limau. Jika pohon-pohon limau itu berbunga, berkerumunlah burung-burung dan serangga mengisap madu. Di permukaan tanah itu menjalar dengan suburnya sejenis tumbuhan, gadung namanya. Gadung mempunyai umbi yang besar dan dapat dibuat menjadi kerupuk yang gurih dan enak rasanya. Akan tetapi, jika kurang mahir mengolah bisa menjadi racun bagi orang yang memakannya karena memabukkan.
Daerah itu dihuni seorang lelaki tampan, Awang Sukma namanya. la hidup seorang diri dan tidak mempunyai istri. Ia menjadi seorang penguasa di daerah itu. Oleh karena itu, ia bergelar data. Selain berwajah tampan, ia juga mahir meniup suling. Lagu-lagunya menyentuh perasaan siapa saja yang mendengarkannya.
Awang Sukma sering memanen burung jika pohon limau sedang berbunga dan burung-burung datangan mengisap madu. Ia memasang getah pohon yang sudah dimasak dengan melekatkannya di bilah-bilah bambu. Bilah-bilah bambu yang sudah diberi getah itu disebut pulut. Pulut itu dipasang di sela-sela tangkai bunga. Ketika burung hinggap, kepak sayapnya akan melekat di pulut. Semakin burung itu meronta, semakin erat sayapnya melekat. Akhirnya, burung itu menggelepar jatuh ke tanah bersama bilah-bilah pulut. Kemudian, Awang Sukma menangkap dan memasukkannya ke dalam keranjang. Biasanya, puluhan ekor burung dapat dibawanya pulang. Konon itulah sebabnya di kalangan penduduk, Awang Sukma dijuluki Datu Suling dan Datu Pulut.
Akan tetapi, pada suatu hari suasana di daerah itu amat sepi. Tidak ada burung dan tidak ada seekor pun serangga berminat mendekati bunga-bunga Iimau yang sedang merekah.
“Heran,” ujar Awang Sukma, “sepertinya bunga limau itu beracun sehingga burung-burung tidak mau lagi menghampirinya.” Awang Sukma tidak putus asa. Sambil berbaring di rindangnya pohon-pohon limau, ia melantunkan lagu-lagu indah melalui tiupan sulingnya. Selalu demikian yang ia lakukan sambil menjaga pulutnya mengena. Sebenarnya dengan meniup suling itu, ia ingin menghibur diri. Karena dengan lantunan irama suling, kerinduannya kepada mereka yang ia tinggalkan agak terobati. Konon, Awang Sukma adalah seorang pendatang dari negeri jauh.
Awang Sukma terpana oleh irama sulingnya. Tiupan angin lembut yang membelai rambutnya membuat ia terkantuk-kantuk. Akhirnya, gema suling menghilang dan suling itu tergeletak di sisinya. Ia tertidur.
Entah berapa lama ia terbuai mimpi, tiba-tiba ia terbangun karena dikejutkan suara hiruk pikuk sayap-sayap yang mengepak. Ia tidak percaya pada penglihatannya. Matanya diusap-usap.
Ternyata, ada tujuh putri muda cantik turun dari angkasa. Mereka terbang menuju telaga. Tidak lama kemudian, terdengar suara ramai dan gelak tawa mereka bersembur-semburan air.
“Aku ingin melihat mereka dari dekat,” gumam Awang Sukma sambil mencari tempat untuk mengintip yang tidak mudah diketahui orang yang sedang diintip
Dari tempat persembunyian itu, Awang Sukma dapat menatap lebih jelas. Ketujuh putri itu sama sekali tidak mengira jika sepasang mata lelaki tampan dengan tajamnya menikmati tubuh mereka. Mata Awang Sukma singgah pada pakaian mereka yang bertebaran di tepi telaga. Pakaian itu sekaligus sebagai alat untuk menerbangkan mereka saat turun ke telaga maupun kembali ke kediaman mereka di kayangan. Tentulah mereka bidadari yang turun ke mayapada.
Puas bersembur-semburan di air telaga yang jernih itu, mereka bermain-main di tepi telaga. Konon, permainan mereka disebut surui dayang. Mereka asyik bermain sehingga tidak tahu Awang Sukma mengambil dan menyembunyikan pakaian salah seorang putri. Kemudian, pakaian itu dimasukkannya ke dalam sebuah bumbung (tabung dari buluh bekas memasak lemang). Bumbung itu disembunyikannya dalam kindai (lumbung tempat menyimpan padi).
Ketika ketujuh putri ingin mengenakan pakaian kembali, ternyata salah seorang di antara mereka tidak menemukan pakaiannya. Perbuatan Awang Sukma itu membuat mereka panik. Putri yang hilang pakaiannya adalah putri bungsu, kebetulan paling cantik. Akibatnya, putri bungsu tidak dapat terbang kembali ke kayangan.
Kebingungan, ketakutan, dan rasa kesal membuat putri bungsu tidak berdaya. Saat itu, Awang Sukma keluar dari tempat persembunyiannya.
“Tuan Putri jangan takut dan sedih,” bujuk Awang Sukma, “tinggallah sementara bersama hamba.”
Tidak ada alasan bagi putri bungsu untuk menolak. Putri bungsu pun tinggal bersama Awang Sukma.
Awang Sukma merasa bahwa putri bungsu itu jodohnya sehingga ia meminangnya. Putri bungsu pun bersedia menjadi istrinya. Mereka menjadi pasangan yang amat serasi, antara ketampanan dan kecantikan, kebijaksanaan dan kelemahlembutan, dalam ikatan cinta kasih. Buah cinta kasih mereka adalah seorang putri yang diberi nama Kumalasari. Wajah dan kulitnya mewarisi kecantikan ibunya.
Rupanya memang sudah adat dunia, tidak ada yang kekal dan abadi di muka bumi ini. Apa yang disembunyikan Awang Sukma selama ini akhirnya tercium baunya.
Sore itu, Awang Sukma tidur lelap sekali. Ia merasa amat lelah sehabis bekerja. Istrinya duduk di samping buaian putrinya yang juga tertidur lelap. Pada saat itu, seekor ayam hitam naik ke atas lumbung. Dia mengais dan mencotok padi di permukaan lumbung sambil berkotek dengan ribut. Padi pun berhamburan ke lantai.
Putri bungsu memburunya. Tidak sengaja matanya menatap sebuah bumbung di bekas kaisan ayam hitam tadi. Putri bungsu mengambil bumbung itu karena ingin tahu isinya. Betapa kaget hatinya setelah melihat isi bumbung itu.
“Ternyata, suamiku yang menyembunyikan pakaianku sehingga aku tidak bisa pulang bersama kakak-kakakku,” katanya sambil mendekap pakaian itu.
Perasaan putri bungsu berkecamuk sehingga dadanya turun naik. Ia merasa gemas, kesal, tertipu, marah, dan sedih. Aneka rasa itu berbaur dengan rasa cinta kepada suaminya.
“Aku harus kembali,” katanya dalam hati.
Kemudian, putri bungsu mengenakan pakaian itu. Setelah itu, ia menggendong putrinya yang belum setahun usianya. Ia memeluk dan mencium putrinya sepuas-puasnya sambil menangis. Kumalasari pun menangis. Tangis ibu dan anak itu membuat Awang Sukma terjaga.
Awang Sukma terpana ketika menatap pakaian yang dikenakan istrinya. Bumbung tempat menyembunyikan pakaian itu tergeletak di atas kindai. Sadarlah ia bahwa saat perpisahan tidak mungkin ditunda lagi.
“Adinda harus kembali,” kata istrinya. “Kanda, peliharalah putri kita, Kumalasari. Jika ia merindukan ibunya, Kanda ambillah tujuh biji kemiri, masukkan ke dalam bakul. Lantas, bakul itu Kanda goncang-goncangkan. Lantunkanlah sebuah lagu denganngan suling Kanda. Adinda akan datang menjumpainya.”
Putri bungsu pun terbang dan menghilang di angkasa meninggalkan suami dan putri tercintanya. Pesan istrinya itu dilaksanakannya. Bagaimana pun kerinduan kepada istrinya terpaksa dipendam karena mereka tidak mungkin bersatu seperti sedia kala. Cinta kasihnya ditumpahkannya kepada Kumalasari, putrinya.
Konon, Awang Sukma bersumpah dan melarang keturunannya untuk memelihara ayam hitam yang dianggap membawa petaka bagi dirinya.
Telaga yang dimaksud dalam legenda di atas kemudian diberi nama Telaga Bidadari, terletak di desa Pematang Gadung. Desa itu termasuk wilayah Kecamatan Sungai Raya, delapan kilometer dari kota Kandangan, ibukota Kabupaten Hulu Sungai Selatan Propinsi Kalimantan Selatan.
Sampai sekarang, Telaga Bidadari banyak dikunjungi orang. Selain itu, tidak ada penduduk yang memelihara ayam hitam, konon sesuai sumpah Awang Sukma yang bergelar Datu Pulut dan Datu Suling.

TALAGA FAIRY LEGEND
Lake was not how wide and deep, about three meters long and two meters wide with a depth of two meters. The water Bening and clear, never dry even though the long drought. It's on top of a ridge, in the shade, heaviness, and shade trees, particularly the lemon tree. If the lime trees were flowering, gathered the birds and insects suck honey. On the surface soil was spread with a kind of fertile plants, gadung name. Yam tubers have a large and crackers can be made into a tasty and delicious. However, if less adept process can be poisonous to people who eat them as intoxicating.
The area was inhabited by a handsome man, Awang Sukma name. He lived alone and had no wife. He became a ruler in the area. Therefore, he holds the data. In addition to a handsome, he is also adept at blowing the flute. His songs touched the feelings of anyone who listened.
Awang Sukma often harvest the birds if the lemon tree is blooming and the birds coming to suck the honey. He put the tree sap that has been cooked to attach the bamboo planks. Bamboo planks that have been given the sap is called sticky rice. Pulut was installed at the sidelines of the flower stalk. When the bird alighted, flaps its wings will be attached to the sticky rice. The more the bird struggled, the more closely attached to their wings. Finally, the bird fell to the ground flounder along the blades of sticky rice. Then, Awang Sukma arrested and put into the basket. Typically, dozens of birds can be brought home. It is said that is why among the population, dubbed Sukma Awang Datu Datu Flute and sticky rice.
However, one day the atmosphere in that area very quiet. There are no birds and no one was interested in approaching insect Iimau flowers that are broke.
"Strange," said Awang Sukma, "it seems that toxic orange blossom so that the birds no longer want him." Awang Sukma not despair. Lying in the shade of linden trees, she sang beautiful songs through toot flute. Always the case that he did while preserving pulutnya effective. Actually, by blowing the flute, he wanted to entertain myself. For with the ricochet of the rhythm flute, longing to those he left behind a little relieved. That said, Awang Sukma was an immigrant from a distant land.
Awang Sukma was struck by the rhythm of the flute. Gentle breeze that caressed his hair made him sleepy. Finally, the echo flute flute disappeared and was lying on his side. He fell asleep.
Wonder how long he swayed a dream, suddenly he was awakened by the sound startled frenzy of flapping wings. He does not believe in the vision. -Swab rubbed his eyes.
Apparently, there are seven beautiful young daughter fell from the sky. They flew toward the lake. Not long after, the sound of their laughter crowded and bersembur-blast of water.
"I want to see them up close," muttered Awang Sukma while looking for a place to peek that is not easily known to the person being spy
From the hideout, Awang Sukma can be looked at more clearly. Seventh daughter had no idea that if a pair of good-looking man with a sharp eye to enjoy their bodies. Sukma Awang eye drop on their clothes scattered on the shores of the lake. The clothes as well as a tool to carry them when down to the lake and returned to their residence in heaven. They would have an angel who descended into Mayapada.
Satisfied bersembur-bursts in the clear lake water, they play around on the edge of the lake. That said, the game they called surui ladies. They're busy playing, so do not know Awang Sukma took and hid the clothes of a princess. Then, the inclusion of the clothing into a tube (a tube of reed used to cook lemang). Tube, he hid in kindai (a place to store rice granary).
When the seventh daughter wants to wear clothes again, it turns out one of them did not find his clothes. Sukma Awang act that made them panic. Princess is missing her clothes is the youngest daughter, the most beautiful coincidence. As a result, the youngest daughter can not fly back to heaven. Confusion, fear, and resentment make youngest daughter was helpless. At that time, Awang Sukma out of the closet.
"My lady do not be afraid and sad," persuaded Awang Sukma, "stay a while with me."
There is no reason for the youngest daughter to refuse. Youngest daughter also lives with Awang Sukma.
Awang Sukma feel that the youngest daughter was her soul mate so that she ask for her hand. Youngest daughter was willing to become his wife. They become partners of a piece, between good looks and beauty, wisdom and gentleness, in the bond of charity. The fruit of their love is a daughter named Kumalasari. His face and his skin had inherited her mother's beauty.
Apparently it was customary world, nothing is eternal and immortal on this earth. What is hidden during this Sukma Awang finally smelled the smell.
That afternoon, Awang Sukma very deep sleep. He felt very tired after work. His wife sat beside the cradle of her daughter who was also asleep. At that time, a black chicken onto the barn. He was scratching at the surface and mencotok rice granary while cackle noisily. Rice was scattered on the floor.
Youngest daughter after him. Not intentionally eyes stare at a tube in the former black cock kaisan earlier. Tube youngest daughter took it because he wanted to know its contents. What a shock his heart after seeing the contents of that tube.
"Apparently, my husband who hid my clothes so I could not go home with my brothers," he said, clutching the clothes.
Youngest daughter struggled with feelings that go up and down his chest. He felt exasperated, annoyed, cheated, angry, and sad. Assorted flavor that mingled with the love of her husband.
"I have to go back," he said to himself.
Then, the youngest daughter wore it. After that, she was holding her daughter's not yet a year old. He hugged and kissed her daughter crying your heart's content. Kumalasari cried. Mother and child cry it makes Awang Sukma awake.
Awang Sukma was stunned when his wife looked at your clothes. Tube place to hide the clothes lying on the kindai. She realized that while separation may not be delayed anymore.
"Adina be back," said his wife. "Kanda, keep our daughter, Kumalasari. If he misses his mother, Kanda take seven seeds pecan, insert it into the basket. Then, the basket-Shake shake Kanda. Lantunkanlah a flute song denganngan Kanda. Adina will come see him. "
Youngest daughter was flying in the sky and disappeared leaving her beloved husband and daughter. Messages that her execution. How was the longing for his wife had buried because they can not be united as usual. Kumalasari she set her love to her daughter.
That said, Awang Sukma swear and prohibiting his descendants to maintain a black cock that is considered a catastrophe for him.
Lake as defined in the legend above and then given the name Angel Lake, located in the village of Pematang Gadung. The village was included Sungai Raya District, eight miles from town Kandangan, the capital of Upper South River South Kalimantan Province.
Until now, Lake Angel visited by many people. In addition, there is no black residents who raise chickens, reputedly based on that title sworn Sukma Awang Datu Datu pulut and Flute.

ULAR DANDAUNG
Konon, dahulu kala ada sebuah kerajaan. Tidak disebutkan oleh pencerita apa nama kerajaan itu. Menurut cerita, kerajaan itu cukup besar. Negerinya kaya raya sehingga penghasilan rakyat melimpah ruah. Rajanya adil dan bijaksana. Kekayaan kerajaan bukan hanya dinikmati raja dan keluarganya, tetapi rakyat pun turut menikmati. Pantaslah jika kerajaan itu selalu dalam suasana tenteram dan damai. Dengan kerajaan-kerajaan lain pun, tidak pernah terjadi silang sengketa sehingga mereka dapat hidup berdampingan secara damai.
Sayang, ketenteraman itu tidak bertahan lama. Tidak disangka-sangka musibah datang menimpa mereka. Mereka bukan diserang musuh yang iri pada kemakmuran dan kerukunan kerajaan, tetapi oleh burung raksasa yang tiba-tiba muncul. Langit menjadi gelap gulita karena tubuh burung itu amat besar. Kepak sayapnya memekakkan telinga.
Karena serbuan burung raksasa itu demikian mendadak, rakyat kerajaan panik luar biasa. Mereka bingung dan tidak tahu akan berbuat apa menghadapi suasana itu. Mereka menyangka kiamat sudah datang. Dalam sekejap mata, kerajaan itu musnah binasa dengan segala isinya. Bangunan rata dengan tanah. Pohon-pohon bertumbangan. Rakyat dijemput maut tertimpa pohon atau terbenam dalam reruntuhan rumah dan gedung mereka.
Ibarat sebuah negeri kalah perang, kerajaan yang sebelumnya subur makmur itu menjadi sebuah lapangan terbuka. Tiada tumbuhan, hewan, dan manusia di sana, kecuali raja bersama permaisuri dan ketujuh putrinya. Mereka bingung dan takut, barangkali datang serangan kedua. Jika hal itu terjadi, tamatlah riwayat mereka. Dengan mudah burung raksasa itu melihat mereka sebab tidak selembar daun lalang pun dapat dijadikan tempat untuk berlindung. Akan tetapi, mereka tetap bersyukur kepada Tuhan karena terhindar dari malapetaka. Tuhan yang Mahabesar masih menginginkan kehadiran mereka di dunia.
Dalam keadaan tidak menentu itu mereka dikagetkan lagi dengan kejadian yang membuat mereka semakin putus asa. Entah dari mana datangnya, tiba-tiba seekor ular raksasa hadir di depan mereka. Ular itu mengangakan mulutnya sehingga lidahnya yang besar dan berbisa bergerak-gerak keluar masuk mulutnya. Raja bersama permaisuri dan ketujuh putri berkumpul menjadi satu kelompok. Mereka sating merangkul. Raja berpikir, jika harus mati, biarlah mereka mati bersama menjadi mangsa ular raksasa itu.
“Paduka tak usah takut,” tiba-tiba ular itu berkata. “Hamba tidak akan mengganggu Paduka, permaisuri, dan putri-putri Paduka, asalkan Paduka mengabulkan permohonan hamba.” Rasa takut raja sekeluarga berkurang mendengar ular itu dapat berbicara seperti manusia.
“Siapakah engkau? Apakah keinginanmu?” tanya sang raja. “Nama hamba Dandaung. Ular Dandaung,” ujar ular raksasa itu. “Hamba ingin memperistri salah seorang putri Paduka.”
Tertegun sejenak sang raja mendengar permintaan Ular Dandaung. Seekor ular raksasa ingin memperistri anaknya? Tidak masuk akal ular menikah dengan manusia. la tidak berani menolak karena takut akibatnya. “Aku tidak menolak, tetapi juga tidak menerima lamaranmu,” sahut sang raja. “Aku harus menanyakan hal ini kepada putriku satu per satu!”
Seorang demi seorang putrinya ditanya. Putri sulung sampai dengan putri keenam menolak diperistri Ular Dandaung. Sang raja sudah membayangkan akibat buruk yang akan mereka terima andaikata putrinya menolak. “Hamba bersedia menjadi istrinya,” kata putri bungsu ketika ditanya ayahandanya.
Tentu saja kakak-kakaknya mengejek putri bungsu. Berbagai cemooh mereka lontarkan, tetapi putri bungsu menerimanya dengan tabah. Pendiriannya tidak tergoyahkan.
Pada suatu malam, putri bungsu terbangun dari tidur. Ia amat kaget karena bukan Ular Dandaung yang berbaring di sisinya melainkan seorang permuda tampan. Belum habis rasa herannya, pemuda itu berkata, “Aku bukan orang lain, aku suamimu si Ular Dandaung. Aku seorang raja yang Baru terbebas dari kutukan.”
Raja dan permaisuri terkejut melihat kejadian itu. Akan tetapi, mereka bangga mendapat menantu yang sangat tampan, apatagi is seorang raja. Hanya keenam putrinya tidak habis-habisnya menyesaii diri mereka.
Di kemudian hari terbukti bahwa di samping seorang raja yang tampan, Ular Dandaung juga seorang yang mempunyai kehebatan. Dengan kesaktiannya, burung raksasa yang menghancurkan kerajaan mertuanya dapat ditaklukkan dan dibunuh. Ia juga menciptakan sebuah kerajaan Baru, lengkap dengan segala peralatan dan rakyatnya.
Ketika mertuanya tidak mampu memerintah lagi, Ular Dandaung menggantikannya dan putri bungsu menjadi permaisurinya.


SNAKE DANDAUNG
That said, there is a kingdom of yore. Not mentioned by the narrator's what the name of the kingdom. According to the story, empire was quite large. Rich country so abundant income people. Just and wise king. Wealth is not only enjoyed royal king and his family, but people also participated enjoyed. Is worth if the empire was always in the serene and peaceful atmosphere. With other kingdoms, there is never going cross dispute so that they can coexist peacefully.
Unfortunately, peace did not last long. Unexpected disaster came upon them. They are not attacked by enemies who envied the prosperity and harmony of the kingdom, but by a giant bird that suddenly appeared. The sky became pitch black as the bird's body is very big. Flap wings deafening.
Because the invasion of giant bird was so sudden, the people of the kingdom of extraordinary panic. They are confused and do not know what to do deal with that atmosphere. They thought doomsday had arrived. In the blink of an eye, the kingdom was destroyed perish with everything in it. Building razed to the ground. The trees were falling. People met death by falling trees or buried in the rubble of their homes and buildings.
Like a country lost the war, which previously fertile prosperous kingdom into an open field. No plants, animals and humans there, except the king with the empress and the seventh daughter. They are confused and scared, perhaps came the second attack. If that happened, This is the end their history. With the giant bird is easy to see them because not even a leaf weeds can be a place for shelter. However, they remain thankful to God because it avoided catastrophe. Almighty God who still want their presence in the world.
In the uncertain situation that they were surprised again by events that made them increasingly desperate. I do not know where it came from, all of a sudden a giant snake is present in front of them. The snake opened its mouth so big and venomous tongue moving in and out of her mouth. King along with the empress and the seven daughters gathered into one group. Sating their embrace. The king thought, if it should die, let them die with a giant snake prey.
"Your Majesty need not be afraid," suddenly the snake said. "I would not bother Paduka, empress and princesses Paduka provided that Your Majesty granted me." Fear king's family heard the serpent was reduced to talking like a human.
"Who are you? What is your wish? "Asked the king. "Name Dandaung servant. Dandaung snake, "said the giant snake. "I want to marry one of his Majesty's daughter."
Stunned for a moment the king heard the request Dandaung Snake. A giant snake wanted to marry her daughter? It makes no sense to marry human snake. He did not dare to refuse for fear of consequences. "I do not deny, but did not receive lamaranmu," said the king. "I must ask this to my daughter one by one!"
One by one daughter asked. Eldest daughter until the sixth daughter refused diperistri Dandaung Snake. The king had thought due to bad that they will receive if her daughter refused. "I'm willing to be his wife," he said when asked his father's youngest daughter.
Of course, mocking his brothers youngest daughter. Various scorn they launched, but the youngest daughter received it with fortitude. Its establishment was not deterred.
One night, the youngest daughter woke up from sleep. He was very surprised because it was not Snake Dandaung lying on his side but a handsome permuda. Not yet finished feeling surprisingly, the young man said, "I'm not someone else, I'm your husband the Snake Dandaung. I am a king Newly freed from the curse. "
The king and queen was surprised to see the incident. However, they were proud to receive in-law who is very handsome, apatagi is a king. Only the sixth daughter inexhaustible menyesaii themselves.
It was later shown that in addition to a king who was handsome, also a snake Dandaung who have greatness. With a miracle, a giant bird that destroys the royal in-laws can be conquered and killed. He also created a new empire, complete with all equipment and people.
When the law was not able to rule again, Snake Dandaung replace and youngest daughter to be empress.

CINDELARAS DAN AYAM SAKTI
Kerajaan Jenggala dipimpin oleh seorang raja yang bernama Raden Putra. Ia didampingi oleh seorang permaisuri yang baik hati dan seorang selir yang memiliki sifat iri dan dengki. Raja Putra dan kedua istrinya tadi hidup di dalam istana yang sangat megah dan damai. Hingga suatu hari selir raja merencanakan sesuatu yang buruk pada permaisuri raja. Hal tersebut dilakukan karena selir Raden Putra ingin menjadi permaisuri.
Selir baginda lalu berkomplot dengan seorang tabib istana untuk melaksanakan rencana tersebut. Selir baginda berpura-pura sakit parah. Tabib istana lalu segera dipanggil sang Raja. Setelah memeriksa selir tersebut, sang tabib mengatakan bahwa ada seseorang yang telah menaruh racun dalam minuman tuan putri. “Orang itu tak lain adalah permaisuri Baginda sendiri,” kata sang tabib. Baginda menjadi murka mendengar penjelasan tabib istana. Ia segera memerintahkan patih untuk membuang permaisuri ke hutan dan membunuhnya.
Sang Patih segera membawa permaisuri yang sedang mengandung itu ke tengah hutan belantara. Tapi, patih yang bijak itu tidak mau membunuh sang permaisuri. Rupanya sang patih sudah mengetahui niat jahat selir baginda. “Tuan putri tidak perlu khawatir, hamba akan melaporkan kepada Baginda bahwa tuan putri sudah hamba bunuh,” kata patih. Untuk mengelabui raja, sang patih melumuri pedangnya dengan darah kelinci yang ditangkapnya. Raja merasa puas ketika sang patih melapor kalau ia sudah membunuh permaisuri.
Setelah beberapa bulan berada di hutan, sang permaisuri melahirkan seorang anak laki-laki. Anak itu diberinya nama Cindelaras. Cindelaras tumbuh menjadi seorang anak yang cerdas dan tampan. Sejak kecil ia sudah berteman dengan binatang penghuni hutan. Suatu hari, ketika sedang asyik bermain, seekor rajawali menjatuhkan sebutir telur ayam. Cindelaras kemudian mengambil telur itu dan bermaksud menetaskannya. Setelah 3 minggu, telur itu menetas menjadi seekor anak ayam yang sangat lucu. Cindelaras memelihara anak ayamnya dengan rajin. Kian hari anak ayam itu tumbuh menjadi seekor ayam jantan yang gagah dan kuat. Tetapi ada satu yang aneh dari ayam tersebut. Bunyi kokok ayam itu berbeda dengan ayam lainnya. “Kukuruyuk… Tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra…”, kokok ayam itu
Cindelaras sangat takjub mendengar kokok ayamnya itu dan segera memperlihatkan pada ibunya. Lalu, ibu Cindelaras menceritakan asal usul mengapa mereka sampai berada di hutan. Mendengar cerita ibundanya, Cindelaras bertekad untuk ke istana dan membeberkan kejahatan selir baginda. Setelah di ijinkan ibundanya, Cindelaras pergi ke istana ditemani oleh ayam jantannya. Ketika dalam perjalanan ada beberapa orang yang sedang menyabung ayam. Cindelaras kemudian dipanggil oleh para penyabung ayam. “Ayo, kalau berani, adulah ayam jantanmu dengan ayamku,” tantangnya. “Baiklah,” jawab Cindelaras. Ketika diadu, ternyata ayam jantan Cindelaras bertarung dengan perkasa dan dalam waktu singkat, ia dapat mengalahkan lawannya. Setelah beberapa kali diadu, ayam Cindelaras tidak terkalahkan.
Berita tentang kehebatan ayam Cindelaras tersebar dengan cepat hingga sampai ke Istana. Raden Putra akhirnya pun mendengar berita itu. Kemudian, Raden Putra menyuruh hulubalangnya untuk mengundang Cindelaras ke istana. “Hamba menghadap paduka,” kata Cindelaras dengan santun. “Anak ini tampan dan cerdas, sepertinya ia bukan keturunan rakyat jelata,” pikir baginda. Ayam Cindelaras diadu dengan ayam Raden Putra dengan satu syarat, jika ayam Cindelaras kalah maka ia bersedia kepalanya dipancung, tetapi jika ayamnya menang maka setengah kekayaan Raden Putra menjadi milik Cindelaras.
Dua ekor ayam itu bertarung dengan gagah berani. Tetapi dalam waktu singkat, ayam Cindelaras berhasil menaklukkan ayam sang Raja. Para penonton bersorak sorai mengelu-elukan Cindelaras dan ayamnya. “Baiklah aku mengaku kalah. Aku akan menepati janjiku. Tapi, siapakah kau sebenarnya, anak muda?” Tanya Baginda Raden Putra. Cindelaras segera membungkuk seperti membisikkan sesuatu pada ayamnya. Tidak berapa lama ayamnya segera berbunyi. “Kukuruyuk… Tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra…,” ayam jantan itu berkokok berulang-ulang. Raden Putra terperanjat mendengar kokok ayam Cindelaras. “Benarkah itu?” Tanya baginda keheranan. “Benar Baginda, nama hamba Cindelaras, ibu hamba adalah permaisuri Baginda.”
Bersamaan dengan itu, sang patih segera menghadap dan menceritakan semua peristiwa yang sebenarnya telah terjadi pada permaisuri. “Aku telah melakukan kesalahan,”
Kemudian, selir Raden Putra pun di buang ke hutan. Raden Putra segera memeluk anaknya dan meminta maaf atas kesalahannya Setelah itu, Raden Putra dan hulubalang segera menjemput permaisuri ke hutan.. Akhirnya Raden Putra, permaisuri dan Cindelaras dapat berkumpul kembali..

CINDELARAS AND CHICKEN SAKTI
Jenggala kingdom led by a king named Raden Putra. He was accompanied by a consort of good heart and a concubine who has the nature of envy and jealousy. King's son and his two wives had been living in a very stately palace and peaceful.
Until one day the king's concubines planning something bad on the consort of the king. This was done because the concubine Raden Putra want to become empress.
Concubine of the king and then conspired with a physician's palace to carry out the plan. Concubine king pretended to seriously ill. Physician's palace and then immediately called the King. After examining these concubines, the physician said that someone had put poison in the drink lady. "The man was none other than the consort of King himself," said the physician. King became angry to hear the explanation the court physician. He immediately ordered the governor to get rid of the empress to the woods and kill him.
The Patih immediately bring empress who was pregnant with it into the middle of the jungle. But, the wise governor did not want to kill the empress. Apparently the governor had known the king's concubines malicious intent. "Mr. daughter not to worry, I will report to the king that the princess was murdered servant," said the governor. To deceive the king, his vizier stain his sword with the arrest of rabbit blood. The king was satisfied when the governor reported that he had killed the empress.
After several months in the jungle, the empress gave birth to a boy. The boy was given the name Cindelaras. Cindelaras grow into a child who is smart and handsome. Since childhood he had been friends with forest-dwelling animals. One day, when you're busy playing, a hawk dropped the chicken egg. Cindelaras then took the egg and the intended menetaskannya. After 3 weeks, the eggs hatch into a chick who is very funny. Cindelaras chicken with diligent care of the child. Kian day chick grew into a cock that manly and strong. But there is a strange one from the chicken. The sound of crowing cock is different from other chickens. "Kukuruyuk ... lord Cindelaras, his house in the middle of the jungle, the roof of palm leaves, his father Raden Putra ...", crowing chicken
Cindelaras very surprised to hear crowing chickens and immediately showed it to her mother. Then, the mother tells the origin Cindelaras why they got in the forest. Hearing the story of his mother, Cindelaras determined to expose the crime to the palace and the king's concubines. Having allowed his mother, Cindelaras went to the palace accompanied by a rooster. While on the way there are some people who were risking chicken. Cindelaras then summoned by the penyabung chicken. "Come on, if you dare, adulah jantanmu chicken with my chicken," she challenged. "Well," replied Cindelaras. When pitted, it turns out Cindelaras cock fight with powerful and in a short time, he can beat his opponent. After a few times pitted, chicken Cindelaras unbeatable.
News of the wonders of chicken Cindelaras spread quickly to get to the Palace. Raden Putra finally heard the news. Then, Raden Putra told Cindelaras hulubalangnya to invite to the palace. "I was facing his excellency," said Cindelaras politely. "The boy is handsome and intelligent, it seems he is not a descendant of the common people," thought the king. Chicken Cindelaras pitted with chicken Raden Putra on one condition, if the chicken Cindelaras lose then he was willing to cut off his head, but if the chicken wins then half the wealth belongs Cindelaras Raden Putra.
Two chickens were fighting bravely. But in a short time, chicken chicken Cindelaras conquered the King. The audience cheered and chanted Cindelaras chicken. "Well I admit defeat. I will keep my promise. But who are you, young man? "Tanya King Raden Putra. Cindelaras immediately bent like whispered something in his chicken. Not long after the chicken immediately rang. "Kukuruyuk ... lord Cindelaras, his house in the middle of the jungle, the roof of palm leaves, his father Raden Putra ...," the rooster crowed repeatedly. Raden Putra Cindelaras shocked to hear crowing cock. "Is it true?" Ask the king surprise. "Yes sir, name Cindelaras servant, the servant is the consort of King's mother."
Simultaneously, the governor immediately face and tell all the events that really happened in consort. "I've made a mistake,"
Then, the concubine Raden Putra was in the exhaust into the forest. Raden Putra immediately embraced her and apologized for his mistakes after that, Raden Putra and district chief consort to the forest to pick up soon .. Finally Raden Putra, empress and Cindelaras to gather again ..

ARYO MENAK DAN TUJUH BIDADARI
Aryo Menak adalah seorang pemuda yang sangat gemar mengembara ke tengah hutan. Pada suatu bulan purnama, ketika dia beristirahat dibawah pohon di dekat sebuah danau, dilihatnya cahaya sangat terang berpendar di pinggir danau itu. Perlahan-lahan ia mendekati sumber cahaya tadi. Alangkah terkejutnya, ketika dilihatnya tujuh orang bidadari sedang mandi dan bersenda gurau disana.
Ia sangat terpesona oleh kecantikan mereka. Timbul keinginannya untuk memiliki seorang diantara mereka. Iapun mengendap-endap, kemudian dengan secepatnya diambil sebuah selendang dari bidadari-bidadari itu.
Aryo Menak kemudian mendekatinya. Ia berpura-pura tidak tahu apa yang terjadi. Ditanyakannya apa yang terjadi pada bidadari itu. Lalu ia mengatakan: “Ini mungkin sudah kehendak para dewa agar bidadari berdiam di bumi untuk sementara waktu. Janganlah bersedih. Saya akan berjanji menemani dan menghiburmu.”
Bidadari itu rupanya percaya dengan omongan Arya Menak. Iapun tidak menolak ketika Arya Menak menawarkan padanya untuk tinggal di rumah Arya Menak. Selanjutnya Arya Menak melamarnya. Bidadari itupun menerimanya.
Dikisahkan, bahwa bidadari itu masih memiliki kekuatan gaib. Ia dapat memasak sepanci nasi hanya dari sebutir beras. Syaratnya adalah Arya Menak tidak boleh menyaksikannya.
Pada suatu hari, Arya Menak menjadi penasaran. Beras di lumbungnya tidak pernah berkurang meskipun bidadari memasaknya setiap hari. Ketika isterinya tidak ada dirumah, ia mengendap ke dapur dan membuka panci tempat isterinya memasak nasi. Tindakan ini membuat kekuatan gaib isterinya sirna.
Bidadari sangat terkejut mengetahui apa yang terjadi. Mulai saat itu, ia harus memasak beras dari lumbungnya Arya Menak. Lama kelamaan beras itupun makin berkurang. Pada suatu hari, dasar lumbungnya sudah kelihatan. Alangkah terkejutnya bidadari itu ketika dilihatnya tersembul selendangnya yang hilang. Begitu melihat selendang tersebut, timbul keinginannya untuk pulang ke sorga. Pada suatu malam, ia mengenakan kembali semua pakaian sorganya. Tubuhnya menjadi ringan, iapun dapat terbang ke istananya.
Arya Menak menjadi sangat sedih. Karena keingintahuannya, bidadari meninggalkannya. Sejak saat itu ia dan anak keturunannya berpantang untuk memakan nasi

ARYO MENAK AND FAIRY SEVEN
Aryo Menak is very fond of a young man who wanders into the woods. On a full moon, when he rested under a tree near a lake, he saw a very bright fluorescent light at the edge of the lake. Slowly he approached the light source earlier. What a surprise, when he saw the seven angels in the shower and frolic there.
He was awed by their beauty. Arises a desire to have a between them. He also crept, then quickly taken a shawl from the maidens.
Aryo Menak then approached him. He pretended not to know what happened. Ask what happened to the angel. Then he said: "It may have been the will of the gods to dwell on the earth angel for a while. Do not be sad. I will promise to accompany and entertain you. "
Angel was apparently believed by Arya Menak talk. He also did not resist when Arya Menak offered him to stay at home Arya Menak. Next Arya Menak proposed. Angel rose to receive it.
It is said, that the angel that still has magic powers. He can cook a pot of rice only from a grain of rice. Condition is Arya Menak should not be watching.
On one day, Arya Menak became curious. Rice in the barn was never diminished even though an angel to cook every day. When his wife was not there at home, he settles into the kitchen where his wife and opened the pot to cook rice. This action makes supernatural forces his wife vanished.
Angel was very surprised to know what happened. From then on, he had to cook rice from the barn Arya Menak. Over time and even then the less rice. One day, the basic barn in sight. Angel surprise when he saw protruding shawl is missing. One look at these scarves, arises a desire to return to heaven. One night, she wore all the clothes back sorganya. Her body became light, he also can fly to his palace.
Arya Menak became very sad. Because of his curiosity, angel left her. Since then he and his descendants to eat rice abstinence

LEGENDA KAMANDAKA SILUTUNG KASARUNG
Cerita ini adalah versil lain dari Lutung Kasarung yang banyak didengar di daerah Sunda. Cerita Lutung Kasarung ini merupakan cerita versi Pasir Luhur. Tidaklah penting mana yang benar antara kedua versi tersebut, yang jelas, cerita-cerita ini untuk menghibur dan dipetik pelajarannya.
Di Jawa Barat pada jaman dahulu kala ada sebuah Kerajaan Hindu yang besar dan cukup kuat, yaitu berpusat di kota Bogor. Kerajaan itu adalah Kerajaan “Pajajaran”, pada saat itu raja yang memerintah yaitu Prabu Siliwangi. Beliau sudah lanjut usia dan bermaksud mengangkat Putra Mahkotanya sebagai penggantinya.
Prabu Siliwangi mempunyai tiga orang putra dan satu orang putri dari dua Permaisuri, dari permaisuri yang pertama mempunyai dua orang putra, yaitu Banyak Cotro dan Banyak Ngampar. Namun sewaktu Banyak Cotro dan Banyak Ngampar masih kecil ibunya telah meninggal.
Maka Prabu Siliwangi akhirnya kawin lagi dengan permaisuri yang kedua, yaitu Kumudaningsih. Pada waktu Dewi Kumuudangingsih diambil menjadi Permaisuri oleh Prabu Siliwangi, ia mengadakan perjanjian, bahwa jika kelak ia mempunyai putra laki-laki, maka putranyalah yang harus meggantikan menjadi raja di Pajajaran.
Dari perkawinannya dengan Dewi Kumudaningsih, Prabu Silliwangi mempunyai seorang putra dan seorang putri, yaitu: Banyak Blabur dan Dewi Pamungkas.
Pada suatu hari Prabu Siliwangi memanggil Putra Mahkotanya, Banyak Cotro dan Banyak Blabur untuk menghadap, maksudnya ialah Prabu Siliwangi akan mengangkat putranya untuk menggantikan menjadi raja di Pajajaran karena beliau sudah lajut usia.
Namun dari kedua Putra Mahkotanya belum ada yang mau diangkat menjadi raja di Pajajaran. Sebagai putra sulungnya Banyak Cokro mengajukan beberapa alasan, antara lain alasannya adalah:
Untuk memerintahkan Kerajaan dia belum siap, karena belum cukup ilmu.
Untuk memerintahkan Kerajaan seorang raja harus ada Permaisuri yang mendampinginya, sedangkan Banyak Cotro belum kawin.
Banyak Cotro mengatakan bahwa dia baru kawin kalau sudah bertemu dengan seorang putri yang parasnya mirip dengan ibunya. Oleh sebab itu Banyak Cotro meminta ijin pergi dari Kerajaan Pajajaran untuk mencari putri yang menjadi idamannya.
Kepergian Banyak Cotro dari Kerajaan Pajajaran melalui gunung Tangkuban Perahu, untuk menghadap seorang pendeta yang bertempat di sana. Pendeta itu ialah Ki Ajar Winarong, seorang Pendeta sakti dan tahu untuk mempersunting putri yang di idam-idamkannya dapat tercapai.
Namun ada beberapa syarat yang harus dilakukan dan dipenuhi oleh Banyak Cotro, yaitu harus melepas dan menaggalkan semua pakaian kebesaran dari kerajaan dengan hanya memakai pakaian rakyat biasa. Dan ia harus menyamar dengan nama samaran “Raden Kamandaka”
Setelah Raden Kamandaka berjalan berhari-hari dari Tangkuban Perahu ke arah Timur, maka sampailah Raden Kamandaka kewilayah Kadipaten Pasir Luhur.
Secara kebetulan Raden Kamandaka sampai Pasir Luhur, betemu dengan Patih Kadipaten Pasir Luhur yaitu Patih Reksonoto. Karena Patih Reksonoto sudah tua tidak mempuunyai anak, maka Raden Kamandaka akhirnya dijadikan anak angkat Patih Reksonoto merasa sangat bangga dan senang hatinya mempunyai Putra Angkat Raden Kamandaka yang gagah perkasa dan tampan, maka Patih Reksonoto sangat mencintainya.
Adapun yang memerintahkan Kadipaten Pasir Luhur adalah “Adi Pati Kanandoho”. Beliau mempunyai beberapa orang Putri dan sudah bersuami kecuali yang paling bungsu yaitu Dewi Ciptoroso yang belum bersuami. Dewi Ciptoroso inilah seorang putri yang mempunyai wajah mirip Ibu raden Kamandaka, dan Putri inilah yng sedang dicari oeh Raden Kamandaka.
Suatu kebiasaan dari Kadipaten Pasir Luhur bahwa setiap tahun mengadakan upacara menangkap ikan di kali Logawa. Pada upacara ini semua keluarga Kadipaten Pasir Luhur beserta para pembesar dan pejabatan pemerintah turut menangkap ikan di kali Logawa.
Pada waktu Patih Reksonoto pergi mengikuti upacara menangkap ikan di kali Logawa, tanpa diketahuinya Raden Kamandaka secara diam-diam telah mengikutinya dari belakang. Pada kesempatan inilah Raden Kamandaka dapat bertemu dengan Dewi Ciptoroso dan mereka berdua saling jatuh cinta.
Atas permintaan dari Dewi Ciptoroso agar Raden Kamandaka pada malam harinya untuk dating menjumpai Dewi Ciptoroso di taman Kaputren Kadipaten Pasir Luhur tempat Dewi Ciptoroso berada. Benarlah pada malam harinya Raden Kamandaka dengan diam-diam tanpa ijin patih Resonoto, ia pun pergi menjumpai Dewi Ciptoroso yang sudah rindu menanti kedatangan Raden Kamandaka.
Namun keberadaan Raden Kamandaka di Taman Kaputren Bersama Dewi Ciptoroso tidak berlangsung lama. Karena tiba-tiba prajurit pengawal Kaputren mengetahui bahwa di dalam taman ada pencuri yang masuk. Hal ini kemu kemudian dilaporkan oleh Adipatih Kandandoho.
Menanggapi laporan ini, maka Adipatih sangat marah dan memerintahkan prajuritnya untuk menangkap peencuri tersebut. Karena kesaktian dan ilmu ketangkasan yang dimiliki oleh Raden Kamandaka, maka Raden Kamandaka dapat meloloskan diri dari kepungan prajurit Pasir Luhur.
Sebelum Raden Kamandaka lolos dari Taman Kaputren, ia sempat mengatakan identitasnya. Bahwa ia bernama Raden Kamandaka putra dari Patih Reksonoto.
Hal ini didengar olehh prajurit, dan melaporkan kepada Adipatih Kandandoho. Mendengar hal ini maka Patih Reksonoto pun dipanggil dan harus menyerahkan putra nya. Perintah ini dilaksanakan oleh Patih Reksonoto, walaupun dalam hatinya sangatlah berat. Sehimgga dengan siasat dari Patih Reksonoto, maka Raden Kamandaka dapat lari dan selamat dari pengejaran para prajurit.
Raden Kamandaka terjun masuk kedalam sungai dan menyelam mengikuti arus air sungai. Oleh Patih Reksonoto dan para prajurit yang mengejar, dilaporkan bahwa Raden Kamandaka dikatakan sudah mati didalam sugai. Mendengar berita ini Adipatih Kandandoho merasa lega dan puas. Nmun sebaliknya Dewi Ciptoroso yang setelah mendengar berita itu sangatlah muram dan sedih.
Sepanjang Raden Kamandaka menyelam mengikuti arus sungai bertemulah dengan seorang yang memancing di sungai. Orang tersebut bernama Rekajaya, Raden Kamandaka dan Rekajaya kemudian berteman baik dan menetap di desa Panagih. Di desa ini Raden Kamandaka diangkat anak oleh Mbok Kektosuro, seorang janda miskin di desa tersebbut.
Raden Kamandaka menjadi penggemar adu ayam. Kebetulan Mbok Reksonoto mempunyai ayam jago yang bernama “Mercu”. Pada setiap penyabungan ayam Raden Kamandaka selalu menang dalam pertandingan, maka Raden Kamandaka menjadi sangat terkenal sebagai botoh ayam.
Hal ini tersiar sampai kerajaan Pasir Luhur, mendengar hal ini Adipatih Kandadoho menjadi marah dan murka. Beliau memerintahkan prajuritnya untuk menagkap hidup atau mati Raden Kamandaka.
Pada saat itu tiba-tiba datanglah seorang pemuda tampan mengaku dirinya bernama “Silihwarni” yang akan mengabdikan diri kepada Pasir Luhur, maka ia permohonannya diterima, tetapi asalkan ia harus dapat membunuh Raden Kamandaka. Untuk membuktikannya ia harus membawa darah dan hati Raden Kamandaka.
Sebenarnya Silihwarni adalah nama samaran. Nama itu sebenarnya adalah Banyak Ngampar Putra dari kerajaan Pajajaran, yaitu adik kandung dari Raden Kamandaka.
Ia oleh ayahnya Prabu Siliwangi ditugaskan untuk mencari saudara kandungnya yang pergi sudah lama belum kembali. Untuk mengatasi gangguan dalam perjalanan, ia dibekali pusaka keris Kujang Pamungkas sebagai senjatanya. Dan dia juga menyamar dengan nama Silihwarni, dan berpakaian seperti rakyat biasa.
Karena ia mendengar berita bahwa kakak kandungnya berada di Kadipaten Pasir Luhur, maka ia pun pergi kesana. Setelah Silihwarni menerima perintah dari Adipatih, pergilah ia dengan diikuti beberapa prajurit dan anjing pelacak menuju desa Karang Luas, tempat penyabungan ayam.
Di tempat inilah mereka bertemu. Namun keduanya sudah tidak mengenal lagi. Silihwari berpakaian seperti raknyat biasa sedangkan Raden Kamandaka berpakaian sebagai botoh ayam, dan wajahnya pucat karena menahan kernduan kepada kekasihnya.
Terjadilah persabungan ayan Raden Kamandaka dan Silihwarni, dengan tanpa disadari oleh raden kamandaka tiba-tiba Silihwarni menikam pinggang Raden Kamandaka dengan keris Kujang Pamungkasnya. Karena luka goresan keris itu tersebut darahpun keluar dengan deras. Namun karena ketangkasan Raden Kamandaka, ia pun dapat lolos dari bahaya tersebut dan tempat ia dapat lolos itu dinamakan desa Brobosan, yang berarti ia dapat lolos dari bahaya.
Karena lukanya semakin deras mengeluarkan darah, maka ia pun istirahat sebentar disuatu tempat, maka tempat itu dinamakan Bancran. Larinya Raden Kamandaka terus dikejar oleh Silihwarni dan prajurit. Pada suatu tempat Raden Kamandaka dapat menangkap anjing pelacaknya dan kemudian tempat itu diberinya nama desa Karang Anjing.
Raden Kamandaka terus lari kearah timur dan sampailah pada jalan buntu dan tempat ini ia memberi nama Desa Buntu. Pada akhirnya Raden Kamandaka sampailah di sebuah Goa. Didalam Goa ini ia beristirahat dan bersembunyi dari kejaraan Silihwarni. Silihwarni yang terus mengejar setelah sampai goa ia kehilangan jejak. Kemudian Silihwarnipun dari mulut goa tersebut berseru menantang Raden Kamandaka.
Setelah mendengar tantagan Silihwarni, Raden Kamandaka pun menjawab ia mengatakan identitasnya, bahwa ia adalah putra dari kerajaan Pajajaran namanya Banyak Cotro.
Setelah itu Silihwarnipun mengatakan identitasnya bahwa ia juga putra dari Kerajaan Pajajaran, bernama Banyak Ngampar. Demikian kata-kata yang pengakuan antara Raden Kamandaka dan Silihwarni bahwa mereka adalah putra pajajaran, maka orang yang mendengar merupakan nama versi ke-2, untuk Goa Jatijajar tersebut. Kemudian mereka berdua berpeluka dan saling memaafkan.
Namun karena Silihwarni harus membawa bukti hati dan darah Raden Kamandaka, maka akhirnya anjing pelacaknya yang dipotong diambil darah dan hatinya. Dikatakan bahwa itu adalah hati dan darah Raden Kamandaka yang telah dibunuhnya.
Raden Kamandaka kemudian bertapa di dalam goa dan mendapat petunjuk, bahwa niatnya untuk mempersunting Dewi Ciptoroso akan tercapai kalau ia sudah mendapat pakaian “Lutung” dan ia disuruh supaya mendekat ke Kadipaten Pasir Luhur, yaitu supaya menetap di hutan Batur Agung, sebelah Barat Daya dari batu Raden.
Suatu kegemaran dari Adipatih Pasir Luhur adalah berburu. Pada suatu hari Adipatih dan semua keluarganya berburu, tiba-tiba bertemulah dengan seekor lutung yang sangat besar dan jinak. Yang akhirnya di tangkaplah lutung tersebut hidup-hidup.
Sewaktu akan dibawa pulang, tiba-tiba Rekajaya datang mengaku bahwa itu adalah lutung peliharaannya, dan mengatakan beredia membantu merawatnya jika lutung itu akan dipelihara di Kadipaten. Dan permohonan itu pun dikabulkan.
Setelah sampai di kadipaten para putri berebut ingin memelihara lutung tersebut. Selama di Kadipaten lutung tersebut tidak mau dikasih makan. Oleh sebab itu akhirnya oleh Adipatih lutung tersebut disayembarakan yaitu jika ada salah seorang dari putrinya dapat memberi makan dan diterima oleh lutung tersebut maka ia lah yang akan memelihara lutung tersebut.
Ternyata makanan yang diterima oleh lutung tersebut hanyalah makanan dari Dewi Ciporoso, maka “Lutung Kasarung” itu menjadi peliharaan Dewi Ciptoroso. Pada malam hari lutung tersebut berubah wujud menjadi Raden Kamandaka. Sehingga hanya Dewi Ciptoroso yang tahu tentang hal tersebut. Pada siang hari ia berubah menjadi lutung lagi. Maka keadaan Dewi kini menjadi sangat gembira dan bahagia, yang selalu ditemani lutung kasarung.
Alkisah pada suatu hari raden dari Nusa Kambangan Prabu Pule Bahas menyuruh Patihnya untuk meminang Putri Bungsu Kadipaten Pasir Luhur Dewi Ciptoroso dan mengancam apabila pinangannya ditolak ia akan menghancurkan Kadipaten Pasir Luhur.
Atas saran dan permintaan dari Lutung Kasarung pinangan Raja Pule Bahas agar supaya diterima saja. Namun ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh raja Pule Bahas. Salah satunya ialah dalam pertemuan pengantin nanti Lutung Kasarung harus turut mendampingi Dewi Ciporoso.
Pada waktu pertemuan pengantin berlangsung, Raja Pule Bahas selalu diganggu oleh Lutung Kasarung yang selalu mendampingi Dewi Ciptoroso. Oleh sebab itu Raja Pule Bahas marah dan memukul Lutung Kasarung. Namun Lutung Kasarung telah siap berkelahi melawan Raja Pule Bahas.
Pertarungan Raja Pule Bahas dengan Lutung Kasarung terjadi sangat seru. Namun karena kesaktian dari Luung Kasarung, akhirnya Raja Pule Bahas gugur dicekik dan digigit oleh Lutung Kasarung.
Tatkala Raja Pule Bahas gugur maka Lutung Kasarung pun langsung menjelma menjadi Raden Kamandaka, dan langsung mengenkan pakaian kebesaran Kerajaan Pajajaran dan mengaku namanya Banyak Cotro. Kini Adipatih Pasir Luhur pun mengetahui hal yang sebenarnya adalah Raden Kamandaka dan Raden Kamandaka adalah Banyak Cotro dan Banyak Cotro adalah Lutung Kasarung putra mahkota dari kerajaan Pajajaran. Dan akhirnya ia dikawinkan dengan Dewi Ciptoroso.
Namun karena Raden Kamandaka sudah cacat pada waktu adu ayam dengan Silihwarni kena keris Kujang Pamungkas maka Raden Kamandaka tidak dapat menggantikan menjadi raja di Pajajaran.

LEGEND KAMANDAKA SILUTUNG KASARUNG
This story is another of the monkey Kasarung versil that many heard in the Sunda region. Kasarung monkey story is a story of Sand version Luhur. It does not matter what is right between the two versions, a clear, these stories to entertain and lessons learned.
In West Java, in the days of yore there was a Hindu kingdom a large and strong enough, which is based in the city of Bogor. The kingdom is the kingdom "Pajajaran", at that moment the king who ruled the King Siliwangi. He is very old and was intended to raise Son crown as his successor.
King Siliwangi have three sons and one daughter from two Consort, the first empress who has two sons, namely Lots and Lots Cotro Ngampar. But while many Cotro and Ngampar Many young mother has died.
Then King Siliwangi eventually marry again with a second consort, namely Kumudaningsih. At the time Goddard Kumuudangingsih taken into Empress by King Siliwangi, he entered into an agreement, that if one day he has a son of man, then that should meggantikan putranyalah became king in Pajajaran.
From his marriage with Goddess Kumudaningsih, King Silliwangi have a son and a daughter, namely: Lots Blabur and Goddess Pamungkas.
One day King Siliwangi called Son crown, Lots and Lots Cotro Blabur to face, that is King Siliwangi would appoint his son to succeed as king in Pajajaran because he already lajut age.
But the second son crown no one would be appointed to be king in Pajajaran. As his eldest son Many Clark filed several reasons, among others, the reason is:
To instruct the kingdom he is not ready, because the science is not enough.
To instruct the kingdom of a king should be there with her Consort who, while many Cotro unmarried.
Many Cotro said that he had been married when he met a daughter of his face similar to her mother. Therefore Cotro Many ask permission to leave the Kingdom Pajajaran to find the daughter who became his ideal.
Many Cotro departure from the Kingdom of Pajajaran through Tangkuban Perahu volcano, to appear before a priest, which took place there. The priest is Ajar Winarong Ki, a powerful minister and knows to Marry the daughter of the craving his next greatest thing can be achieved.
But there are several conditions that must be performed and fulfilled by Many Cotro, which should remove all clothing and menaggalkan greatness of the kingdom with only wear ordinary clothes. And he must be disguised under the pseudonym "Raden Kamandaka"
Raden Kamandaka After walking for days from Tangkuban Perahu eastward, then came Raden Kamandaka kewilayah Duchy of Sand Luhur.
By coincidence Raden Kamandaka until Luhur Sand, Sand betemu with Patih Duchy of Patih Reksonoto Luhur. Because Patih Reksonoto mempuunyai no child is old, then finally made Raden Kamandaka Patih Reksonoto foster child feel very proud and pleased to have his son Raden Kamandaka Lift the gallant and handsome, then Patih Reksonoto love her very much.
As for who ordered the Duchy of Sand Luhur is "Adi Pati Kanandoho". He has some princess and married except the youngest, is a virgin Goddess Ciptoroso. Ciptoroso Goddess is a princess who has a similar face raden Kamandaka Mother, and Princess is being sought by the NII Raden yng Kamandaka.
A habit of the Duchy of Sand Luhur that every year held a ceremony to catch fish at times Logawa. At this ceremony all the family and the Duchy of Sand Luhur pejabatan government authorities and also catch fish at times Logawa.
At the time Patih Reksonoto go fishing following the ceremony at times Logawa, without knowing it Raden Kamandaka secretly had followed her from behind. On this occasion Raden Kamandaka to meet with the Goddess Ciptoroso and they both fell in love.
At the request of the Goddess Ciptoroso for Raden Kamandaka at night to come meet at the park Kaputren Goddess Ciptoroso Duchy Sand Goddess Ciptoroso Luhur place is located. It is true that night Raden Kamandaka quietly without permission Resonoto vizier, she went see Goddard Ciptoroso already miss waiting for the arrival of Raden Kamandaka.
But the existence of Raden Kamandaka at Goddard Park Joint Kaputren Ciptoroso not last long. Because suddenly Kaputren soldier guards in the park knowing that there are thieves who entered. This was then later reported by Adipatih Kandandoho.
Responding to the report, then Adipatih very angry and ordered his soldiers to capture these peencuri. Because of his supernatural powers and knowledge possessed by Raden agility Kamandaka, then Raden Kamandaka to escape the siege soldiers Sand Luhur.
Before Raden Kamandaka escaped Kaputren Park, he could say his identity. That he named Raden Kamandaka son of Patih Reksonoto.
It is heard olehh soldiers, and report to Adipatih Kandandoho. On hearing this the Patih Reksonoto was called and had to give up his son. This command is executed by Patih Reksonoto, although in his heart is very heavy. Sehimgga with the tactics of Patih Reksonoto, then Raden Kamandaka to escape and survived the pursuit of the soldiers.
Raden Kamandaka plunge and dive into the river following the river water flow. By Patih Reksonoto and the soldiers in pursuit, it was reported that Raden Kamandaka said to have died in sugai. Hearing this news Adipatih Kandandoho feel relieved and satisfied. Nmun otherwise Goddess Ciptoroso that after hearing the news was very grim and sad.
Throughout Raden Kamandaka dive following the river flows to face with a man fishing in a river. The person named Rekajaya, Raden Kamandaka and Rekajaya then good friends and settled in the village Panagih. In this village was adopted by Raden Kamandaka Kektosuro Mbok, a poor widow in the village tersebbut.
Raden Kamandaka been a fan of cock fighting. Incidentally Mbok Reksonoto have rooster named "Mercu". On each chicken penyabungan Raden Kamandaka always win in the match, then Raden Kamandaka became very famous as botoh chicken.
It is spread through the kingdom of Sand Luhur, hearing this Adipatih Kandadoho become angry and furious. He ordered his soldiers to catch live or die Raden Kamandaka.
By then all of a sudden there came a handsome young man admitted he called "Silihwarni" who will devote themselves to the Sand Luhur, so he accepted their petition, but as long as he had to kill Raden Kamandaka. To prove it he had to take blood and liver Raden Kamandaka.
Actually Silihwarni is a pseudonym. The name is actually a lot Ngampar Son of Pajajaran kingdom, her younger sister from Raden Kamandaka.
He was by his father King Siliwangi assigned to search for siblings who have long gone yet again. To overcome the interference on the way, he provided heirloom kris Kujang Pamungkas as a weapon. And he also disguised with Silihwarni name, and dress like ordinary people.
Because he heard the news that his brother was in the Duchy of Sand Luhur, so he went there. After receiving orders from Adipatih Silihwarni, she went out with followed by some soldiers and sniffer dogs into the village of Karang Luas, Where Complaint chicken.
This is where they met. But they are not familiar anymore. Silihwari dressed like ordinary raknyat Raden Kamandaka while dressed as a chicken botoh, and his face pale with suppressed kernduan to his lover.
Raden epilepsy ensued persabungan Kamandaka and Silihwarni, by unwittingly by raden Kamandaka Silihwarni suddenly stabbed with a dagger waist Raden Kamandaka Kujang Pamungkasnya. Because these cuts keris darahpun out by rain. However, due to Raden Kamandaka agility, he can escape from danger and where he can escape is called Brobosan village, which means he can escape from danger.
Because the wound bleed more profusely, and he made a short break somewhere, then it is called Bancran. Raden flight Kamandaka Silihwarni and continue to be pursued by soldiers. At one place to capture the dog Raden Kamandaka tracer and then the place was given the name of the village of Karang Dogs.
Raden Kamandaka kept running towards the east and came to a dead end and this place he gave the name of the village of Buntu. In the end Raden Kamandaka came in a cave. In this cave he was resting and hiding from kejaraan Silihwarni. Silihwarni that continues to chase after until he lost track of the cave. Then Silihwarnipun from the mouth of the cave called Raden Kamandaka challenging.
After hearing tantagan Silihwarni, Raden Kamandaka answered he said his identity, that he was the son of the kingdom Pajajaran name Many Cotro.
After that Silihwarnipun said his identity that he is also the son of the Kingdom of Pajajaran, named Many Ngampar. Similarly, recognition of words between Raden Kamandaka and Silihwarni that they are the sons Pajajaran, then the person who hears the name of the 2nd version, for those Jatijajar Goa. Then they both berpeluka and forgive each other.
But because Silihwarni must bring proof of your heart and blood Raden Kamandaka, then finally cut tracer dog blood drawn and his heart. It is said that it was the heart and blood Raden Kamandaka who had killed.
Raden Kamandaka then meditated in the cave and get a clue, that his intention to marry Dewi Ciptoroso be achieved if he had to get clothes "monkey" and he was told to get closer to the Duchy of Sand Luhur, which is so settled in the forest Batur Court, southwest of stone Raden.
A favorite of Sand Adipatih Luhur is hunting. On a day Adipatih and all his family hunting, suddenly met with a huge monkey and tame. Which finally catch these monkeys alive.
As will be brought home, it suddenly came Rekajaya admitted that it was a pet monkey, and told beredia help care for her if the monkeys would be maintained in the Duchy. And the request was granted.
Having reached the Duchy of ebony girls scramble to maintain it. During the Duchy of langur is not fed. Therefore ultimately by the disayembarakan Adipatih langur is if there is one of the daughters to feed and accepted by the langur was then he was the one who will maintain these monkeys.
It turns out the food received by the monkeys are only food of the goddess Ciporoso, the "monkey Kasarung" became domesticated Goddess Ciptoroso. On the evening of langur is transformed into Raden Kamandaka. So the only Goddess Ciptoroso who know about it. By day he turned into a monkey again. So the situation has become very excited Goddess and happy, which is always accompanied Kasarung langur.
Once on a day of Nusa Kambangan raden Pule Discuss King told his patih to woo Princess Young Duchy Luhur Sand Goddess Ciptoroso and threatened when he refused courtship, will destroy the Duchy of Sand Luhur.
On the advice and requests of the monkey king Pule Discuss Kasarung proposal in order to be accepted only. But there are several requirements that must be met by the king Pule Discuss. One of them is in a meeting later Lutung Kasarung bride must accompany Goddess Ciporoso.
At the time the meeting lasted bride, the King of Pule Discuss Kasarung always disturbed by the monkey who always accompany the Goddess Ciptoroso. Therefore the king was angry and beat Pule Discuss Kasarung monkey. However Kasarung monkey ready to fight against King Pule Discuss.
Discuss with the battle of King Pule monkey Kasarung happen very exciting. However, because the magic of Luung Kasarung, Pule Discuss King finally fall strangled and bitten by a monkey Kasarung.
When King Pule Discuss the monkey Kasarung fall instantly transformed into Raden Kamandaka, and instantly the greatness of the kingdom Pajajaran mengenkan clothes and claimed his name Many Cotro. Now Adipatih Sand Luhur knows the truth is Kamandaka and Raden Raden Kamandaka are Lots and Lots Cotro monkey Kasarung Cotro is the crown prince of the kingdom Pajajaran. And finally she mated with the Goddess Ciptoroso.
But because Raden Kamandaka already disabled at the time fighting cock with taxable Silihwarni kris Kujang Pamungkas then Raden Kamandaka can not substitute for a king in Pajajaran.

ASAL USUL TELAGA BIRU
Dibelahan bumi Halmahera Utara (Maluku Utara) tepatnya di wilayah Galela dusun Lisawa, di tengah ketenangan hidup dan jumlah penduduk yang masih jarang (hanya terdiri dari beberapa rumah atau dadaru), penduduk Lisawa tersentak gempar dengan ditemukannya air yang tiba-tiba keluar dari antara bebatuan hasil pembekuan lahar panas. Air yang tergenang itu kemudian membentuk sebuah telaga.
Airnya bening kebiruan dan berada di bawah rimbunnya pohon beringin. Kejadian ini membuat bingung penduduk. Mereka bertanya-tanya dari manakah asal air itu? Apakah ini berkat ataukah pertanda bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi. Apa gerangan yang membuat fenomena ini terjadi?
Berita tentang terbentuknya telaga pun tersiar dengan cepat. Apalagi di daerah itu tergolong sulit air. Berbagai cara dilakukan untuk mengungkap rasa penasaran penduduk. Upacara adat digelar untuk menguak misteri timbulnya telaga kecil itu. Penelusuran lewat ritual adat berupa pemanggilan terhadap roh-roh leluhur sampai kepada penyembahan Jou Giki Moi atau Jou maduhutu (Allah yang Esa atau Allah Sang Pencipta) pun dilakukan.
Acara ritual adat menghasilkan jawaban “Timbul dari Sininga irogi de itepi Sidago kongo dalulu de i uhi imadadi ake majobubu” (Timbul dari akibat patah hati yang remuk-redam, meneteskan air mata, mengalir dan mengalir menjadi sumber mata air).
Dolodolo (kentongan) pun dibunyikan sebagai isyarat agar semua penduduk dusun Lisawa berkumpul. Mereka bergegas untuk datang dan mendengarkan hasil temuan yang akan disampaikan oleh sang Tetua adat. Suasana pun berubah menjadi hening. Hanya bunyi desiran angin dan desahan nafas penduduk yang terdengar.
Tetua adat dengan penuh wibawa bertanya “Di antara kalian siapa yang tidak hadir namun juga tidak berada di rumah”. Para penduduk mulai saling memandang. Masing-masing sibuk menghitung jumlah anggota keluarganya. Dari jumlah yang tidak banyak itu mudah diketahui bahwa ada dua keluarga yang kehilangan anggotanya. Karena enggan menyebutkan nama kedua anak itu, mereka hanya menyapa dengan panggilan umum orang Galela yakni Majojaru (nona) dan Magohiduuru (nyong). Sepintas kemudian, mereka bercerita perihal kedua anak itu.
Majojaru sudah dua hari pergi dari rumah dan belum juga pulang. Sanak saudara dan sahabat sudah dihubungi namun belum juga ada kabar beritanya. Dapat dikatakan bahwa kepergian Majojaru masih misteri. Kabar dari orang tua Magohiduuru mengatakan bahwa anak mereka sudah enam bulan pergi merantau ke negeri orang namun belum juga ada berita kapan akan kembali.
Majojaru dan Magohiduuru adalah sepasang kekasih. Di saat Magohiduuru pamit untuk pergi merantau, keduanya sudah berjanji untuk tetap sehidup-semati. Sejatinya, walau musim berganti, bulan dan tahun berlalu tapi hubungan dan cinta kasih mereka akan sekali untuk selamanya. Jika tidak lebih baik mati dari pada hidup menanggung dusta.
Enam bulan sejak kepergian Magohiduuru, Majojaru tetap setia menanti. Namun, badai rupanya menghempaskan bahtera cinta yang tengah berlabuh di pantai yang tak bertepi itu.
Kabar tentang Magohiduuru akhirnya terdengar di dusun Lisawa. Bagaikan tersambar petir disiang bolong Majojaru terhempas dan jatuh terjerembab. Dirinya seolah tak percaya ketika mendengar bahwa Magohiduuru so balaeng deng nona laeng. Janji untuk sehidup-semati seolah menjadi bumerang kematian.
Dalam keadaan yang sangat tidak bergairah Majojaru mencoba mencari tempat berteduh sembari menenangkan hatinya. Ia pun duduk berteduh di bawah pohon Beringin sambil meratapi kisah cintanya.
Air mata yang tak terbendung bagaikan tanggul dan bendungan yang terlepas, airnya terus mengalir hingga menguak, tergenang dan menenggelamkan bebatuan tajam yang ada di bawah pohon beringin itu. Majojaru akhirnya tenggelam oleh air matanya sendiri.
Telaga kecil pun terbentuk. Airnya sebening air mata dan warnanya sebiru pupil mata nona endo Lisawa. Penduduk dusun Lisawa pun berkabung. Mereka berjanji akan menjaga dan memelihara telaga yang mereka namakan Telaga Biru.
Telaga biru kala itu selalu tampak bersih. Airnya sejernih kristal berwarna kebiruan. Setiap dedaunan yang jatuh di atasnya tidak akan tenggelam karena seolah terhisap untuk dibersihkan oleh bebatuan yang ada di tepian telaga.
Sampai saat ini mitos asal-mula telaga Biru masih terus terjaga di masyarakat. Pasangan muda-mudi dari Galela dan Tobelo ada yang datang ke telaga ini untuk saling mengikat janji. Sebagai tanda ikatan mereka akan mengambil air dengan daun Cingacinga dan lalu meminumnya bersama. Air yang masih tersisa biasanya akan dipakai untuk membasuh kaki dan wajah. Maknanya adalah supaya jangan ada lagi air mata yang mengalir dari setiap ikatan janji dan hubungan.
Penduduk dusun Lisawa mula-mula kini telah tiada dan hanya menyisakan telaga Biru. Sayang kondisi telaga Biru saat ini kian merana akibat ditebangnya pepohonan di sekitar telaga. Hal ini semakin diperparah dengan hilangnya bebatuan di sekitar telaga yang telah berganti dengan tanggul beton. Masyarakat sekitar juga memanfaatkan telaga ini sebagai tempat MCK sehingga banyak sampah plastik yang kini sangat merusak pemandangan. Belum lagi batang-batang pohon yang sengaja ditebang tidak pernah diangkat tetapi dibiarkan membusuk didalam air telaga.
Telaga Biru kini kembali menangis dan bertanya adakah orang yang dapat bertahan jika di dalam matanya kemasukan butiran pasir atau terkena pedihnya air sabun. Jika masih ada maka jangan wariskan derita ini pada anak cucumu. Ingat dan camkan bahwa negeri ini adalah pinjaman dari anak cucu kita!

TELAGA ORIGINS BLUE
In the Northern hemisphere Halmahera (North Maluku) precisely in the region Galela Lisawa hamlet, amid the serenity of living and population are still rare (only made up of several houses or dadaru), population Lisawa jerk uproar with the discovery of water suddenly came out from between freezing the hot lava rocks. Stagnant water was then formed a lake.
The water was clear blue and is under the thick banyan tree. This incident makes people confused. They wonder where the origin of the water? Is this a blessing or a sign that something bad will happen. What the hell makes this phenomenon happen?
News about the formation of the lake was spread quickly. Especially in the area was classified as hard water. Various ways done to uncover people's curiosity. Ritual was held to unveil the mystery of the emergence of the small lake. Search through the form of traditional rituals invoking the ancestral spirits came to worship or Jou Jou Giki maduhutu Moi (one God or God the Creator) were performed.
Customary rituals to produce the answer "Arising from Sininga irogi de itepi Sidago Congo dalulu de i Uhi imadadi majobubu ake" (Arising from a broken heart from a broken-mute, shed tears, flowing and flowing into water sources).
Dolodolo (gong), also sounded as a signal for all villagers gather Lisawa. They hurried to come and listen to the findings will be submitted by the Indigenous Elders. The atmosphere was turned into silence. Only the sound of rustling wind and an audible sigh of breath population.
Traditional elders with dignity ask "Among you who did not attend but also not at home." The residents begin to look at each other. Each busy counting the number of family members. Of the total was not much easy to know that there are two families who lost members. Because reluctant to name the children, they just greet people with a general call Galela namely Majojaru (lady) and Magohiduuru (nyong). At first glance then, they talked about the children.
Majojaru was two days away from home and had not yet come home. Relatives and friends has been contacted but has not been any news story. It could be argued that the departure Majojaru still a mystery. News from Magohiduuru parents say that their child was six months away people migrated to the country but also no news yet when it will come back.
Majojaru and Magohiduuru were lovers. At the moment Magohiduuru leave to go abroad, they had promised to remain lively-semati. Indeed, despite changing seasons, months and years have passed but the relationships and love they will once and for all. If not better to die than to live with the lie.
Six months after the departure of Magohiduuru, Majojaru remain faithful waiting. However, the storm apparently blew the Ark of love that was docked in the endless beaches.
News of Magohiduuru Lisawa finally heard in the village. Benefits of Sleep perforated like a bolt of lightning slammed Majojaru stumbled and fell. Himself as if in disbelief when he heard that Magohiduuru so balaeng deng nona laeng. Promises to be as lively as a boomerang-semati death.
In a highly excited state Majojaru seek shelter while trying to calm his heart. He also sat down to stay under the banyan tree while lamenting her love story.
The tears are unstoppable like dikes and dams are removed, the water continues to flow to uncover, stagnant and drown the sharp rocks under the banyan tree. Majojaru eventually drowned by his own tears.
Small lake was formed. The water is water-clear eyes and the color sebiru endo Lisawa lady pupils. Lisawa villagers were mourning. They promised to maintain and preserve the lake which they named Lake Blue.
Blue lake at that time always seemed clean. The water is crystal clear bluish. Any foliage that falls on it will not sink because if inhaled to be cleaned by the rocks that exist on the edge of lake.
Until now the origin myth Blue lake is still awake in the community. Young couples from Galela and Tobelo have come to this lake for each binding promise. As a sign of their bond will take the water with leaf Cingacinga and then drank it together. Remaining water will usually be used to wash the feet and face. What it means is that no more tears that flow from each bond promises and relationships.
Lisawa villagers initially has now gone, leaving only blue lake. Unfortunately the current condition of the lake Blue increasingly miserable because they cut down trees around the lake. This is aggravated by the loss of the rocks around the lake that has been replaced with concrete embankments. Surrounding communities also use this lake as a toilet so much plastic waste is now an eyesore. Not to mention the trunks of trees felled deliberately never removed but left to rot in the lake water.
Blue Lake is now back crying and asking is there any that can survive, if in the eyes possessed a grain of sand or exposed to the pain of soapy water. If still there then do not pass on this pain in thine offspring. Remember and keep in mind that this country is borrowing from our children and grandchildren.


RATU AJI BIDARA PUTIH
Kecamatan Muara Kaman (Kalimantan Timu) terletak di tepi aliran sungai Mahakam. Jaraknya cukup jauh dari kota Samarinda. Keadaan perkampungannya terdiri dari rumah-rumah papan yang sederhana. Di wilayah ini beredar sebuah cerita legenda yang amat dikenal oleh penduduk. Kisah tentang seorang ratu yang cantik jelita dengan pasukan lipan raksasanya.
Dahulu kala negeri Muara Kaman diperintah oleh seorang ratu namanya Ratu Aji Bidara Putih. Ratu Aji Bidara Puthi adalah seorang gadis yang cantik jelita. Anggun pribadi dan penampilannya serta amat bijaksana. Semua kelebihannya itu membuat ia terkenal sampai di mana-mana; bahkan sampai ke manca negara. Sang Ratu benar-benar bagaikan kembang yang cantik, harum mewangi. Maka tidaklah mengherankan apabila kemudian banyak raja, pangeran dan bangsawan yang ingin mempersunting sebagai istri.
Pinangan demi pinangan mengalir bagai air sungai Mahakam yang tak pernah berhenti mengalir. Namun sang Ratu selalu menolak. “Belum saatnya aku memikirkan pernikahan. Diriku dan perhatianku masih dibutuhkan oleh rakyat yang kucintai. Aku masih ingin terus memajukan negeri ini,” ujarnya.
Kemudian pada suatu hari muncullah sebuah jung atau kapal besar dari negeri Cina. Kapal itu melayari sungani Mahakam yang luas bagai lautan. Menuju ke arah hulu. Hingga akhirnya berlabuh tidak jauh dari pelabuhan negeri Muara Kaman.
Penduduk setempat mengira penumpang kapal itu datang untuk berdagang. Sebab waktu itu sudah umum kapal-kapal asing datang dan singgah untuk berdagang. Akan tetapi ternyata penumpang kapal itu mempunyai tujuan lain.
Sesungguhnya kapal itu adalah kapal milik seorang pangeran yang terkenal kekayaannya di negeri Cina. Ia disertai sepasukan prajurit yang gagah perkasa dan amat mahir dalam ilmu beladiri. Kedatangannya ke Muara Kaman semata-mata hanya dengan satu tujuan. Bukan mau berdagang, tetapi mau meminang Ratu Aji Bidara Putih!
Kemudian turunlah para utusan sang Pangeran. Mereka menghadap Ratu AJi Bidara Putih di istana negeri. Mereka membawa barang-barang antik dari emas, dan keramik Cina yang terkenal. Semua itu mereka persembahkan sebagai hadiah bagi Ratu Aji Bidara Putih dari junjungan mereka. Sambil berbuat demikian mereka menyampaikan pinangan Sang Pangeran terhadap diri Ratu Aji Bidara Putih.
Kali ini sang Ratu tidak langsung menolak. Ia mengatakan bahwa ia masih akan memikirkan pinangan Sang Pangeran. Lalu dipersilakannya para utusan kembali ke kapal. Setelah para utusan meninggalkan istana, Ratu memanggil seorang punggawa kepercayaannya.
“Paman,” ujarnya, “para utusan tadi terasa amat menyanjung-nyanjung junjungannya. Bahwa pangeran itu tampan, kaya dan perkasa. Aku jadi ingin tahu, apakaah itu semua benar atau cuma bual belaka. Untuk itu aku membutuhkan bantuannmu.”
“Apa yang mesti saya lakukan, Tuanku?” tanya si punggawa.
“Nanti malam usahakanlah kau menyelinap secara diam-diam ke atas kapal asing itu. Selidikilah keadaan pangeran itu. Kemudian laporkan hasilnya kepadaku.”
“Baik, Tuanku. Perintah Anda akan saya laksanakan sebaik-baiknya.” Ketika selimut malam turun ke bumi, si punggawa pun berangkat melaksanakan perintah junjungannya. Dengan keahliannya ia menyeberangi sungai tanpa suara. Lalu ia melompat naik ke atas geladak kapal yang sunyi. Dengan gerak-gerik waspada ia menghindari para penjaga. Dengan hati-hati ia mencari bilik sang pangeran. Sampai akhirnya ia berhasil menemukannya.
Pintu bilik yangsangat mewah itu tertutup rapat. Tetapi keadaan di dalamnya masih benderang, tanda sang pangeran belum tidur. Si punggawa mencari celah untuk mengintip kedalam, namun tidak menemukan. Maka akhirnya ia hanya dapat menempelkan telinga ke dinding bilik, mendengarkan suara-suara dari dalam.
Pada saat itu sebenarnya sang Pangeran Cina sedang makan dengan sumpit, sambil sesekali menyeruput arak dari cawan. Suara decap dan menyeruput mulutnya mengejutkan sipunggawa. “Astaga.. suara ketika makam mengingatkanku kepada… kepada apa, ya?” pikir si Punggawa sambil mengingat-ingat. Kemudian si Punggawa benar-benar ingat. Pada waktu ia berburu dan melihat babi hutan sedang minum di anak sungai. Suaranya juga berdecap-decap dan menyeruput seperti itu. Ia juga teringat pada suara dari mulut anjing dan kucing ketika melahap makanan.
“Ah ya … benar-benar persis … persis seperti suara yang kudengar! Jadi jangan-jangan..” Tiba-tiba mata si punggawa terbelalak. Seperti orang teringat sesuatu yang mengejutkan. Hampir serentak dengan itu ia pun menyelinap meninggalkan tempat bersembunyi. Ia meninggalkan kapal dan cepat-cepat kembali untuk melaporkan kepada Ratu Aji Bidara Putih.
“Kau jangan mengada-ada, Paman,” tegur Ratu setelah mendengar laporan punggawa itu.
“Saya tidak mengada-ada, Tuanku! Suaranya ketika makan tadi meyakinkan saya, ” kata si punggawa. “Pangeran itu pasti bukan manusia seperti kita. Pasti dia siluman! Entah siluman babi hutan, anjing atau kucing. Pokoknya siluman! Hanya pada waktu siang ia berubah ujud menjadi manusia! Percayalah Tuanku. Saya tidak mengada-ada..”
Penjelasan si punggawa yang meyakinkan membuat Ratu Aji Bidara Putih akhirnya percaya. Tidak lucu, pikirnya, kalau ia sampai menikah dengan siluman. Padahal banyak raja dan pangeran tampan yang telah meminangnya. Maka pada keesokan harinya dengan tegas ia menyatakan penolakannya terhadap pinangan pangeran itu.
Sang Pangeran amat murka mendengar penolakan Ratu Aji Bidara Putih. Berani benar putri itu menolaknya. Dalam kekalapannya ia segera memerintahkan pada prajuritnya untuk menyerang negeri Muara Kaman.
Para prajurit itu menyerbu negeri Muara Kaman. Kentara bahwa mereka lebih berpengalaman dalam seni bertempur. Para prajurit Muara Kaman terdesak, korban yang jatuh akibat pertempuran itu semakin bertambah banyak. Sementara para prajurit suruhan sang pangeran makin mendekat ke arah istana.
Ratu Aji Bidara Putih merasa sedih dan panik. Namun kemudian ia berusaha menenangkan pikirannya. Ia mengheningkan cipta. setelah itu ia mengunyah sirih. Kemudian kunyahan sepah sirih digenggamnya erat-erat. Lalu berkata, “Jika benar aku keturunan raja-raja yang sakti, terjadilah sesuatu yang dapat mengusir musuh yang sedang mengancam negeriku!”
Serentak dengan itu dilemparkannya sepah sirih itu ke arena pertempuran… dan , astaga..lihatlah! Tiba-tiba sepah sirih itu berubah menjadi lipan-lipan raksasa yang amat banyak jumlahnya!
Tetapi lipan-lipan itu tidak berhenti menyerbu. Tiga ekor lipan raksasa mewakili kelompoknya. Mereka berenang ke kapal, lalu membalikkannya hingga kapal itu tenggelam beserta seluruh penumpangnya dan isinya… Tempat bekas tenggelamnya kapal itu hingga kini oleh penduduk Muara Kaman disebut Danau Lipan. Konon, menurut empunya cerita, dulu di tempat ini sesekali ditemukan barang-barang antik dari negeri Cina.

QUEEN AJI LOTE WHITE
Kecamatan Muara Kaman (Kalimantan Timu) is located on the banks of the Mahakam river. The distance is quite far from the city of Samarinda. Perkampungannya state consists of the houses are simple boards. In this region circulated a story of legend who is very well known by the population. The story of a beautiful queen with a giant centipede troops.
Muara Kaman yore country ruled by a queen named Queen Aji lote White. Queen Aji lote Puthi is a beautiful girl. Private and elegant appearance and is very wise. All the advantages that made it famous up everywhere, even to foreign countries. The Queen is really like a beautiful flower, fragrant scent. So it is not surprising that later many kings, princes and nobles who wanted to marry a wife.
Proposal after proposal Mahakam river flowing like water that never stops flowing. But the Queen is always refused. "Not yet time for me to think about marriage. Myself and my attention is still needed by the people I love. I still want to continue to advance this country, "he said.
Then one day came a junk or a large ship from China. The ship was sailing sungani extensive Mahakam like the ocean. Towards upstream. Until finally anchored not far from the port of Muara Kaman country.
Local residents thought the passenger ship that came to trade. Because it was already common foreign ships come and stop by to trade. However, it turns out the passenger ship had another purpose.
Verily the ship is a ship owned by a prince of the famous country estate in China. He was accompanied by a squad of soldiers who were gallant and highly proficient in martial arts. His arrival to the Muara Kaman solely with one purpose. Not willing to trade, but want to woo the White Queen Aji lote!
Then came the messenger of the Prince. They overlook the White Queen in the palace AJI lote country. They bring antiques of gold, and China's famous ceramics. All that they offer as a reward for the White Queen Aji lote of their lord. While doing so they deliver the proposal to the self-Prince Queen Aji lote White.
This time the Queen was not immediately rejected. He says that he still will think of the proposal the Prince. Then dipersilakannya the envoys returned to the ship. After the delegates left the palace, the queen summoned a retainer trust.
"Uncle," he said, "the envoys had felt very flattering lord. That prince was handsome, rich and powerful. I so want to know, apakaah it all true or just a mere boast. For that I need Your assistance. "
"What should I do, lord?" Said the courtier.
"Tonight you get yourself to slip quietly onto the alien ship. Investigate the state of the prince. Then report the results to me. "
"Yes, my lord. Your command will carry out my best. "When a blanket the night came down to earth, the courtier lord set off carrying out orders. With the expertise he crossed the river without a vote. Then he jumped up onto the deck of a ship is quiet. With cautious movements he avoided the guards. Carefully, he searched for the prince's chamber. Until finally he managed to find it.
Luxurious boiling chamber door was closed. But the situation in it is still lit, the sign of the prince was not asleep. The courtier seeking to peek into the gap, but did not find. And finally he can only put your ear to the wall of the chamber, listening to the voices from within.
At that time China was in fact the prince was eating with chopsticks, while occasionally sipping wine from the cup. Decap and slurping sound surprising sipunggawa mouth. "Gosh .. when the grave voice reminds me to ... to what, huh? "thought the courtier while to remember. Then the courtier really remember. At the time he saw a boar hunt and was drinking at the creek. His voice also berdecap-decap and sip like that. He also remembered the sound from the mouth of dogs and cats when eating food.
"Ah yes ... exactly ... actually sounds exactly like what I hear! So do-do .. "Suddenly the eye of the courtier widened. As people remembered something surprising. Almost simultaneously with that he left the place slipped into hiding. He left the ship and quickly returned to report to the White Queen Aji lote.
"You're not making it up, Uncle, 'said the Queen after hearing reports that retainer.
"I'm not making this up, my lord! Her voice when eating had assured me, "said the courtier. "Prince was definitely not human like us. Surely he's invisible! Whether phantom pig, dog or cat. Just stealth! Only by day he turned into a human! Believe me lord. I am not making this up .. "
Explanation of the courtier who convinced a lote White Queen Aji finally believe. Not funny, she thought, if he got married with stealth. Though many kings and princes who have meminangnya handsome. So the next day he firmly stated his rejection of the prince's proposal.
The prince is furious to hear the rejection White Queen Aji lote. How dare daughter was refused. In kekalapannya he immediately ordered his soldiers to attack the country in Muara Kaman.
The soldiers stormed the country Muara Kaman. Obvious that they are more experienced in the art of combat. The soldiers pressed Muara Kaman, casualties due to fighting more and more. While the soldiers telling the prince approached the palace.
Queen Aji White lote feel sad and panicked. But then he tried to calm her mind. He was a moment of silence. after that she was chewing betel. Then chew betel junk clutched tightly. Then said, "If it is true I descendant of the kings of magic, there was something that could repel the enemy who was threatening my country!"
At the same time he threw it into the junk betel arena battle ... and, gosh .. look! Suddenly it turned into a junk betel-centipede giant centipede that very many in number!
But the centipede, centipedes, it does not stop invaded. Three giant centipede tail representing the group. They swam to the boat, then turned it upside down until the ship sank and all its occupants and its contents ... Places former sinking up to now by the residents of Muara Kaman called Lake Centipede. That said, according to the owner of the story, once in place is occasionally found in antiques from China.

ASAL USUL GUNUNG TANGKRUBAN PERAHU
Di Jawa Barat tepatnya di Kabupaten Bandung terdapat sebuah tempat rekreasi yang sangat indah yaitu Gunung Tangkuban Perahu. Tangkuban Perahu artinya adalah perahu yang terbalik. Diberi nama seperti karena bentuknya memang menyerupai perahu yang terbalik. Konon menurut cerita rakyat Parahyangan gunung itu memang merupakan perahu yang terbalik. Berikut ini ceritanya.
Diceritakan bahwa Raja Sungging Perbangkara pergi berburu. Di tengah hutan Sang Raja membuang air seni yang tertampung dalam daun caring (keladi hutan). Seekor babi hutan betina bernama Wayungyang yang tengah bertapa ingin menjadi manusia meminum air seni tadi. Wayungyang hamil dan melahirkan seorang bayi cantik. Bayi cantik itu dibawa ke keraton oleh ayahnya dan diberi nama Dayang Sumbi alias Rarasati.
Dayang Sumbi sangat cantik dan cerdas, banyak para raja yang meminangnya, tetapi seorang pun tidak ada yang diterima. Akhirnya para raja saling berperang di antara sesamanya. Galau hati Dayang Sumbi melihat kekacauan yang bersumber dari dirinya. Atas permitaannya sendiri Dayang Sumbi mengasingkan diri di sebuah bukit ditemani seekor anjing jantan yaitu Si Tumang. Ketika sedang asyik bertenun, toropong (torak) yang tengah digunakan bertenun kain terjatuh ke bawah. Dayang Sumbi karena merasa malas, terlontar ucapan tanpa dipikir dulu, dia berjanji siapa pun yang mengambilkan torak yang terjatuh bila berjenis kelamin laki-laki, akan dijadikan suaminya. Si Tumang mengambilkan torak dan diberikan kepada Dayang Sumbi.
Dayang Sumbi pun menikahi Si Tumang dan dikaruniai bayi laki-laki yang diberi nama Sangkuriang. Sangkuriang memiliki kekuatan sakti seperti ayahnya. Dalam masa pertumbuhannya, Sangkuring selalu ditemani bermain oleh Si Tumang yang yang dia ketahui hanya sebagai anjing yang setia, bukan sebagai ayahnya. Sangkuriang tumbuh menjadi seorang pemuda yang tampan, gagah perkasa dan sakti.
Pada suatu hari Sangkuriang berburu di dalam hutan disuruhnya Si Tumang untuk mengejar babi betina yang bernama Wayungyang. Karena si Tumang tidak menurut, Sangkuriang marah dan membunuh Si Tumang. Daging Si Tumang oleh Sangkuriang diberikan kepada Dayang Sumbi, lalu dimasak dan dimakannya. Setelah Dayang Sumbi mengetahui bahwa yang dimakannya adalah Si Tumang, kemarahannya pun memuncak serta merta kepala Sangkuriang dipukul dengan senduk yang terbuat dari tempurung kelapa sehingga luka dan diusirlah Sangkuriang.
Sangkuriang pergi mengembara mengelilingi dunia. Setelah sekian lama berjalan ke arah timur akhirnya sampailah di arah barat lagi dan tanpa sadar telah tiba kembali di tempat Dayang Sumbi, tempat ibunya berada. Sangkuriang tidak mengenal bahwa putri cantik yang ditemukannya adalah Dayang Sumbi – ibunya, begitu juga sebaliknya. Terjalinlah kisah kasih di antara kedua insan itu. Tanpa sengaja Dayang Sumbi mengetahui bahwa Sangkuriang adalah puteranya, dengan tanda luka di kepalanya.
Dayang Sumbi pun berusaha menjelaskan kesalahpahaman hubungan mereka. Walau demikian, Sangkuriang tetap memaksa untuk menikahinya. Dayang Sumbi meminta agar Sangkuriang membuatkan perahu dan telaga (danau) dalam waktu semalam dengan membendung sungai Citarum. Sangkuriang menyanggupinya.
Maka dibuatlah perahu dari sebuah pohon yang tumbuh di arah timur, tunggul/pokok pohon itu berubah menjadi gunung ukit Tanggul. Rantingnya ditumpukkan di sebelah barat dan mejadi Gunung Burangrang. Dengan bantuan para guriang, bendungan pun hampir selesai dikerjakan. Tetapi Dayang Sumbi bermohon kepada Sang Hyang Tunggal agar maksud Sangkuriang tidak terwujud. Dayang Sumbi menebarkan irisan boeh rarang (kain putih hasil tenunannya), ketika itu pula fajar pun merekah di ufuk timur. Sangkuriang menjadi gusar, dipuncak kemarahannya, bendungan yang berada di Sanghyang Tikoro dijebolnya, sumbat aliran sungai Citarum dilemparkannya ke arah timur dan menjelma menjadi Gunung Manglayang. Air Talaga Bandung pun menjadi surut kembali. Perahu yang dikerjakan dengan bersusah payah ditendangnya ke arah utara dan berubah wujud menjadi Gunung Tangkuban Perahu.
Sangkuriang terus mengejar Dayang Sumbi yang mendadak menghilang di Gunung Putri dan berubah menjadi setangkai unga jaksi. Adapun Sangkuriang setelah sampai di sebuah tempat yang disebut dengan Ujung berung akhirnya menghilang ke alam gaib (ngahiyang).

ORIGINS OF THE MOUNTAIN BOAT TANGKRUBAN
In West Java, Bandung regency precisely in recreation there is a very beautiful place that is Mount Tangkuban Perahu. Tangkuban Perahu means a boat that overturned. Named because its shape is certainly like an inverted boat. It is said that according to folklore Parahyangan mountain is indeed an inverted boat. Here is his story.
Told that King Sungging Perbangkara go hunting. In the middle of the forest the King throwing urine collected in caring leaves (taro forest). A female pig named Wayungyang who was imprisoned want to be human urine drinking earlier. Wayungyang pregnant and gave birth to a beautiful baby. Beautiful baby was taken to the palace by his father and named Dayang Sumbi Rarasati alias.
Dayang Sumbi very beautiful and intelligent, many of the kings who ask for her hand but no one was accepted. Finally, the king of warring among themselves. Dayang Sumbi troubled hearts to see the chaos that comes from him. Top Dayang Sumbi permitaannya own exile in the hill accompanied by a male dog that is Si Tumang. While it is fun to weave, toropong (piston) which was used to weave cloth fell to the bottom.
Dayang Sumbi feeling lazy, without a second thought once uttered speech, he promised to pick up anyone who fell off when the piston-sex male, would become her husband. The Tumang get piston and given to Dayang Sumbi.
Dayang Sumbi was married to Si Tumang and blessed baby boy named Sangkuriang. Sangkuriang have the power of magic like his father. In times of growth, Sangkuring always accompanied by Si Tumang play that he knew only as a faithful dog, not as a father. Sangkuriang grown into a handsome young man, burly and powerful.
On a day of hunting in the woods Sangkuriang sent Si Tumang to pursue a female pig named Wayungyang.
Because the Tumang not think, Sangkuriang angry and kill Si Tumang. Meat The Tumang by Sangkuriang given to Dayang Sumbi, then cooked and eaten. After Dayang Sumbi know that that is eaten Si Tumang, his anger was heightened immediately hit with a Senduk Sangkuriang head made from coconut shell so that the wound and diusirlah Sangkuriang.
Sangkuriang go wandering around the world. After a long walk to the east finally arrived in the west again and unknowingly has arrived back in place Dayang Sumbi place her mother was. Sangkuriang not know that the beautiful princess is found Dayang Sumbi - his mother, and vice versa. Terjalinlah story of love between two beings that. Dayang accidentally Sangkuriang Sumbi know that is his son, with a wound in his head.
Dayang Sumbi any attempt to explain the misunderstanding of their relationship. However, Sangkuriang still forced to marry her. Dayang Sumbi request for Sangkuriang make boats and lake (lake) in a single night to stem the Citarum river. Sangkuriang it undertakes.
So the boat was made from a tree that grows in the east, stump / staple the tree turned into a mountain ukit Embankment. Stacked branches on the west and becoming Mount Burangrang. With the help of guriang, the dam was almost completed. But Dayang Sumbi beg to Sang Hyang Tunggal for the purpose Sangkuriang not materialize. Dayang Sumbi boeh rarang spread slices (white cloth weaving results), when it was also the dawn broke in the eastern horizon. Sangkuriang become angry, dipuncak anger, the dam is located in Sanghyang Tikoro uprooted his, cork tossed the Citarum river basin to the east and transformed into Mount Manglayang.
Bandung Water Talaga became receding back. Working with boats struggled kicked to the north and transformed into Mount Tangkuban Perahu.
Dayang Sumbi Sangkuriang continue to pursue a sudden disappeared on Mount princess and turned into a bunch of UNGA jaksi. The Sangkuriang after arriving at a place called Edge Berung eventually disappeared into the supernatural (ngahiyang).

ASAL USUL DANAU TOBA
Pada zaman dahulu di suatu desa di Sumatera Utara hiduplah seorang petani bernama Toba yang menyendiri di sebuah lembah yang landai dan subur. Petani itu mengerjakan lahan pertaniannya untuk keperluan hidupnya.
Selain mengerjakan ladangnya, kadang-kadang lelaki itu pergi memancing ke sungai yang berada tak jauh dari rumahnya. Setiap kali dia memancing, mudah saja ikan didapatnya karena di sungai yang jernih itu memang banyak sekali ikan. Ikan hasil pancingannya dia masak untuk dimakan.
Pada suatu sore, setelah pulang dari ladang lelaki itu langsung pergi ke sungai untuk memancing. Tetapi sudah cukup lama ia memancing tak seekor iakan pun didapatnya. Kejadian yang seperti itu,tidak pernah dialami sebelumnya. Sebab biasanya ikan di sungai itu mudah saja dia pancing. Karena sudah terlalu lama tak ada yang memakan umpan pancingnya, dia jadi kesal dan memutuskan untuk berhenti saja memancing. Tetapi ketika dia hendak menarik pancingnya, tiba-tiba pancing itu disambar ikan yang langsung menarik pancing itu jauh ketengah sungai. Hatinya yang tadi sudah kesal berubah menjadi gembira, Karena dia tahu bahwa ikan yang menyambar pancingnya itu adalah ikan yang besar.
Setelah beberapa lama dia biarkan pancingnya ditarik ke sana kemari, barulah pancing itu disentakkannya, dan tampaklah seekor ikan besar tergantung dan menggelepar-gelepar di ujung tali pancingnya. Dengan cepat ikan itu ditariknya ke darat supaya tidak lepas. Sambil tersenyum gembira mata pancingnya dia lepas dari mulut ikan itu. Pada saat dia sedang melepaskan mata pancing itu, ikan tersebut memandangnya dengan penuh arti. Kemudian, setelah ikan itu diletakkannya ke satu tempat dia pun masuk ke dalam sungai untuk mandi. Perasaannya gembira sekali karena belum pernah dia mendapat ikan sebesar itu. Dia tersenyum sambil membayangkan betapa enaknya nanti daging ikan itu kalau sudah dipanggang. Ketika meninggalkan sungai untuk pulang kerumahnya hari sudah mulai senja.
Setibanya di rumah, lelaki itu langsung membawa ikan besar hasil pancingannya itu ke dapur. Ketika dia hendak menyalakan api untuk memanggang ikan itu, ternyata kayu bakar di dapur rumahnya sudah habis. Dia segera keluar untuk mengambil kayu bakar dari bawah kolong rumahnya. Kemudian, sambil membawa beberapa potong kayu bakar dia naik kembali ke atas rumah dan langsung menuju dapur.
Pada saat lelaki itu tiba di dapur, dia terkejut sekali karena ikan besar itu sudah tidak ada lagi. Tetapi di tempat ikan itu tadi diletakkan tampak terhampar beberapa keping uang emas. Karena terkejut dan heran mengalami keadaan yang aneh itu, dia meninggalkan dapur dan masuk kekamar.
Ketika lelaki itu membuka pintu kamar, tiba-tiba darahnya tersirap karena didalam kamar itu berdiri seorang perempuan dengan rambut yang panjang terurai. Perempuan itu sedang menyisir rambutnya sambil berdiri menghadap cermin yang tergantung pada dinding kamar. Sesaat kemudian perempuan itu tiba-tiba membalikkan badannya dan memandang lelaki itu yang tegak kebingungan di mulut pintu kamar. Lelaki itu menjadi sangat terpesona karena wajah perempuan yang berdiri dihadapannya luar biasa cantiknya. Dia belum pernah melihat wanita secantik itu meskipun dahulu dia sudah jauh mengembara ke berbagai negeri.
Karena hari sudah malam, perempuan itu minta agar lampu dinyalakan. Setelah lelaki itu menyalakan lampu, dia diajak perempuan itu menemaninya kedapur karena dia hendak memasak nasi untuk mereka. Sambil menunggu nasi masak, diceritakan oleh perempuan itu bahwa dia adalah penjelmaan dari ikan besar yang tadi didapat lelaki itu ketika memancing di sungai. Kemudian dijelaskannya pula bahwa beberapa keping uang emas yang terletak di dapur itu adalah penjelmaan sisiknya. Setelah beberapa minggu perempuan itu menyatakan bersedia menerima lamarannya dengan syarat lelaki itu harus bersumpah bahwa seumur hidupnya dia tidak akan pernah mengungkit asal usul istrinya myang menjelma dari ikan. Setelah lelaki itu bersumpah demikian, kawinlah mereka.
Setahun kemudian, mereka dikaruniai seorang anak laki-laki yang mereka beri nama Samosir. Anak itu sngat dimanjakan ibunya yang mengakibatkan anak itu bertabiat kurang baik dan pemalas.
Setelah cukup besar, anak itu disuruh ibunya mengantar nasi setiap hari untuk ayahnya yang bekerja di ladang. Namun, sering dia menolak mengerjakan tugas itu sehingga terpaksa ibunya yang mengantarkan nasi ke ladang.
Suatu hari, anak itu disuruh ibunya lagi mengantarkan nasi ke ladang untuk ayahnya. Mulanya dia menolak. Akan tetapi, karena terus dipaksa ibunya, dengan kesl pergilah ia mengantarkan nasi itu. Di tengah jalan, sebagian besar nasi dan lauk pauknya dia makan. Setibanya diladang, sisa nasi itu yang hanya tinggal sedikit dia berikan kepada ayahnya. Saat menerimanya, si ayah sudah merasa sangat lapar karena nasinya terlambat sekali diantarkan. Oleh karena itu, maka si ayah jadi sangat marah ketika melihat nasi yang diberikan kepadanya adalah sisa-sisa. Amarahnya makin bertambah ketika anaknya mengaku bahwa dia yang memakan sebagian besar dari nasinya itu. Kesabaran si ayah jadi hilang dan dia pukul anaknya sambil mengatakan: “Anak kurang ajar. Tidak tahu diuntung. Betul-betul kau anak keturunan perempuan yang berasal dari ikan!”
Sambil menangis, anak itu berlari pulang menemui ibunya di rumah. Kepada ibunya dia mengadukan bahwa dia dipukuli ayahnya. Semua kata-kata cercaan yang diucapkan ayahnya kepadanya di ceritakan pula. Mendengar cerita anaknya itu, si ibu sedih sekali, terutama karena suaminya sudah melanggar sumpahnya dengan kata-kata cercaan yang dia ucapkan kepada anaknya itu. Si ibu menyuruh anaknya agar segera pergi mendaki bukit yang terletak tidak begitu jauh dari rumah mereka dan memanjat pohon kayu tertinggi yang terdapat di puncak bukit itu. Tanpa bertanya lagi, si anak segera melakukan perintah ibunya itu. Dia berlari-lari menuju ke bukit tersebut dan mendakinya.
Ketika tampak oleh sang ibu anaknya sudah hampir sampai ke puncak pohon kayu yang dipanjatnya di atas bukit , dia pun berlari menuju sungai yang tidak begitu jauh letaknya dari rumah mereka itu. Ketika dia tiba di tepi sungai itu kilat menyambar disertai bunyi guruh yang megelegar. Sesaat kemudian dia melompat ke dalam sungai dan tiba-tiba berubah menjadi seekor ikan besar. Pada saat yang sama, sungai itu pun banjir besar dan turun pula hujan yang sangat lebat. Beberapa waktu kemudian, air sungai itu sudah meluap kemana-mana dan tergenanglah lembah tempat sungai itu mengalir. Pak Toba tak bisa menyelamatkan dirinya, ia mati tenggelam oleh genangan air. Lama-kelamaan, genangan air itu semakin luas dan berubah menjadi danau yang sangat besar yang di kemudian hari dinamakan orang Danau Toba. Sedang Pulau kecil di tengah-tengahnya diberi nama Pulau Samosir.

ORIGINS OF LAKE TOBA
In ancient times in a village in North Sumatra, there lived a farmer named Toba are alone in a valley of sloping and fertile. The farmer was working on the farm for the purpose of his life.
Besides working on his farm, he sometimes went fishing to the river which was not far from his home. Each time he was fishing, it's easy because the fish got in the clear river was a lot of fish. Pancingannya he cooked the fish for food.
On one afternoon, after returning from the field he went straight to the river for fishing. But it is already long enough he did not provoke even a iakan gets. Events like that, never experienced before. Because usually fish in the river he was easy fishing. Because already too long no one takes the bait pole, he gets upset and decides to just quit fishing. But when he was about to pull pole, fishing rod suddenly was struck by the fish pulled the fishing rod away ketengah river. His heart was already annoyed that turned into a happy, Because he knows that the fish grabbed the pole it is a big fish.
After a while he let the pole pulled to and fro, then hook it disentakkannya, and behold a great fish and flounder depending on the end of the rope-gelepar pole. With the fish quickly pulled to the ground so as not to loose. Smiling, happy eyes off her pole from the mouth of the fish. By the time he was releasing the hook, the fish looked at him meaningfully. Then, after the fish were placed into one place he went into the river to bathe. Feeling very happy because he never got that big fish. He smiled as he imagined how good will the fish meat when it's baked. When leaving the river to return to his house it was already dusk.
Arriving home, he immediately brought a big fish pancingannya results into the kitchen. When he was about to light a fire for grilling fish, it turns out firewood in her home kitchen has run out. He immediately came out to take firewood from under the gutter of his house. Then, carrying a few pieces of firewood she climbed back into the house and went straight to the kitchen.
By the time he arrived in the kitchen, she was surprised at all because the big fish that is not there anymore. But where the fish was placed seemed splayed some gold coins. Because of shock and surprise experienced a strange situation, he left the kitchen and entered the room.
When the man opened the door, suddenly tersirap blood because in the room stood a woman with long and curly hair. The woman was combing her hair as she stood facing the mirror hanging on the bedroom wall. A moment later the woman suddenly turned around and looked at the man that stood bewildered at the mouth of the bedroom door. The man became very fascinated by that woman's face standing in front of extraordinary beautiful. He had never seen a woman as beautiful as it is already far though before he wandered into many lands.
Because it was night, she asked that the lights on. After he turned on the lights, he invited her to accompany him kedapur because he wanted to cook rice for them. While waiting for the rice to cook, told by her that she is the incarnation of the great fish that had gained him when fishing in a river. Then explained also that several pieces of gold which is located in the kitchen that is incarnate scales. After several weeks she states willing to accept his proposal on condition that he must swear that the rest of his life he will never bring up the origin of her incarnate myang of fish. After he was sworn Thus, kawinlah them.
A year later, they were blessed with a son they named Samosir. The boy was pampered sngat which resulted in the boy's mother is less good tempered and lazy.
Once big enough, the boy told his mother accompany rice every day for his father who worked in the fields. However, he often refused to work on that task so that her mother was forced to deliver rice to the fields.
One day, the boy told his mother again to deliver rice to the fields for his father. At first he refused. However, because of continued forced her mother, with kesl he went to deliver the rice. On the way, most of the rice and side dishes pauknya he eats. Arriving in the fields, the rest of the rice that only a few he gave to his father. When received, the father was feeling very hungry because the rice was delivered late. Therefore, it is the father became very angry when he saw the rice given to him were the remnants. Growing anger when his son confessed that he who takes up most of that rice. Patience is the father is lost and he was at his son, saying: "Son of insolent. Do not know diuntung. You really the offspring of women who come from the fish! "
Weeping, the boy ran home to meet his mother at home. To his mother he complained that he was beaten his father. All the words uttered slur his father told him in anyway. Listening to his son, the mother was so sad, especially because her husband has violated his oath to slur words he spoke to his son. The mother told her to immediately go up the hill, located not so far from their house and climb the highest tree located at the top of the hill. Without asking again, the child's mother immediately take command. He ran toward the hill and climb it.
When it appears by the mother her son had nearly reached the top of the climb a tree on the hill, he ran towards the river is not so far away from their homes. When he arrived at the riverbank lightning accompanied by thunder, that megelegar. A moment later he jumped into the river and suddenly turned into a big fish. At the same time, the river was a big flood and fell too heavy downpours. Some time later, the river water is already overflowing everywhere and tergenanglah valley where the river flows. Mr. Toba can not save himself, he was drowned by the inundation of water. Over time, a pool of water was more extensive and turned into a huge lake that later called the Lake Toba. Being a small island in the middle is named Samosir Island.

ASAL USUL SELAT BALI
Pada jaman dahulu kala, ada seorang pemuda bernama Manik Angkeran. Ayahnya seorang Begawan yang berbudi pekerti luhur, yang bernama Begawan Sidi mantra. Walaupun ayahnya seorang yang disegani oleh masyarakat sekitar dan memiliki pengetahuan agama yang luas, tetapi Manik Angkeran adalah seorang anak yang manja, yang kerjanya hanya berjudi dan mengadu ayam seperti berandalan-berandalan yang ada di desanya.Mungkin ini karena ia telah ditinggal oleh Ibunya yang meninggal sewaktu melahirkannya. Karena kebiasaannya itu, kekayaan ayahnya makin lama makin habis dan akhirnya mereka jatuh miskin.
Walaupun keadaan mereka sudah miskin, kebiasaan Manik Angkeran tidak juga berkurang, bahkan karena dalam berjudi ia selalu kalah, hutangnya makin lama makin banyak dan ia pun di kejar-kejar oleh orang-orang yang dihutanginya. Akhirnya datanglah Manik ketempat ayahnya, dan dengan nada sedih ia meminta ayahnya untuk membayar hutang-hutangnya. Karena Manik Angkeran adalah anak satu-satunya, Begawan Sidi Mantra pun merasa kasihan dan berjanji akan membayar hutang-hutang anaknya.
Maka dengan kekuatan batinnya, Begawan Sidi Mantra mendapat petunjuk bahwa ada sebuah Gunung yang bernama Gunung Agung yang terletak di sebelah timur. Di Gunung Agung konon terdapat harta yang melimpah. Berbekal petunjuk tersebut, pergilah Begawan Sidi Mantra ke Gunung Agung dengan membawa genta pemujaannya.
Setelah sekian lama perjalanannya, sampailah ia ke Gunung Agung. Segeralah ia mengucapkan mantra sambil membunyikan gentanya. Dan keluarlah seekor naga besar bernama Naga Besukih.
“Hai Begawan Sidi Mantra, ada apa engkau memanggilku?” tanya sang Naga Besukih.
“Sang Besukih, kekayaanku telah dihabiskan anakku untuk berjudi. Sekarang karena hutangnya menumpuk, dia dikejar-kejar oleh orang-orang. Aku mohon, bantulah aku agar aku bisa membayar hutang anakku!”
“Baiklah, aku akan memenuhi permintaanmu Begawan Sidi Mantra, tapi kau harus menasehati anakmu agar tidak berjudi lagi, karena kau tahu berjudi itu dilarang agama!”
“Aku berjanji akan menasehati anakku” jawab Begawan Sidi Mantra.
Kemudian Sang Naga Besukih menggetarkan badannya dan sisik-sisiknya yang berjatuhan segera berubah emas dan intan.
“Ambillah Begawan Sidi Mantra. Bayarlah hutang-hutang anakmu. Dan jangan lupa nasehati dia agar tidak berjudi lagi.”
Sambil memungut emas dan intan serta tak lupa mengucapkan terima kasih, maka Begawan Sidi Mantra segera pergi dari Gunung Agung. Lalu pulanglah ia ke rumahnya di Jawa Timur. Sesampainya dirumah, di bayarlah semua hutang anaknya dan tak lupa ia menasehati anaknya agar tidak berjudi lagi.
Tetapi rupanya nasehat ayahnya tidak dihiraukan oleh Manik Angkeran. Dia tetap berjudi dan mengadu ayam setiap hari. Lama-kelamaan, hutang Manik Angkeran pun semakin banyak dan ia pun di kejar-kejar lagi oleh orang-orang yang dihutanginya. Dan seperti sebelumnya, pergilah Manik Angkeran menghadap ayahnya dan memohon agar hutang-hutangnya dilunasi lagi.
Walaupun dengan sedikit kesal, sebagai seorang ayah, Begawan Sidi Mantra pun berjanji akan melunasi hutang-hutang tersebut. Dan segera ia pun pergi ke Gunung Agung untuk memohon kepada Sang Naga Besukih agar diberikan pertolongan lagi.
Sesampainya ia di Gunung Agung, dibunyikannya genta dan membaca mantra-mantra agar Sang Naga Besukih keluar dari istananya.
Tidak beberapa lama, keluarlah akhirnya Sang Naga Besukih dari istananya.
“Ada apa lagi Begawan Sidi Mantra? Mengapa engkau memanggilku lagi?” tanya Sang Naga Besukih.
“Maaf Sang Besukih, sekali lagi aku memohon bantuanmu agar aku bisa membayar hutang-hutang anakku. Aku sudah tidak punya apa-apa lagi dan aku sudah menasehatinya agar tidak berjudi, tapi ia tidak menghiraukanku.” mohon Begawan Sidi Mantra.
“Anakmu rupanya sudah tidak menghormati orang tuanya lagi. Tapi aku akan membantumu untuk yang terakhir kali. Ingat, terakhir kali.”
Maka Sang Naga menggerakkan tubuhnya dan Begawan Sidi Mantra mengumpulkan emas dan permata yang berasal dari sisik-sisik tubuhnya yang berjatuhan. Lalu Begawan Sidi Mantra pun memohon diri. Dan setiba dirumahnya, Begawan Sidi Mantra segera melunasi hutang-hutang anaknya.
Karena dengan mudahnya Begawan Sidi Mantra mendaptkan harta, Manik Angkeran pun merasa heran melihatnya. Maka bertanyalah Manik Angkeran kepada ayahnya, “Ayah, darimana ayah mendapatkan semua kekayaan itu?”
“Sudahlah Manik Angkeran, jangan kau tanyakan dari mana ayah mendapat harta itu. Berhentilah berjudi dan menyabung ayam, karena itu semua dilarang oleh agama. Dan inipun untuk terakhir kalinya ayah membantumu. Lain kali apabila engkau berhutang lagi, ayah tidak akan membantumu lagi.”
Tetapi ternyata Manik Angkeran tidak dapat meninggalkan kebiasaan buruknya itu, ia tetap berjudi dan berjudi terus. Sehingga dalam waktu singkat hutangnya sudah menumpuk banyak. Dan walaupun ia sudah meminta bantuan ayahnya, ayahnya tetap tidak mau membantunya lagi. Sehingga ia pun bertekad untuk mencari tahu sumber kekayaan ayahnya.
Bertanyalah ia kesana kemari, dan beberapa temannya memberitahu bahwa ayahnya mendapat kekayaan di Gunung Agung. Karena keserakahannya, Manik Angkeran pun mencuri genta ayahnya dan pergi ke Gunung Agung.
Sesampai di Gunung Agung, segeralah ia membunyikan genta tersebut. Mendengar bunyi genta, Sang Naga Besukih pun merasa terpanggil olehnya, tetapi Sang Naga heran, karena tidak mendengar mantra-mantra yang biasanya di ucapkan oleh Begawan Sidi Mantra apabila membunyikan genta tersebut.
Maka keluarlah San Naga untuk melihat siapa yang datang memangilnya.
Setelah keluar, bertemulah Sang Naga dengan Manik Angkeran. Melihat Manik Angkeran, Sang Naga Besukih pun tidak dapat menahan marahnya.
“Hai Manik Angkeran! Ada apa engkau memanggilku dengan genta yang kau curi dari ayahmu itu?”
Dengan sikap memelas, Manik pun berkata “Sang Naga bantulah aku. Berilah aku harta yang melimpah agar aku bisa membayar hutang-hutangku. Kalau kali ini aku tak bisa membayarnya, orang-orang akan membunuhku. Kasihanilah aku.”
Melihat kesedihan Manik Angkeran, Sang Naga pun merasa kasihan.
“Baiklah, aku akan membantumu.” jawab Sang Naga Besukih.
Setelah memberikan nasehat kepada Manik Angkeran, Sang Naga segera membalikkan badannya untuk mengambil harta yang akan diberikan ke Manik Angkeran. Pada saat Sang Naga membenamkan kepala dan tubuhnya kedalam bumi untuk mengambil harta, Manik Angkeran pun melihat ekor Sang Naga yang ada dipemukaan bumi dipenuhi oleh intan dan permata, maka timbullah niat jahatnya.
Manik Angkeran segera menghunus keris dan memotong ekor Sang Naga Besukih. Sang Naga Besukih meronta dan segera membalikkan badannya. Akan tetapi, Manik Angkeran telah pergi. Sang Naga pun segera mengejar Manik ke segala penjuru, tetapi ia tidak dapat menemukan Manik Angkeran, yang ditemui hanyalah bekas tapak kaki Manik Angkeran.
Maka dengan kesaktiannya, Sang Naga Besukih membakar bekas tapak kaki Manik Angkeran. Walaupun Manik Angkeran sudah jauh dari Sang Naga, tetapi dengan kesaktian Sang Naga Besukih, ia pun tetap merasakan pembakaran tapak kaki tersebut sehingga tubuh Manik Angkeran terasa panas sehingga ia rebah dan lama kelamaan menjadi abu.
Di Jawa Timur, Begawan Sidi Mantra sedang gelisah karena anaknya Manik Angkeran telah hilang dan genta pemujaannya juga hilang. Tetapi Begawan Sidi Mantra tahu kalau gentanya diambil oleh anaknya Manik Angkeran dan merasa bahwa anaknya pergi ke Gunung Agung menemui Sang Naga Besukih. Maka berangkatlah ia ke Gunung Agung.
Sesampainya di Gunung Agung, dilihatnya Sang Naga Besukih sedang berada di luar istananya. Dengan tergesa-gesa Begawan Sidi Mantra bertanya kepada Sang Naga Besukih “Wahai Sang Besukih, adakah anakku Manik Angkeran datang kemari?”
“Ya, ia telah datang kemari untuk meminta harta yang akan dipakainya untuk melunasi hutang-hutangnya. Tetapi ketika aku membalikkan badan hendak mengambil harta untuknya, dipotonglah ekorku olehnya. Dan aku telah membakarnya sampai musnah, karena sikap anakmu tidak tahu balas budi itu. Sekarang apa maksud kedatanganmu kemari, Begawan Sidi Mantra?”
“Maafkan aku, Sang Besukih! Anakku Cuma satu, karena itu aku mohon agar anakku dihidupkan kembali.” mohon Sang Begawan.
“Demi persahabatan kita, aku akan memenuhi permintaanmu. Tapi dengan satu syarat, kembalikan ekorku seperti semula.” kata Sang Naga Besukih.
“Baiklah, aku pun akan memenuhi syaratmu!” jawab Begawan Sidi Mantra.
Maka dengan mengerahkan kekuatan mereka masing-masing, Manik Angkeran pun hidup kembali. Demikian pula dengan ekor Sang Naga Besukih bisa kembali utuh seperti semula.
Dinasehatinya Manik Angkeran oleh Sang Naga Besukih dan Begawan Sidi Mantra secara panjang lebar dan setelah itu pulanglah Begawan Sidi Mantra ke Jawa Timur. Tetapi Manik Angkeran tidak boleh ikut pulang, ia harus tetap tinggal di sekitar Gunung Agung. Karena Manik Angkeran sudah sadar dan berubah, ia pun tidak membangkang dan menuruti perintah ayahnya tersebut.
Dan dalam perjalanan pulangnya, ketika Begawan Sidi Mantra sampai di Tanah Benteng, di torehkannya tongkatnya ke tanah untuk membuat batas dengan anaknya. Seketika itu pula bekas torehan itu bertambah lebar dan air laut naik menggenanginya. Dan lama kelamaan menjadi sebuah selat. Selat itulah yang sekarang di beri nama “Selat Bali”.

ORIGINS OF BALI STRAIT
In the days of yore, there was a boy named Manik Angkeran. His father was a noble character that has wisdom Begawan, Begawan named Sidi spells. Although his father was a well-respected by the community and have extensive knowledge of religion, but Manik Angkeran is a spoiled child, who work only gamble and pitted chicken like brat-brat in this desanya.Mungkin because he had been abandoned by his mother who died during childbirth. Because of that habit, her father's wealth grew out and finally they fall into poverty.
Although their situation was poor, Manik habit Angkeran not reduced, even as he is always losing in gambling, more and more debt and he was in the chase, chased by people who dihutanginya. Finally came the Manik place of his father, and with a sad tone she asked her father to pay his debts. Because Manik Angkeran is her only son, Sidi Mantra Begawan felt sorry and promised to pay his debts.
So with her inner strength, Begawan Sidi Mantra get hints that there is a mountain called Mount Agung is situated on the east. In Gunung Agung is said to have abundant wealth. Armed with these instructions, go Begawan Sidi Mantra to Mount Agung with a clapper his cult.
After a long journey, and came to Mount Agung. Immediately she said, sounding gentanya mantra. And out of a dragon named Dragon Besukih.
"Hi Begawan Sidi Mantra, what are you calling me?" Said the Dragon Besukih.
"The Besukih, fortune has been spent on my son to gamble. Now that the debt piled up, he was being chased by people. Please, help me so I can pay my debt! "
"All right, I'll fulfill your request Begawan Sidi Mantra, but you must advise your son not to gamble anymore, because you know that gambling is forbidden religion!"
"I promise I will advise my son" said Sidi Mantra Begawan.
Then the Dragon Besukih vibrating body and scales that fell soon turned gold and diamonds.
"Take Begawan Sidi Mantra. Pay your debts. And do not forget to advise him not to gamble again. "
Picking up gold and diamonds and do not forget to say thanks, then Begawan Sidi Mantra to get out of Mount Agung. Then he returned to his home in East Java. Arriving home, pay all debts in their children and do not forget she advised her son for not gamble again.
But apparently his father's advice was ignored by Manik Angkeran. She fixed gambling and pitted chicken every day. Over time, debt Angkeran Manik any more and he was in the chase-chase again by people who dihutanginya. And as before, go Manik Angkeran facing his father and begged for her debts paid off again.
Although with a slightly annoyed, as a father, Sidi Mantra Begawan also promised to pay off these debts. And immediately he went to Mount Agung to appeal to the Dragon Besukih for granted relief again.
When he arrived he was on Mount Agung, dibunyikannya bells and the reading of spells for the Dragon Besukih out of the palace.
Not for some time, finally the Dragon Besukih out of his palace.
"What else Begawan Sidi Mantra? Why did you call me again? "Asked the Dragon Besukih.
"The Besukih Sorry, again I ask your help so I can pay my debts. I've not got anything else and I've advised him not to gamble, but he did not ignore me
. "Beg Begawan Sidi Mantra.
"Your son seems to have no respect for their parents again. But I'll help you for the last time. Remember, the last time. "
Then the Dragon to move his body and Sidi Mantra Begawan collect gold and gems that come from the scales falling body. Then Begawan Sidi Mantra even say goodbye. And arrival at home, Sidi Mantra Begawan immediately pay off his debts.
Due to the ease Begawan Sidi Mantra mendaptkan treasure, Manik Angkeran felt surprised to see it. Then said Manik Angkeran to his father, "Daddy, where did the father get all that wealth?"
"Come on Angkeran Manik, do not you ask where the father gets the treasure. Stop gambling and risking the chicken, because it is prohibited by all religions. And this for the last time father to help you. Next time when you owe more, fathers will not help you anymore. "
But it turns out Manik Angkeran unable to leave his bad habits, he still continues to gamble and gambling. So in a short time had accumulated many debts. And although he had requested the help of his father, his father still would not help him anymore. So he was determined to find out the source of his wealth.
Ask it to and fro, and some of his friends told him that his father got a wealth of Mount Agung. Because of greed, Manik Angkeran also stole his father's bell and went to Mount Agung.
Arriving at the Mount Agung, immediately he rang the bell. Hearing the sound of the bell, the Dragon Besukih felt compelled by it, but the Dragon surprised, because they do not hear the usual mantras are pronounced by Sidi Mantra Begawan when the bell rang.
Then the San Naga to see who comes memangilnya.
Once out, met the Dragon by Manik Angkeran. Seeing Manik Angkeran, the Dragon Besukih also could not resist his anger.
"Hi Manik Angkeran! There is what you call me with clapper that you stole from your father? "
With the attitude of pleading, Manik also said "the Dragon help me. Give me the treasure in abundance so I can pay the debt-hutangku. If this time I can not pay it, people will kill me. Have mercy on me. "
Seeing the sadness Manik Angkeran, the Dragon also felt sorry.
"All right, I'll help." Replied the Dragon Besukih.
After giving advice to the Manik Angkeran, the Dragon immediately turned around to retrieve treasure that will be given to the Manik Angkeran. At the Dragon's head and his body sank into the earth to retrieve the treasure, Manik Angkeran saw the Dragon tail dipemukaan earth is filled with diamonds and jewels, there arose his evil intentions.
Manik Angkeran immediately drew his dagger and cut the tail of the Dragon Besukih. The Dragon Besukih wriggle and immediately turn around. However, Manik Angkeran gone. The Dragons were soon chasing Beads in all directions, but he could not find Angkeran Manik, who met only the former Angkeran Manik footprints.
So with spiritual power, the Dragon Besukih burn marks Angkeran Manik footprints.
Although Manik Angkeran was far from the Dragon, but with the Dragon Besukih magic, he still felt the burning of the soles of the feet so the body Manik Angkeran was hot so he collapsed and over time become ashes.
In East Java, Begawan Sidi Mantra Beads are anxious because their children have been lost and the bell Angkeran his cult was also missing. But Begawan Sidi Mantra know if gentanya taken by his son Manik Angkeran and felt that her son went to the Mount Agung meet the Dragon Besukih. Therefore she went to Mount Agung.
Arriving at Mount Agung, he saw the Dragon Besukih were outside his palace. With haste Begawan Sidi Mantra asked the Dragon Besukih "O Sang Besukih, is there anything my son Manik Angkeran come here?"
"Yes, he has come here to ask for the treasure that will be wearing to pay off its debts. But when I turned about to take the treasure for him, my tail dipotonglah by it. And I have been burned to disappear, because your attitude does not know that reciprocation. Now what is the purpose of coming here, Begawan Sidi Mantra? "
"I'm sorry, the Besukih! My son's just one, so I ask that my son brought back to life. "Beg the Begawan.
"For the sake of our friendship, I will fulfill your request. But on one condition, please return my tail as before. "Said the Dragon Besukih.
"All right, I'll meet syaratmu!" Said Sidi Mantra Begawan.
And by deploying their own forces, Manik Angkeran was alive again. Similarly, the tail of the Dragon Besukih be returned intact as before.
Manik Dinasehatinya Angkeran by the Dragon Besukih and Sidi Mantra Begawan at length and then returned Begawan Sidi Mantra to East Java. But Manik Angkeran should not come back, he should stay in the vicinity of Mount Agung. Because Manik Angkeran already aware of and change, he did not disobey his father's commands and obey them.
And in his return, when Begawan Sidi Charm reached the Land of the Citadel, in torehkannya his stick into the ground to create a boundary with her son. Immediately incision was also used to grow wider and the sea water rose menggenanginya. And over time into a strait. Strait that is now given the name "Bali Strait".

CANDI PRAMBANAN
Pada jaman dahulu kala di Pulau Jawa terutama di daerah Prambanan berdiri 2 buah kerajaan Hindu yaitu Kerajaan Pengging dan Kraton Boko. Kerajaan Pengging adalah kerjaan yang subur dan makmur yang dipimpin oleh seorang raja yang arif dan bijaksana bernama Prabu Damar Moyo dan mempunyai seorang putra laki-laki yang bernama Raden Bandung Bondowoso.
Kraton Boko berada pada wilayah kekuasaan kerajaan Pengging yang diperintah oleh seorang raja yang kejam dan angkara murka yang tidak berwujud manusia biasa tetapi berwujud raksasa besar yang suka makan daging manusia, yang bernama Prabu Boko. Akan tetapi Prabu Boko memiliki seorang putri yang cantik dan jelita bak bidadari dari khayangan yang bernama Putri Loro Jonggrang.
Prabu Boko juga memiliki patih yang berwujud raksasa bernama Patih Gupolo. Prabu Boko ingin memberontak dan ingin menguasai kerajaan Pengging, maka ia dan Patih Gupolo mengumpulkan kekuatan dan mengumpulkan bekal dengan cara melatih para pemuda menjadi prajurit dan meminta harta benda rakyat untuk bekal.
Setelah persiapan dirasa cukup, maka berangkatlah Prabu Boko dan prajurit menuju kerajaan Pengging untuk memberontak. Maka terjadilah perang di Kerajaan Pengging antara para prajurit peng Pengging dan para prajurit Kraton Boko.
Banyak korban berjatuhan di kedua belah pihak dan rakyat Pengging menjadi menderita karena perang, banyak rakyat kelaparan dan kemiskinan.
Mengetahui rakyatnya menderita dan sudah banyak korban prajurit yang meninggal, maka Prabu Damar Moyo mengutus anaknya Raden Bandung Bondowoso maju perang melawan Prabu Boko dan terjadilan perang yang sangat sengit antara Raden Bandung Bondowoso melawan Prabu Boko. Karena kesaktian Raden Bandung Bondowoso maka Prabu Boko dapat dibinasakan. Melihat rajanya tewas, maka Patih Gupolo melarikan diri. Raden Bandung Bondowoso mengejar Patih Gupolo ke Kraton Boko.
Setelah sampai di Kraton Boko, Patih Gupolo melaporkan pada Puteri Loro Jonggrang bahwa ayahandanya telah tewas di medan perang, dibunuh oleh kesatria Pengging yang bernama Raden Bandung Bondowoso. Maka menangislah Puteri Loro Jonggrang, sedih hatinya karena ayahnya telah tewas di medan perang.
Maka sampailah Raden Bandung Bondowoso di Kraton Boko dan terkejutlah Raden Bandung Bondowoso melihat Puteri Loro Jonggrang yang cantik jelita, maka ia ingin mempersunting Puteri Loro Jonggrang sebagai istrinya.
Akan tetapi Puteri Loro Jonggrang tidak mau dipersunting Raden Bandung Bondowoso karena ia telah membunuh ayahnya. Untuk menolak pinangan Raden Bandung Bondowoso, maka Puteri Loro Jonggrang mempunyai siasat. Puteri Loro Jonggrang manu dipersunting Raden Bandung Bondowoso asalkan ia sanggup mengabulkan dua permintaan Puteri Loro Jonggrang. Permintaan yang pertama, Puteri Loro Jonggrang minta dibuatkan sumur Jalatunda sedangkan permintaan kedua, Puteri Loro Jonggrang minta dibuatkan 1000 candi dalam waktu satu malam.
Raden Bandung Bondowoso menyanggupi kedua permintaan puteri tersebut. Segeralah Raden Bandung Bondowoso membuat sumur Jalatunda dan setelah jadi ia memanggil Puteri Loro Jonggrang untuk melihat sumur itu.
Kemudian Puteri Loro Jonggrang menyuruh Raden Bandung Bondowoso masuk ke dalam sumur. Setelah Raden Bandung Bondowoso masuk ke dalam sumur, Puteri Loro Jonggrang memerintah Patih Gupolo menimbun sumur dan Raden Bandung Bondowoso pun tertimbun batu di dalam sumur. Puteri Loro Jonggrang dan Patih Gupolo menganggap bahwa Raden Bandung Bondowoso telah mati di sumur akan tetapi di dalam sumur ternyata Raden Bandung Bondowoso belum mati maka ia bersemedi untuk keluar dari sumur dan Raden Bandung Bondowoso keluar dari sumur dengan selamat.
Raden Bandung Bondowoso menemui Puteri Loro Jonggrang dengan marah sekali karena telah menimbun dirinya dalam sumur. Namun karena kecantikan Puteri Loro Jonggrang kemarahan Raden Bandung Bondowoso pun mereda.
Kemudian Puteri Loro Jonggrang menagih janji permintaan yang kedua kepada Raden Bandung Bondowoso untuk membuatkan 1000 candi dalam waktu 1 malam. Maka segeralah Raden Bandung Bondowoso memerintahkan para jin untuk membuat candi akan tetapi pihak Puteri Loro Jonggrang ingin menggagalkan usaha Raden Bandung Bondowoso membuat candi. Ia memerintahkan para gadis menumbuk dan membakar jerami supaya kelihatan terang untuk pertanda pagi sudah tiba dan ayam pun berkokok bergantian.
Mendengar ayam berkokok dan orang menumbuk padi serta di timur kelihatan terang maka para jin berhenti membuat candi. Jin melaporkan pada Raden Bandung Bondowoso bahwa jin tidak dapat meneruskan membuat candi yang kurang satu karena pagi sudah tiba. Akan tetapi firasat Raden Bandung Bondowoso pagi belum tiba. Maka dipanggillah Puteri Loro Jonggrang disuruh menghitung candi dan ternyata jumlahya 999 candi, tinggal 1 candi yang belum jadi.
Maka Puteri Loro Jonggrang tidak mau dipersunting Raden Bandung Bondowoso. Karena ditipu dan dipermainkan maka Raden Bandung Bondowoso murka sekali dan mengutuk Puteri Loro Jonggrang “Hai Loro Jonggrang candi kurang satu dan genapnya seribu engkaulah orangnya”. Maka aneh bin ajaib Puteri Loro Jonggrang berubah ujud menjadi arca patung batu.
Dan sampai sekarang arca patung Loro Jonggrang masih ada di Candi Prambanan dan Raden Bandung Bondowoso mengutuk para gadis di sekitar Prambanan menjadi perawan kasep (perawan tua) karena telah membantu Puteri Loro Jonggrang.
Dan menurut kepercayaan orang dahulu bahwa pacaran di candi Prambanan akan putus cintanya.

TEMPLE PRAMBANAN
At the time of yore on the island of Java, especially in the area of Prambanan Hindu kingdom stand 2 pieces of the Kingdom of Pengging and Kraton Boko. Pengging kingdom is a fertile and prosperous work led by a wise king named Prabu Damar Moyo and have a male son named Raden Bandung Bondowoso.
Kraton Boko is in the territory Pengging kingdom ruled by a king who was cruel and anger a normal human but the intangible tangible big giant who likes to eat human flesh, whose name was Prabu Boko. But Prabu Boko had a beautiful daughter and beautiful basin of an angel named Princess Loro Khayangan Jonggrang.
Prabu Boko also have a tangible vizier named Patih Gupolo giant. Prabu Boko wanted to rebel and wanted to rule the kingdom Pengging, then he and Patih Gupolo gather strength and gather supplies by way of training the youth to be soldiers and asked for people's property for the stock.
Once the preparation is considered sufficient, then went Prabu Boko and soldiers towards the kingdom Pengging to rebel. Then there was war in the Kingdom Pengging between the soldiers and the soldiers lawyer Pengging Kraton Boko.
Many victims were falling on both sides and people Pengging be suffering because of war, many people hunger and poverty.
Knowing his people suffer and have many victims soldiers who died, then Prabu Damar Moyo sent his son Raden Bondowoso go to war against King Boko and terjadilan a fierce war between Raden Bondowoso against King Boko. Because of his supernatural powers Bondowoso Raden Prabu Boko can then be destroyed. Seeing the king died, then Patih Gupolo escape. Raden Bandung Bondowoso pursue Patih Gupolo to Kraton Boko.
Having reached the Kraton Boko, Patih Gupolo reported on Princess Loro Jonggrang that his father had been killed on the battlefield, was killed by a knight named Raden Bandung Pengging Bondowoso. Princess Loro Jonggrang wept, saddened his heart because his father had been killed on the battlefield.
Then came Raden at Kraton Boko Bondowoso and was troubled, seeing Puteri Raden Bondowoso Loro Jonggrang beautiful, so he wanted to marry Princess Loro Jonggrang as his wife.
However, Loro Puteri Raden Jonggrang not want dipersunting Bondowoso because he had killed his father. To reject the proposal Raden Bondowoso, then Princess Loro Jonggrang have a strategy. Loro Puteri Raden Jonggrang manu dipersunting Bondowoso provided he could grant two requests Princess Loro Jonggrang. The first request, Princess Loro Jonggrang asked for Jalatunda wells while the second request, asked for Princess Loro Jonggrang 1000 temples in one night.
Raden Bandung Bondowoso undertakes two daughters demand it. Immediately Raden Bondowoso make Jalatunda wells and after so he called Princess Loro Jonggrang to see the well.
Then Loro Jonggrang Puteri Raden Bondowoso sent into the well. After Raden Bondowoso into the well, Princess Loro Jonggrang governing wells and the hoarding Gupolo Patih Bondowoso Raden was buried stone in the well. Princess Loro Jonggrang and Patih Gupolo Bondowoso assume that Raden was dead at the well but in the well was not yet dead Raden Bondowoso he meditated to get out of the wells and Raden Bandung Bondowoso out of the well safely. Princess Raden Bondowoso Loro Jonggrang meet with angry because he had accumulated in the well. However, because the beauty of Loro Jonggrang Puteri Raden Bondowoso anger was abated. Then Princess Loro Jonggrang bill requests that the second promise to Raden Bandung Bondowoso to make 1000 temples in 1 night. And immediately Raden Bondowoso ordered the genie to make the temple but the parties want to thwart Jonggrang Loro princess Raden Bondowoso effort to make the temple. He ordered the girls to pound and set fire to hay in order to look for a sign of morning light has come and turn the cock crowed.
Roosters crowed and people pounding rice in the east and look brighter then the jinn stop making the temple. Jin reported on Bondowoso Raden that genie can not continue to make the temple a less one because the morning has arrived. But the hunch Raden Bondowoso am not yet arrived. So called for Princess Loro Jonggrang told to count the temples and 999 shrines its amount fact, only 1 temple unfinished. So Loro princess Raden Jonggrang not want dipersunting Bondowoso. Because deceived and tricked it Raden Bondowoso once wrath and curse Princess Loro Jonggrang "Hi Loro Jonggrang His even temples and a thousand less one You are the man." So strange magical Princess Loro Jonggrang son turned into a statue of stone sculpture. And until now Loro Jonggrang statue statues still exist at Prambanan and Raden Bondowoso condemned the girls around Prambanan be a virgin kasep (old maid) for helping Princess Loro Jonggrang.
And according to the beliefs of the ancients that dating at Prambanan temple would end his love.

MALIN KUNDANG
Malin Kundang adalah cerita rakyat yang berasal dari provinsi Sumatra Barat, Indonesia. Legenda Malin Kundang berkisah tentang seorang anak yang durhaka pada ibunya dan karena itu dikutuk menjadi batu. Sebentuk batu di pantai Air Manis, Padang, konon merupakan sisa-sisa kapal Malin Kundang.
Malin termasuk anak yang cerdas tetapi sedikit nakal. Ia sering mengejar ayam dan memukulnya dengan sapu. Suatu hari ketika Malin sedang mengejar ayam, ia tersandung batu dan lengan kanannya luka terkena batu. Luka tersebut menjadi berbekas dilengannya dan tidak bisa hilang.
Karena merasa kasihan dengan ibunya yang banting tulang mencari nafkah untuk membesarkan dirinya. Malin memutuskan untuk pergi merantau agar dapat menjadi kaya raya setelah kembali ke kampung halaman kelak.
Awalnya Ibu Malin Kundang kurang setuju, mengingat suaminya juga tidak pernah kembali setelah pergi merantau tetapi Malin tetap bersikeras sehingga akhirnya dia rela melepas Malin pergi merantau dengan menumpang kapal seorang saudagar.Selama berada di kapal, Malin Kundang banyak belajar tentang ilmu pelayaran pada anak buah kapal yang sudah berpengalaman.
Di tengah perjalanan, tiba-tiba kapal yang dinaiki Malin Kundang di serang oleh bajak laut. Semua barang dagangan para pedagang yang berada di kapal dirampas oleh bajak laut. Bahkan sebagian besar awak kapal dan orang yang berada di kapal tersebut dibunuh oleh para bajak laut. Malin Kundang beruntung, dia sempat bersembunyi di sebuah ruang kecil yang tertutup oleh kayu sehingga tidak dibunuh oleh para bajak laut.
Malin Kundang terkatung-katung ditengah laut, hingga akhirnya kapal yang ditumpanginya terdampar di sebuah pantai. Dengan tenaga yang tersisa, Malin Kundang berjalan menuju ke desa yang terdekat dari pantai. Desa tempat Malin terdampar adalah desa yang sangat subur. Dengan keuletan dan kegigihannya dalam bekerja, Malin lama kelamaan berhasil menjadi seorang yang kaya raya. Ia memiliki banyak kapal dagang dengan anak buah yang jumlahnya lebih dari 100 orang. Setelah menjadi kaya raya, Malin Kundang mempersunting seorang gadis untuk menjadi istrinya.
Berita Malin Kundang yang telah menjadi kaya raya dan telah menikah sampai juga kepada ibu Malin Kundang. Ibu Malin Kundang merasa bersyukur dan sangat gembira anaknya telah berhasil. Sejak saat itu, ibu Malin setiap hari pergi ke dermaga, menantikan anaknya yang mungkin pulang ke kampung halamannya.
Setelah beberapa lama menikah, Malin dan istrinya melakukan pelayaran disertai anak buah kapal serta pengawalnya yang banyak. Ibu Malin yang melihat kedatangan kapal itu ke dermaga melihat ada dua orang yang sedang berdiri di atas geladak kapal. Ia yakin kalau yang sedang berdiri itu adalah anaknya Malin Kundang beserta istrinya.
Ibu Malin pun menuju ke arah kapal. Setelah cukup dekat, ibunya melihat belas luka dilengan kanan orang tersebut, semakin yakinlah ibunya bahwa yang ia dekati adalah Malin Kundang. “Malin Kundang, anakku, mengapa kau pergi begitu lama tanpa mengirimkan kabar?”, katanya sambil memeluk Malin Kundang. Tetapi melihat wanita tua yang berpakaian lusuh dan kotor memeluknya Malin Kundang menjadi marah meskipun ia mengetahui bahwa wanita tua itu adalah ibunya, karena dia malu bila hal ini diketahui oleh istrinya dan juga anak buahnya.
Mendapat perlakukan seperti itu dari anaknya ibu Malin Kundang sangat marah. Ia tidak menduga anaknya menjadi anak durhaka. Karena kemarahannya yang memuncak, ibu Malin menyumpah anaknya “Oh Tuhan, kalau benar ia anakku, aku sumpahi dia menjadi sebuah batu”.
Tidak berapa lama kemudian Malin Kundang kembali pergi berlayar dan di tengah perjalanan datang badai dahsyat menghancurkan kapal Malin Kundang. Setelah itu tubuh Malin Kundang perlahan menjadi kaku dan lama-kelamaan akhirnya berbentuk menjadi sebuah batu karang. Sampai saat ini Batu Malin Kundang masih dapat dilihat di sebuah pantai bernama pantai Aia Manih, di selatan kota Padang, Sumatera Barat.

MALIN KUNDANG
Malin Kundang is folklore that originated from the province of West Sumatra, Indonesia. Malin Kundang legend tells about a child who is rebellious to his mother and is therefore condemned to stone. A form of rock on the beach Air Manis, Padang, said to be the remains of the vessel master Kundang.
Malin including a bright child but a bit naughty. He often chasing chickens and hit him with a broom. One day, when Malin was chasing chickens, she tripped over a stone and a stone hit her right arm injury. Injury has become a trace dilengannya and can not be lost.
Feeling sorry for his mother who slam the bones for a living to raise themselves. Malin decided to go wander in order to become wealthy after returning to my hometown someday.
Initially Ms. Malin Kundang less agree, considering her husband also never returned after going to wander but Malin insisted that eventually he'd be willing to go wander off Malin with a boat ride on the ship saudagar.Selama, Malin Kundang lot to learn about seamanship on the crew that have been experienced.
Along the way, suddenly climbed Malin Kundang ships were attacked by pirates. All merchandise traders who were on the ship seized by pirates. Even most of the crew and people on the ship were killed by the pirates. Malin Kundang lucky, he was hiding in a small space enclosed by the timber so as not to be killed by the pirates.
Malin Kundang float amid sea, until finally the host ship stranded on a beach. With the remaining force, Malin Kundang walked to the nearest village from the beach. Malin village where villagers stranded is very fertile. With tenacity and perseverance in work, over time Malin had become a very rich. He has many fruit merchant ships with the children of more than 100 people. After becoming rich, Malin Kundang marry a girl to become his wife.
News Malin Kundang who has become rich and have been married to the mother also Malin Kundang. Mother Malin Kundang feel grateful and so happy her son has been successful. Since then, the mother of Malin every day go to the dock, waiting for her son who may return to his hometown.
After a long marriage, Malin and his wife make the voyage with the crew and a lot of bodyguards. Malin's mother who saw the arrival of the ship to the dock to see there are two people who were standing on the deck of a ship. He believes that it is her son standing with his wife Malin Kundang.
Mother Malin was heading toward the ship. Once close enough, his mother saw right dilengan dozen injured person, the more convinced his mother that he was approached Malin Kundang. "Malin Kundang, my son, why did you go so long without sending you?", He said, hugging Malin Kundang. But to see an old woman dressed in tattered and dirty hugged Malin Kundang became angry even though he knows that the old lady is her mother, because she was embarrassed when it is known by his wife and also his subordinates.
Get treated like that of his son's mother is very angry Malin Kundang. He did not expect him to be rebellious child. Because of mounting anger, Malin's mother swore her son "Oh God, if he my son, I curse he Became a stone."
Not long after Malin Kundang again go sailing and on the way coming storm destroyed the ship master Kundang. After that Malin Kundang body slowly becomes rigid and in time they finally shaped into a rock. Until now stone Malin Kundang can still be seen at a beach called Aia Manih coast, south of the city of Padang, West Sumatra.

TIMUN EMAS
Pada zaman dahulu, hiduplah sepasang suami istri petani. Mereka tinggal di sebuah desa di dekat hutan. Mereka hidup bahagia. Sayangnya mereka belum saja dikaruniai seorang anak pun.
Setiap hari mereka berdoa pada Yang Maha Kuasa. Mereka berdoa agar segera diberi seorang anak. Suatu hari seorang raksasa melewati tempat tinggal mereka. Raksasa itu mendengar doa suami istri itu. Raksasa itu kemudian memberi mereka biji mentimun.
“Tanamlah biji ini. Nanti kau akan mendapatkan seorang anak perempuan,” kata Raksasa. “Terima kasih, Raksasa,” kata suami istri itu. “Tapi ada syaratnya. Pada usia 17 tahun anak itu harus kalian serahkan padaku,” sahut Raksasa. Suami istri itu sangat merindukan seorang anak. Karena itu tanpa berpikir panjang mereka setuju.
Suami istri petani itu kemudian menanam biji-biji mentimun itu. Setiap hari mereka merawat tanaman yang mulai tumbuh itu dengan sebaik mungkin. Berbulan-bulan kemudian tumbuhlah sebuah mentimun berwarna keemasan.
Buah mentimun itu semakin lama semakin besar dan berat. Ketika buah itu masak, mereka memetiknya. Dengan hati-hati mereka memotong buah itu. Betapa terkejutnya mereka, di dalam buah itu mereka menemukan bayi perempuan yang sangat cantik. Suami istri itu sangat bahagia. Mereka memberi nama bayi itu Timun Mas.
Tahun demi tahun berlalu. Timun Mas tumbuh menjadi gadis yang cantik. Kedua orang tuanya sangat bangga padanya. Tapi mereka menjadi sangat takut. Karena pada ulang tahun Timun Mas yang ke-17, sang raksasa datang kembali. Raksasa itu menangih janji untuk mengambil Timun Mas.
Petani itu mencoba tenang. “Tunggulah sebentar. Timun Mas sedang bermain. Istriku akan memanggilnya,” katanya. Petani itu segera menemui anaknya. “Anakkku, ambillah ini,” katanya sambil menyerahkan sebuah kantung kain. “Ini akan menolongmu melawan Raksasa. Sekarang larilah secepat mungkin,” katanya. Maka Timun Mas pun segera melarikan diri.
Suami istri itu sedih atas kepergian Timun Mas. Tapi mereka tidak rela kalau anaknya menjadi santapan Raksasa. Raksasa menunggu cukup lama. Ia menjadi tak sabar. Ia tahu, telah dibohongi suami istri itu. Lalu ia pun menghancurkan pondok petani itu. Lalu ia mengejar Timun Mas ke hutan.
Raksasa segera berlari mengejar Timun Mas. Raksasa semakin dekat. Timun Mas segera mengambil segenggam garam dari kantung kainnya. Lalu garam itu ditaburkan ke arah Raksasa. Tiba-tiba sebuah laut yang luas pun terhampar. Raksasa terpaksa berenang dengan susah payah.
Timun Mas berlari lagi. Tapi kemudian Raksasa hampir berhasil menyusulnya. Timun Mas kembali mengambil benda ajaib dari kantungnya. Ia mengambil segenggam cabai. Cabai itu dilemparnya ke arah raksasa. Seketika pohon dengan ranting dan duri yang tajam memerangkap Raksasa. Raksasa berteriak kesakitan. Sementara Timun Mas berlari menyelamatkan diri.
Tapi Raksasa sungguh kuat. Ia lagi-lagi hampir menangkap Timun Mas. Maka Timun Mas pun mengeluarkan benda ajaib ketiga. Ia menebarkan biji-biji mentimun ajaib. Seketika tumbuhlah kebun mentimun yang sangat luas. Raksasa sangat letih dan kelaparan. Ia pun makan mentimun-mentimun yang segar itu dengan lahap. Karena terlalu banyak makan, Raksasa tertidur.
Timun Mas kembali melarikan diri. Ia berlari sekuat tenaga. Tapi lama kelamaan tenaganya habis. Lebih celaka lagi karena Raksasa terbangun dari tidurnya. Raksasa lagi-lagi hampir menangkapnya. Timun Mas sangat ketakutan. Ia pun melemparkan senjatanya yang terakhir, segenggam terasi udang. Lagi-lagi terjadi keajaiban. Sebuah danau lumpur yang luas terhampar. Raksasa terjerembab ke dalamnya. Tangannya hampir menggapai Timun Mas. Tapi danau lumpur itu menariknya ke dasar. Raksasa panik. Ia tak bisa bernapas, lalu tenggelam.
Timun Mas lega. Ia telah selamat. Timun Mas pun kembali ke rumah orang tuanya. Ayah dan Ibu Timun Mas senang sekali melihat Timun Mas selamat. Mereka menyambutnya. “Terima Kasih, Tuhan. Kau telah menyelamatkan anakku,” kata mereka gembira.
Sejak saat itu Timun Mas dapat hidup tenang bersama orang tuanya. Mereka dapat hidup bahagia tanpa ketakutan lagi.

GOLDEN CUCUMBERS
In ancient times, there lived a husband and wife farmers. They lived in a village near the forest. They live happily. Unfortunately they have not only blessed with a child.
Every day they pray to the Almighty. They prayed for a child immediately given. One day a giant pass their homes. The giant heard the prayer of husband and wife. It then gives them a giant cucumber seeds.
"Plant these seeds. You'll get a girl, "said Giant. "Thank you, Giant," said the husband and wife. "But there are conditions. At the age of 17 years of the child should you leave me, "said Giant. Husband and wife were very long for a child. Therefore, without thinking they agree.
Husband and wife farmers then plant the seeds of cucumbers that. Every day they take care of the plants begin to grow it as good as possible. Months later grew a golden cucumbers.
Cucumber fruit is becoming increasingly large and heavy. When the fruit is ripe, they picked it. With their carefully cut the fruit. How shocked they were, in the fruit that they find a very beautiful baby girl. Husband and wife were very happy. They gave the baby name Golden Cucumbers.
Year after year passed. Mas cucumber grown into a beautiful girl. His parents are very proud of him. But they became very afraid. Because the birthday of the Cucumber Mas-17, the giant came back. Menangih giant promises to take Golden Cucumbers.
The farmer was trying to calm down. "Wait a minute. Golden Cucumbers is playing. My wife will call, "he said. The farmer soon see his son. "My children, take this," he said, handing her a cloth bag. "This will help you fight the Giant. Now run as fast as possible, "he said. So Golden Cucumbers soon escape.
Husband and wife were saddened by the departure of Golden Cucumbers. But they are not willing to have his son become giant meal. Giants waited long enough. He became impatient. He knew, had lied to the husband and wife. Then he destroyed the farmer's cottage. Then he went after the Golden Cucumbers to the forest.
Giant immediately ran after Golden Cucumbers. Giants closer. Golden Cucumbers. Soon took a handful of salt from the cloth bag. Then the salt was sown into the Giants. Suddenly a wide sea was lying. Giants forced to swim with difficulty.
Golden Cucumbers raced again. But then the giant almost caught up with him. Golden Cucumbers again took the magical objects from his pocket. He took a handful of chili. Chili was thrown toward the giant. Instantly a tree with branches and sharp thorns giant trap. Giant screamed in pain. While Cucumber Mas ran for my life.
But the Giants really strong. He was again nearly captured Golden Cucumbers. So Golden Cucumbers took out third magical objects. He spread the seeds of cucumber magic. Instantly grow very large garden of cucumbers. Giant is very tired and hungry. He also ate cucumber-fresh cucumbers it with gusto. Because of too much eating, sleeping giant.
Golden Cucumbers again fled. He ran hard. But over time the energy runs out. More woe again because giant woke from his sleep. Giants once again nearly caught him. Mas cucumber very frightened. He also threw his weapon of last, a handful of shrimp paste. Again, a miracle occurred. A wide lake mud unfold. The giant fell into it. His hands almost reach Golden Cucumbers. But it pulled into the mud of the lake bottom. Giant panic. He could not breathe, then submerged.
Golden Cucumbers relief. He has survived. Cucumber Diamond went back to his parents' house. Mom and Dad love to see Cucumbers Golden Cucumbers survived.
They greet him. "Thank You, God. You have saved my son, "they said happily.
Since then Golden Cucumbers to live quietly with his parents. They can live happily without fear again.

KERA DAN AYAM
Pada jaman dahulu, tersebutlah seekor ayam yang bersahabat dengan seekor kera. Namun persahabatan itu tidak berlangsung lama, karena kelakuan si kera. Pada suatu petang Si Kera mengajak si ayam untuk berjalan-jalan. Ketika hari sudah petang si Kera mulai merasa lapar. Kemudian ia menangkap si Ayam dan mulai mencabuti bulunya. Si Ayam meronta-ronta dengan sekuat tenaga. Akhirnya, ia dapat meloloskan diri.
Ia lari sekuat tenaga. Untunglah tidak jauh dari tempat itu adalah tempat kediaman si Kepiting. Si Kepiting adalah teman sejati darinya. Dengan tergopoh-gopoh ia masuk ke dalam lubang kediaman si Kepiting. Disana ia disambut dengan gembira. Lalu Si Ayam menceritakan semua kejadian yang dialaminya, termasuk penghianatan si Kera.
Mendengar hal itu akhirnya si Kepiting tidak bisa menerima perlakuan si Kera. Ia berkata, “marilah kita beri pelajaran kera yang tahu arti persahabatan itu.” Lalu ia menyusun siasat untuk memperdayai si Kera. Mereka akhirnya bersepakat akan mengundang si Kera untuk pergi berlayar ke pulau seberang yang penuh dengan buah-buahan. Tetapi perahu yang akan mereka pakai adalah perahu buatan sendiri dari tanah liat.
Kemudian si Ayam mengundang si Kera untuk berlayar ke pulau seberang. Dengan rakusnya si Kera segera menyetujui ajakan itu. Beberapa hari berselang, mulailah perjalanan mereka. Ketika perahu sampai ditengah laut, mereka lalu berpantun. Si Ayam berkokok “Aku lubangi ho!!!” Si Kepiting menjawab “Tunggu sampai dalam sekali!!”
Setiap kali berkata begitu maka si ayam mencotok-cotok perahu itu. Akhirnya perahu mereka itu pun bocor dan tenggelam. Si Kepiting dengan tangkasnya menyelam ke dasar laut. Si Ayam dengan mudahnya terbang ke darat. Tinggallah Si Kera yang meronta-ronta minta tolong. Karena tidak bisa berenang akhirnya ia pun mati tenggelam.

APES AND CHICKEN
In antiquity, there was a chicken in a friendly with a monkey. But the friendship did not last long, because the behavior of the monkeys. One evening The Apes took the chicken for a walk. When it was evening the monkeys began to feel hungry. Then he caught the chicken and start pulling feathers. The Chicken thrashed with a vengeance. Finally, he can escape.
He ran hard. Fortunately, not far from where it was the residence of the Crab. The Crab is a true friend of him. With he rushed into the residence of the Crab hole. There he was greeted with joy. Then The Chicken tell all the events that happened, including the betrayal of the Apes.
Hearing this the end of the Crab could not receive treatment of the Apes. He said, "let us give lessons ape who knew the meaning of friendship." Then he composed for the deceptive tactics of the Apes. They finally agreed to invite the monkey to go sailing to the island across the full with fruits. But the boat they will use is a homemade boat out of clay.
Then the chicken to invite the monkey to sail to the island opposite. With the greed of the Apes was immediately approved the invitation. A few days ago, begin their journey. When the boat until the middle of the sea, they then berpantun. The chickens crowed "I holes ho!" The Crab replied "Wait until the once!"
Every time you say that it is the chicken-pecker mencotok boat. Eventually they too leaky boat and drowned. The Crab with tangkasnya dive to the seabed. The Chicken with easy fly to land. Stay The Apes who thrashed out for help. Being unable to swim he finally drowned.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar