Selasa, 11 Januari 2011

MAKALAH FONOLOGI

KATA PENGANTAR


Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan yang maha esa, atas rahmat dan hidayahnya sehingga saya dapat membuat dan menyelesaikan tugas ini
Tugas ini disusun untuk diajukan sebagai tugas mata kuliah Fonologi dengan judul “ FONOLOGI ”. Harapan saya, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pendidikan pada umumnya dan pendidikan linguistik pada khususnya.
Demikianlah tugas ini saya susun, saya menyadari masih banyak terdapat kekurangan dalam penyusunan tugas ini, kepada para mahasiswa jurusan bahasa dan sastra Indonesia serta Dosen yang telah membimbing dalam pembuatan makalah ini, saya ucapkan terima kasih.

Cirebon, ... Januari 2011



Penyusun



DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1. RUMUSAN MASALAH
1.2. TUJUAN
1.3. KEGUNAAN
BAB II PEMBAHASAN
2.1. FONOLOGI
2.2. FONETIK
2.3. SEGMENTAL
2.4. FONEMIK
BAB II PENUTUP
A. KESIMPULAN
B. SARAN


BAB I
PENDAHULUAN

1.1. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, penulis mengajukan beberapa rumusan masalah sebagai berikut :
1. Apa Pengertian Tentang Fonologi ?
2. Apa saja Pengertian Tentang Fonetik ?
3. Apa saja bagian-bagian dari Segmental ?
4. Apa saja yang Termasuk dalam Bagian Fonemik?
1.2. TUJUAN
Tujuan yang hendak dicapai melalui penulis laporan buku ini adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan :
1. Mengetahui Pengertian Tentang Fonologi ?
2. Memahami Pengertian Tentang Fonetik ?
3. Mengetahui bagian-bagian dari Segmental ?
4. mengetahui Termasuk dalam Bagian Fonemik?
1.3. KEGUNAAN
Laporan buki ini diharapkan mampu memiliki kegunaan baik secara teoritis maupun secara praktis. Secara teoritis diharapkan laporan buku ini menambah khazanah tentang ilmu bahasa Linguistik. Sedangkan secara praktis laporan buku ini menambah pengetahuan, wawasan dan ilmu bagi penulis maupun pembaca.


BAB II
PEMBAHASAN

A. FONOLOGI
Fonologi adalah ilmu tentang perbendaharaan fonem sebuah bahasa dan distribusinya.
Fonologi berbeda dengan fonetik. Fonetik mempelajari bagaimana bunyi-bunyi fonem sebuah bahasa direalisasikan atau dilafazkan. Fonetik juga mempelajari cara kerja organ tubuh manusia, terutama yang berhubungan dengan penggunaan bahasa. Terdiri dari, huruf vokal, konsonan, diftong (vokal yang ditulis rangkap), dan kluster (konsonan yang ditulis rangkap)
B. FONETIK
Fonetik atau fonetika adalah bagian ilmu dalam linguistik yang mempelajari bunyi yang diproduksi oleh manusia. Di sisi lain fonologi adalah ilmu yang berdasarkan fonetik dan mempelajari sistem fonetika.
International Phonetic Association (IPA) telah mengamati lebih dari 100 bunyi manusia yang berbeda dan mentranskripsikannya dengan International Phonetic Alphabet mereka.
a. Sejarah Fonetik
Ilmu fonetika pertama kali dipelajari sekitar abad ke-5 SM di India Kuna oleh Pāṇini, sang resi yang mempelajari bahasa Sansekerta. Semua aksara yang berdasarkan aksara India sampai sekarang masih menggunakan klasifikasi Panini ini, termasuk beberapa aksara Nusantara. Tulisan Yunani Kuno dinobatkan sebagai dasar pertama penulisan lambang alfabet. Fonetika modern diawali oleh Alexander Melville Bell melalui bukunya Visible Speech (1867) yang memperkenalkan suatu sistem penulisan bunyi-bunyi bahasa secara teliti dan teratur.
Ilmu fonetik kemudian berkembang dengan pesat di akhir abad ke-19 akibat ditemukannya fonograf, yang membantu perekaman bunyi-bunyi bahasa. Berkat alat tersebut, fonetisi dapat mempelajari bunyi-bunyi bahasa dengan lebih baik, mudah, dan akurat dari sebelumnya karena alat tersebut dapat mengulang-ulang tuturan yang direkamnya sampai fonetisi dapat menganalisisnya dengan akurat. Dengan menggunakan fonograf Edison, Ludimar Hermann menyelidiki sifat-sifat spektral dalam bunyi vokoid dan kontoid. Dalam karya ilmiahnyalah istilah forman diperkenalkan. Hermann juga memutar-mutar bunyi-bunyi vokoid menggunakan fonograf Edison dalam berbagai kecepatan dalam rangka menguji teori Willis dan Wheatstone mengenai produksi bunyi vokoid.
b. Fonetika memiliki tiga cabang utama:
• fonetik artikulatoris yang mempelajari posisi dan gerakan bibir, lidah dan organ-organ manusia lainnya yang memproduksi suara atau bunyi bahasa
• fonetik akustik yang mempelajari gelombang suara dan bagaimana mereka didengarkan oleh telinga manusia
• fonetik auditori yang mempelajari persepsi bunyi dan terutama bagaimana otak mengolah data yang masuk sebagai suara
c. Fonetika Memiliki Tahapan, Proses dan Transkipsi Fonetis yaitu :
 Tahapan Komunikasi
Telah dikemukakan di depan bahwa fonetik adalah cabang fonologi yang memandang bunyi bahasa sebagai fenomena alam.Ini berarti bunyi bahasa dianggap sebagai substansi yang otonom dan universal,tanpa melihat fungsinya sebagai,misalnya,pembeda makna,pembeda maksud,dan sebagainya,walaupun secara linguistik ia merupakan “bahan mentah” bahasa.
 Proses Pembentukan Bunyi
• Bunyi apa saja,termasuk bunyi bahasa,pada dasarnya adalah getaran atas benda apa saja karena adanya energi yang bekerja.Getaran ini disadari sebagai bunyi apabila getaran itu cukup kuat dan dihantarkan ke alat dengar oleh udara sekitar. Proses pembentukan bunyi bahasa juga demikian.
1. Arus Udara
Arus udara yang menjadi sumber energi utama pembentukan bunyi bahasa merupakan hasil kerja alat atau organ tubuh yang dikendalikan oleh otot-otot tertentu atas perintah saraf-saraf otak.
2. Pita Suara
Pita suara merupakan sumber bunyi.Ia bergetar atau digetarkan oleh udara yang keluar atau masuk paru-paru. Pita suara terletak dalam kerongkongan (larynx) dalam posisi mendapatkan dari muka (anterior) ke belakang (posterior).
3. Alat-Alat Ucap
Apa yang disebut sebagai alat ucap sebenarnya mempunyai fungsi utama untuk kelangsungan hidup kita. Paru-paru mempunyai fungsi utama mengisap zat pembakar untuk disalurkan ke dalam darah dan menyalurkan zat asam arang ke luar tubuh.
Organ-organ tubuh yang dipergunakan sebagai alat ucap dapat dibagi menjadi tiga komponen, yaitu :
a. Komponen Supraglotal
b. Komponen Laring
c. Komponen Subglotal
 Transkipsi Fonetis
Transkripsi fonetis adalah perekaman bunyi dalam bentuk lambang tulis.lambang bunyi atau lambang fonetis (phonetic symbol) yang sering dipakai adalah lambang bunyi yang ditetapkan oleh The International Phonetic Assosiation (IPA),yaitu persatuan para guru bahasa yang berdiri sejak akhir abad ke-19, yang didirikan untuk mempopulerkan metode baru dalam pengajaran bahasa yang lebih menekankan pada pengajaran bahasa lisan
C. SEGMENTAL
a. Dasar Klasifikasi Bunyi Segmental
Klasifikasi bunyi segmental didasarkan berbagai macam kriteria, yaitu:
1. Ada Tidaknya Gangguan
2. Mekanisme Udara
3. Arah Udara
4. Pita Suara
5. Lubang Lewatan Udara
6. Mekanisme Artikulasi
7. Cara Gangguan
8. Tinggi Rendahnya Lidah
9. Maju – mundurnya Lidah
10. Bentuk Bibir
b. Deskripsi Bunyi Segmental Bahasa Indonesia
Bunyi segmental,baik vokoid maupun kontoid,yang diucapkan oleh penutur bahasa Indonesia sangat variatif, apalagi setelah diterapkan dalam berbagai distribusi dalam lingkungan.
c. Bunyi Suprasegmental
Telah di jelas di muka bahwa bunyi-bunyi bahasa ketika diucapkan ada yang bisa disegmen-segmenkan,diruas-ruaskan,atau dipisah-pisahkaan,misalkan semua bunyi vokoid dan kontoid.Bunyi-bunyi yang bisa disegmantasikan ini disebut bunyi segmental.Oleh para fonetisi,bunyi-bunyi suprasegmental ini di kelompokan menjadi empat jenis,yaitu yang menyangkut aspek
1. Tinggi-rendah bunyi (Nada,Tona,pitch)
2. Keras-Lemah (Tekanan,Aksen,Stress)
3. Panjang-pendek (Durasi,Duration)
4. Kesenyapan (Jeda,Juncture)
d. Bunyi Pengiring
Bunyi pengiring adalah bunyi yang ikut serta muncul ketika bunyi utama dihasilkan hal ini di sebabkan oleh ikut sertanya alat-alat ucap lain ketika alat ucap pembentuk bunyi utama di fungsikan.
e. Diftong dan Kluster
1. Diftong
Masalah diftong atau vokoid rangkap ini berhubungan dengan sonoritas atau tingkat kenyaringan suatu bunyi.ketika dua deret bunyi vokoid di ucapkan dengan satu hembusan udara,akan terjadi ketidaksamaan sonoritasnya
2. Kluster
Dalam bahasa-bahasa tertentu,bunyi kluster atau konsonan rangkap (dua atau lebih)ini merupakan bagian dari struktur fonetis atau fonotaksin yang disadari oleh penuturnya
f. Silaba ( Suku Kata )
Silaba atau suku kata sudah lama di kenal,terutama dalam kaitannya dengan sistem penulisannya.sebelum alfabet lahir,system penulisan di dasarkan atas suku kata ini,yang disebut tulisan silabar.
g. Ciri Prosodi dalam Bahasa Indonesia
 Nada
Dalam penuturan bahasa Indonesia, tinggi-rendahnya (nada) suara tidak fungsional atau tidak membedakan makna. Oleh karena itu, dalam kaitannya dengan pembedaan makna, nada dalam bahasa Indonesia tidak fonemis. Walaupun demikian,ketidakfonemisan ini tidak berarti nada tidak ada dalam bahasa Indonesia.
 Tekanan
Berbeda dengan nada, tekanan dalam tuturan bahasa Indonesia berfungsi membedakan maksud dalam tataran kalimat (sintksis), tetapi tidak berfungsi membedakan makna dalam tataran kata (leksis).
 Durasi
Tidak jauh berbeda dengan tekanan,durasi atau panjang-pendek ucapan dalam bahasa Indonesia tidak fungsional dalam tataran kata, tetapi fungsional dalam tataran kalimat
 Jeda
Jeda atau kesenyapan ini terjadi di antara dua bentuk linguistic, baik antarkalimat,antarfase, antarkata,antarmorfem, antarsilaba, maupun antarfonem.
 Intonasi
Berbeda dengan nada, intonasi dalam bahasa Indonesia sangat berperan dalam pembedaan maksud kalimat,dengan dasar kajian pola-pola intonasi ini, kalimat bahasa Indonesia dibedakan menjadi kalimat berita, kalimat Tanya, dan kalimat perintah.
h. Perubahan Bunyi Dalam Bahasa Indonesia
 Asmilasi
Asimilasi adalah perubahan bunyi dari dua bunyi yang tidak sama menjadi bunyi yang sama atau yang hampir sama. Hal ini terjadi karena bunyi-bunyi bahasa itu diucapkan secara berurutan sehingga berpotensi untuk saling mempengaruhi atau dipengaruhi.
 Dismilasi
Kebalikan dari asimilasi, disimilasi adalah perubahan bunyi dari dua bunyi yang sama atau mirip menjadi bunyi yang tidak sama atau berbeda.
 Modivikasi Volak
Modifikasi vokal adalah perubahan bunyi vokal sebagai akibat dari pengaruh bunyi lain yang mengikutinya. Perubahan ini sebenarnya bisa dimasukan kedalam peristiwa asimilasi, tetapi karena ini tergolong khas, maka perlu disendirikan.
 Netralisasi
Netralisasi adalah perubahan bunyi fonemis sebagai akibat pengaruh lingkungan.
 Zeorisasi
Zeorisasi adalah penghilangan bunyi fonemis sebagai akibat upaya penghematan atau ekonomisasi pengucapan.
 Metatesis
Metatesis adalah perubahan urutan bunyi fonemis pada suatu kata sehingga menjadi dua bentuk kata yang bersaing.
 Diftongisasi
Diftongisasi adalah perubahan bunyi vokal tunggal (monoftong) menjadi dua bunyi vokal atau vokal rangkap (diftong) secara berurutan.
 Monoftongisasi
Kebalikan dari diftongisasi adalah monoftongisasi,yaitu perubahan dua bunyi vokal atau vokal rangkap (diftong) menjadi vokal tunggal (monoftong).
 Anaptiksis
Anaptiksis atau suara bakti adalah perubahan bunyi dengan jalan menambahkan bunyi vokal tertentu di antara dua konsonan untuk memperlancar ucapan.
D. FONEMIK
a. Fonem dan Jenisnya
Fonem adalah kesatuan bunyi terkecil suatu bahasa yang berfungsi membedakan makna.
b. Dasar-dasar Analisis Fonem
Dasar-dasar analisis fonem adalah pokok-pokok pikiran yang dipakai sebagai pegangan untuk menganalisis fonem-fonem suatu bahasa.
Pokok-pokok pikiran atau premis-premis yang dimaksud adalah sebagai berikut.
1. Bunyi-bunyi Suatu Bahasa Cenderung Dipengaruhi oleh Lingkungannyan
2. Sistem Bunyi Suatu Bahasa Berkecenderungan Bersifat Simetris
3. Bunyi-bunyi Suatu Bahasa Cenderung Berfluktuasi
4. Tidak Berkontras Apabila Berdistribusi Komplementer dan/atau Bervariasi Bebas
5. Bunyi-bunyi yang Mempunyai Kesamaan Fonetis Digolongkan ke Dalam Fonem yang Berbeda
6. Apabila Berkontras Dalam Lingkungan yang Sama atau Mirip.
c. Prosedur Analisis Fonem
Banyak variasi langkah atau prosedur yang dilakukan para linguis dalam analisis fonem terhadap bahasa yang diteliti.
• Pertama ,mencatat korpus data setepat mungkin dalam transkripsi fonetis.
• Kedua ,mencatat bunyi yang ada dalam korpus data ke dalam peta bunyi.
• Ketiga, memasangkan bunyi-bunyi yang dicurigai karena mempunyai kesamaan fonis.
• Keempat, mencatat bunyi-bunyi selebihnya karena tidak mempunyai kesamaan fonetis.
• Kelima, mencatat bunyi-bunyi yang berdistribusi komplementer.
• Keenam, mencatat bunyi-bunyi yang bervariasi bebas.
• Ketujuh, mencatat bunyi-bunyi yang berkontras dalam lingkungan yang sama (identis).
• Kedelapan, mencatat bunyi-bunyi yang berkontras dalam lingkungan yang mirip (analogis).
• Kesembilan, mencatat bunyi-bunyi yang berubah karena lingkungan.
• Kesepuluhan, mencatat bunyi-bunyi dalam inventori fonetis dan fonemis, condong menyebar secara simetris.
• Kesebelas, mencatat bunyi-bunyi yang berfluktuasi.
• Kedua belas, mencatat bunyi-bunyi selebihnya sebagai fonem tersendiri.
d. Klasifikasi Fonem Bahasa Indonesia
Pengklasifikasian fonem bahasa Indonesia didasarkan pada pola pengklasifikasian bunyi yang biasa dilakukan oleh fonetisi.Perlu diingat pula bahwa karena fonem merupakan penamaan sistem bunyi yang membedakan makna, maka jumlah fonem tentu lebih sedikit dari bunyi-bunyi yang ada.
e. Distribusi Fonem Bahasa Indonesia
Dalam pemakaiannya,fonem-fonem bahasa Indonesia menyebar ke posisi onset silaba, nuklus silaba, dan koda silaba. Posisi onset diduduki fonem vocal.
f. Realisasi Fonem Bahasa Indonesia
Selama ini,penelitian fonem bahasa Indonesia yang dilakukan oleh para ahli bahasa atau linguis kita didasarkan atas korpus data yang beragam. Mengingat bahwa pada kenyataannya perkembangan bahasa Indonesia tidak bisa terhindar dari pengaruh unsure serapan, analisis fonem bahasa Indonesia sebaiknya juga memperhatikan korpus data dari kata-kata serapan.
g. Fonem dan Grafem Bahasa Indonesia
Grafem atau sistem pelambangan bunyi – alih-alih disebut sistem ejaan – ini ada dua macam,yaitu grafem yang mengikuti sistem fonetis dan grafem yang mengikuti sistem fonemik.


BAB III
PENUTUP


1.1. KESIMPULAN
Fonologi adalah ilmu tentang perbendaharaan fonem sebuah bahasa dan distribusinya
Fonetik atau fonetika adalah bagian ilmu dalam linguistik yang mempelajari bunyi yang diproduksi oleh manusia. Di sisi lain fonologi adalah ilmu yang berdasarkan fonetik dan mempelajari sistem fonetika.
International Phonetic Association (IPA) telah mengamati lebih dari 100 bunyi manusia yang berbeda dan mentranskripsikannya dengan International Phonetic Alphabet mereka.
1.2. SARAN
Apabila dalam penulisan makalah ini ada kesalahan, saya atas nama penulis memohon untuk memberikan kritik, saran dan masukannya yang bersifat untuk membangun agar menuju kepada kesempurnaan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar