Jumat, 14 Januari 2011

SINOPSIS NOVEL 20 - AN DAN 60 - AN

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT. Semoga kita selalu menjadi hamba – Nya yang bersyukur, karena dia maha pemberi nikmat.
Pembuatan makalah ini untuk memenuh tugas sejarah sastra. Makalah ini dibuat untuk mengetahui perbedaan novel angkatan 20-45 dan novel angkatan 45-80.
Oleh karena itu novel ini dibuat untuk mengetahui mengetahui isi, sinopsis dan perbedaan dari kedua novel beda angkatan tersebut. Ini juga dapat menjadi pengetahuan tersendiri untuk mahasiswa.

Cirebon, …. Januari 2011



Penyusun,




BAB I
ISI NOVEL

Katak Hendak jadi lembu merupakan karya roman Angkatan Pujangga baru. Roman ini termasuk roman kejiawaan yang cukup mendapat perhatian dari berbagai kalangan sastrawan tanah air. Roman ini hasil karya Nur Sutan Iskandar,pertaman kali terbit tahun 1935 yang diterbitkan oleh PN. Balai Pustaka.
Dalam novel ini, Nur Sutan Iskandar mengambil tema cerita tentang masalah bangsawan sunda yang tidak mau bekerja keras dan bangga terhadap kebangsawanannya. Atau permasalahan manusia yang suka berbuat sesuatu atau mengharapkan sesuatu diluar batas kemampuannya.
Novel Katak Hendak jadi lembu karya Nur Sutan Iskandar menceritakan sebuah cerita yang berlatar belakang masyarakat bangsawan Sunda. Tempat kejadiannya adalah bandung, sumedang, Cirebon dan Tasikmalaya Jawa Barat.
Dalam novel ini Dari Hari ke Hari karya H. Mahbub Junaidi mengambil tema cerita tentang masalah nasib rakyat akibat gejolak perang yang tidak pernah berhenti dari hari kehari di Bumi Indonesia ini, yaitu perang melawan tentara Kolonial Belanda dan perang melawan pemberontak bangsa sendiri.
Novel Dari Hari ke Hari karya H. Mahbub Junaidi menceritakan sebuah cerita yang terjadi pada masa pergolakan diawal kemerdekaan Indonesia 1954 sampai tahun 1950. Pergolakan itu disebabkan oleh datangnya agresi Belanda kedua dan munculnya pemberitaan Muso, DI / TII.

BAB II
SINOPSIS NOVEL

2.1. KATAK HENDAK JADI LEMBU ( NOVEL ANGKATAN 20 - AN )
• Tokoh – tokoh
1. Zakaria; seorang haji yang kaya raya
2. Suria; anak H. Zakaria
3. H. Hasbullah; sahabat H. Zakariah
4. Zubaedah; putrid tunggal H. Hasbullah
5. Raden Prawira; seorang mantra polisi
6. Abdul Halim; anak perkawinan Suriah dan Zubaedah
Dengan berat hati H. Hasbullah menerima lamaran H. Zakaria yang hendak mengambil Zubaedah sebagai istri anaknya yang bernama Suria. H. hasbullah merasa berat menerima lamaran itu sebab dia sudah mempunyai calon bagi puterinya, yaitu Raden Prawira, seorang mantra polisi.
Kekhawatiran H. Hasbullah benar-benar terjadi. Walaupun sudah berkeluarga, sifat dan tingkah laku Suria tidak berubah. Apalagi setelah ayahnya meninggal, kerjanya hanya berfoya-foya menghabiskan harta warisan ayahnya. Istrinya tidak pernah diperhatikan. Bahkan, selama 3 tahun, dia meninggalkan istrinya yang sedang mengandung. Dia tidak mengetahui ketika istrinya melahirkan Abdul Halim anak pertamanya. Suria kembali kerumahnya setelah harta warisan ayahnya habis.
Sesampai dirumah, Suria menyembah istrinya, memohon maaf atas kelakuannya dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya yang tidak terpuji itu dan permohonan maafnya dikabulkan oleh istrinya.
Untuk sementara waktu, tingkah laku Suriah berubah, Dia bekerja sebagai juru tulis presiden di kabupaten dengan penghasilan pas-pasan, yang tidak mencukupi biaya hidup sehari-hari keluarganya.
Lama kelamaan sifat dan karakter buruknya muncul kembali. Perasaan bangga bahwa dirinya berasal dari keturunan bangsawan yang kaya raya muncul lagi. Dia tidak mau kalah dengan mertuanya yang telah menyekolahkan Abdul Halim ke HBS. Dengan memaksakan dirinya, walaupun gaji pas-pasan, Suria mengirim Saleh dan Aminah, kedua adik Abdul Halim bersekolah di HIS Bandung.
Perbuatannya yang terasa sangat dipaksakan tersebut membuat Zubaedah pusing. Mereka tidak mempunyai biaya yang cukup. Jangankan untuk membiayai sekolah kedua anaknya di HIS, untuk makan sehari-hari saja mereka mengalami kesulitan.
Akibat kelakuan suaminya, Zubaedah mengeluh kepada ayahnya H. Hasbullah. Secara diam-diam, dia meminta kiriman uang dari ayahnya. Uang itu digunakan untuk memenuhi biaya kehidupan sehari-hari, biaya sekolah kedua anaknya serta membayar utang-utangnya.
Tak lama lagi Suria akan diangkat menjadi juru tulis. Dia telah melamar untuk jabatan tersebut dan tinggal menunggu waktu saja. Dia sangat yakin bahwa lamarannya itu kan diterima.
Karena keyakinannya itulah Suria dengan diam-diam telah memakai uang kas kantornya. Karena kelakuannya tersebut kemudian diketahui oleh atasannya. Namun sebelun ditegur oleh atasannya, dia telah mengajukan berhenti bekerja. Setelah Suria berhenti bekerja, dia pergi kerumah anaknya Abdul Halim. Sesuai dengan rencananya Suria dan istrinya langsung pidah kerumah Abdul Halim.
Perangai Suria selama dirumah anaknya itu sangat buruk, sehingga Zubaedah istrinya Suria sangat merasa malu terhadap tingkah laku Suaminya itu. Rumah tangga anaknya berantakan akibat ulah dari Suria. Karena tidak tahan menahan tekanan batin, akhirnya Zubae dah jatuh sakit dan tidak lama kemudian, Zubaedah meninggal dunia dengan membawa hati yang penuh dengan duka nestapa.
Setelah kematian istrinya akhirnya menbuat Suria sadar. Dia menyesali segala kelakuan yang telah melampaui batas ini. Dan Suria pun meutuskan untuk meninggalkan keluarga anaknya dan pergi entah kemana. Suria pergi dengan membawa segala sifat kesombongan dan keahkuhannya.
2.2. DARI HARI KEHARI ( NOVEL ANGKATAN 60 - AN )
• Tokoh-tokoh
1. Pak Muhammad Junaidi; Pegawai Mahkama Islam Tinggi
2. Bocah Kecil; anak Pa. Moh. Junaidi
3. Raden Mas X; Seorang bangsawan keraton yogyakarta
4. Moh. Aliwi; bapak Moh. Junaidi
5. Sersan Husni; Seorang pejuang RI
Dalam novel Dari Hari ke Hari menceritakan dirinya yang saat itu sebagai pegawai pemerintah, Pak Junaidi terpaksa ikut kemanapun pemerintah berada. Ketika Jakarta dikuasai Belanda pada agresi Belanda kedua, pusat pemerintahan Indonesia pindah ke suatu daerah yaitu daerah Yogyakarta.
Pada saat itu, kantor Pak Junaidi, yaitu Jawatan Mahkama Islam Tinggi Pindak ke Solo jawa tengah. Dia dan seluruh keluarganya pun pindah ke Solo.
Setelah pindak ke Solo, Si Bocah akhirnya masuk sekolah Muhammadiyah dan sebulan kemudian, dia pindah ke sekolah negeri no 27, dia senang bersekolah walaupun keadaannya sangat memprihatinkan dan sepulang sekolah pun dia bersekolah agama. Pada malam harinya dia mengaji.
Keadaan Indonesia masih tetap sama, baik sewaktu keluarga Pak Junaidi berada di Jakarta maupun di Solo. Hampir setiap hari Si Bocah Kecil menyaksikan tentara-tentara yang memikul senjata. Apalagi setelah TNI yang berasal dari Jawa Barat tiba di Jawa Tengah. Si Bocah tidak sedikitpun terpengaruh oleh kenyataan itu.

BAB III
BERBEDAAN NOVEL
( ANGKATAN 20 – AN DAN ANGKATAN 60 – AN )

• Dari segi tema angkatan 20 – an lebih menekankan pada kritikan terhadap pemerintahan orde lama yang gagal dalam mensejahterakan rakyat Indonesia dan gagalnya pemerintahan menciptakan stabilitas keamanan didalam negeri sehingga banyak daerah yang memberontak.
• Angkatan 60 – an lebih menekankan kritikan terhadap demokrasi yang tidak berjalan dan hegemoni birokrat dalam setiap bidang serta ketidakmampuan pemerintahan orde baru dalam menciptakan stabilisasi ekonomi.
• Dalam penggunaan bahasa pada angkatan 20 – an lebih sopan dan tidak menggunakan bahasa-bahasa yang bersifat sehari-hari (informal).
• Pada angkatan 60 – an penggunaan bahasa lebih bebas dan menggunakan bahasa yang informal.
• Dalam penciptaan karya sastra angkatan 20 – an lebih mudah dipahami karena masih memakai aturan-aturan yang ada dalam penciptaan karya sastra,
• Sedangkan dalam Penciptaan karya sastra angkatan 60 – an karya sastra yang dihasilkan seolah mendobrak tradisi yang ada dan cenderung lebih bersifat kontemporer.

BAB IV
PENUTUP

Dari pembahasan diatas bisa diambil beberapa kesimpulan mengenai perbandingan karya sastra angkatan 20 – an dan karya sastra angkatan 60 – an, yaitu :
Puisi maupun drama yang dihasilkan sama-sama berisi kritikan terhadap pemerintah, dan puisi yang dihasilkan kebanyakan puisi demonstrasi dan lebih condong menghasilkan dua buah jenis puisi yaitu puisi keagamaan dan puisi demonstrasi.
Kedua angkatan ini, sama-sama mengalami masa transisi antara pemerintahan orde lama ke pemerintahan orde baru.
Puisi dan drama pada angkatan 60 - an lebih banyak yang berjenis kontemporer. Isi puisi dan prosa angkatan 60 – an berisi imajinasi yang sulit dipahami karena perencanaan tema, alur dan sebagainya absurd.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar